Ustad Yusuf Mansur Dinilai sebagai Agen Kapitalisme, Menyudutkan Orang Miskin

  • Ustadz Yusuf Mansur Disemprot Soal Orang Miskin itu Kurang Ibadah
  • Ustadz macam ini perlu ngaji.

Apakah sebagai Ustadz tidak pernah mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.
“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Pantas saja ketika omongan Ustadz YM justru sangat bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka langsung disemprot orang.

 

Silakan simak ini.

***

Ustadz Yusuf Mansur Disemprot Soal Orang Miskin itu Kurang Ibadah


Ustaz Yusuf Mansur dikritik oleh warganet gara-gara ceramahnya di televisi soal orang miskin itu kurang ibadah. Komentar ini makin menyakitkan bagi orang miskin, sebab secara struktural ditindas makin dilegitimasi dengan komentar ustaz gitu.

 

Saking gusarnya, Ustad Yusuf Mansur dinilai sebagai agen kapitalisme lho karena menyudutkan orang miskin. Padahal nasib orang miskin kalau lebih fair ya mestinya dilihat dari pendekatan sistem bukan teologi.

 

Yusuf Mansyur soal orang miskin

 

Kritikan pada Ustaz Yusuf Mansur ini keluar dari penulis Feby Indirani di akun Twitternya. Si penulis ini mengkritisi cara berpikir ustaz yang terkenal dengan ajakan sedekah ini, dalam melihat orang miskin.

 

“Ustaz kondang Yusuf Mansyur baru saja bilang di Metro TV, ‘Mohon maaf nih, kalau Anda miskin, coba cek, pasti Anda kurang ibadah’. Kasian banget kaum miskin di negara ini ya, sdh ditindas struktur disalahkan ustaz kaya raya pulak,” tulis Feby mengawali utasannya di Twitter, Jumat 16 April 2021.

 

Menurut Feby apa yang disampaikan Ustaz Yusuf Mansur ini beda dengan visi Rasulullah yang berusaha mewujudkan keadilan.

 

“Ustaz @Yusuf_Mansur malah jadi agen kapitalisme yg menyalahkan orang miskin melulu. Astaghfirullah. Pdhl org miskin kerap tdk bs keluar dr kemiskinan krn kebijakan2 dan sistem belum berpihak pd mereka,” katanya.

 

Utasan ini dibalas oleh akademisi NU, Akhmad Sahal. Dia menilai konsep berpikir Ustaz Yusuf Mansur itu keliru, miskin itu nggak bukan melulu dimaknai dengan urusan materi saja lho. Malahan, tulis, Gus Sahal, Nabi Muhammad SAW justru meminta diwafatkan dalam keadaan miskin.

 

“Padahal Nabi pernah berdoa: Ya Allah hidupkan dan matikan aku dlm keadaan miskin. Dan kumpulkan diriku (di hari kiamat) bersama orang2 miskin. Banyak ulama mengartikan “miskin” di sini sbg humble, tawadhu’, rendah hati. Ust YM jelas keliru. Miskin gak lantas kurang ibadah,” tulis Gus Sahal.

 

Miskin nggak ada urusan kurang ibadah

 

Feby berpendapat orang miskin nggak ada kaitannya dengan kurang ibadah. Dia teringat dengan mantan asisten rumah tangganya, dia menjadi saksi pembantunya itu siang malam nggak pernah tinggalkan ibadah.

 

Namun sampai wafatnya, si asisten rumah tangga itu nggak bisa memenuhi keinginannya yang diidamkan yaitu naik haji.

 

“Jadi inget almarhumah mantan PRT di rmh, yg taat bgt, semua ibadah wajib dan sunnah dikerjakan. Keinginannya cm 1 pengen bs haji, dan tiap thn manasik pdhl gak tau kapan berangkat,” tulis dia.

 

Dari kisah asisten rumah tangganya itu, nyatanya kadang orang rajin beribadah saja masih belum tentu keinginannya terpenuhi.

 

“Smp beliau wafat, cita2 berhaji gak kesampaian. Udah ibadah sebaik2nya, sekuat tenaga, masih miskin tuh seumur hidup. Dan Ustaz Yusuf Mansyur enteng aja bilang “orang miskin itu krn kurang ibadah,” jelasnya.[hops]

[PORTAL-ISLAM.ID] Jumat, 16 April 2021 BERITA NASIONAL

***

Bandingkan ungkapan Yusuf Mansur dengan berita dan ulasan berikut ini.

***

Tak Mampu Bayar Kontrakan, Sekeluarga Tinggal di Masjid Sampai Meninggal

Posted on 4 Mei 2020

by Nahimunkar.org

Tak Mampu Bayar Kontrakan, Sekeluarga Tinggal di Masjid Sampai Meninggal

 
 

Satu keluarga di Pasuruan tinggal di masjid karena tidak mampu bayar kontrakannya. Mereka hidup susah, sampai Agus Hasan Al Mahdi (54) kepala keluarga mereka meninggal dunia.

 
 

Agus Hasan Al Mahdi meninggal dunia karena sesak nafas. Mereka adalah warga Desa Pesanggrahan RT 07 RW 02 Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember. Agus Hasan Al Mahdi meninggal mendadak di dalam Masjid Baitus Sholikhin Desa Kedungcangkring Kecamatan Jabon .

 
 

Korban sebelumnya diketahui sudah tinggal di masjid yang terdampak luapan lumpur itu sejak 23 April 2020 bersama isteri dan empat anaknya.

 
 

Korban meninggalkan rumah tinggal sebelumnya di Desa Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Karena tidak bisa membayar kontrakan anggota keluarga itu akhirnya memilih tinggal di Masjid Baitus Sholikhin, seizin takmir masjid setempat yaitu Ustad Mudakir.

 
 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, malamnya sebelum meninggal, korban sempat mengeluh sakit dada (sesak nafas) kepada istri dan anak anaknya.

 
 

Kemudian istrinya sempat menawarkan minum namun di tolak oleh korban. SL (istri korban) ke belakang hendak membuatkan minum namun tiba-tiba terdengar suara sesak nafas dan setelah dilihat korban sudah meninggal dunia.

 
 

“Isteri korban kemudian melaporkan dan memanggil Ustad Mudakir untuk melihat suaminya dan sudah dinyatakan meninggal dunia,” ucap Lailatin kepada petugas.

 
 

 

 
 

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menyatakan, dari keterangan isteri korban, bahwa almarhum pernah menderita TBC Paru.

 
 

“Sebuah thorax PA dan hasil dari pemeriksaan laboratorium klinik Tanjung Gempol Pasuruan, beserta hasilnya menyatakan korban mengidap penyakit TB Paru,” terang Sumardji soal rekam medis korban, Sabtu (3/5/2020).

 
 

Dalam penanganan korban, tim medis juga melakukan sesuai SOP. Yakni korban dievakuasi oleh tim medis menggunakan alat pelindung diri (APD). (*)

 
 

Gelora News 
2 Mei 2020

***

 
 

Keutamaan Mencintai Orang Miskin

 
 

Pertama: Mencintai orang miskin termasuk kebaikan

 
 

Mencintai orang miskin termasuk kebaikan. Dalam do’a yang diajarkan di atas, mencintai orang miskin disebutkan secara tersendiri dan ini menunjukkan pentingnya amalan ini, di samping menunjukkan kemuliaannya.

 
 

Kedua: Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka akan memudahkan hisab seorang muslim pada hari kiamat

 
 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

 
 

“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat ” (HR. Muslim no. 2699).

 
 

Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a agar bisa menjadi bagian dari orang miskin (karena tawadhu’nya beliau) bahkan bisa berkumpul dengan mereka di hari kiamat karena orang miskin-lah yang mudah dihisab di hari kiamat. Mereka tidak memiliki banyak harta dibanding orang kaya, sehingga mereka lebih dahulu masuk surga. Bukti bahwa sedikit harta akan sedikit hisabnya adalah pada hadits Mahmum bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقُلُّ لِلْحِسَابِ

 
 

“Dua hal yang tidak disukai oleh manusia: kematian, padahal kematian itu baik bagi muslim tatkala fitnah melanda, dan yang tidak disukai pula adalah sedikit harta, padahal sedikit harta akan menyebabkan manusia mudah dihisab (pada hari kiamat)” (HR. Ahmad 5: 427. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

 
 

Ketiga: Dekat dengan orang miskin berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat

 
 

Dalam hadits Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

قَالَ « اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَأَمِتْنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لاَ تَرُدِّى الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّى الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

 
 

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku bersama dengan orang-orang miskin pada hari kiamat”. ‘Aisyah berkata, “Mengapa –wahai Rasulullah- engkau meminta demikian?” “Orang-orang miskin itu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya. Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi no. 2352. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lihatlah bagaimana sampai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong ‘Aisyah untuk mencintai dan dekat dengan orang miskin. Karena keutamaannya, seseorang akan semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat. Namun patut diingat, Mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, yaitu dengan membantu dan menolong mereka. Jadi bukan hanya sekedar dekat dengan mereka.

 
 

Catatan: Adapun maksud do’a yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah agar Allah Ta’ala memberikan sifat tawadhu` dan rendah hati, serta agar tidak termasuk orang-orang yang sombong lagi zhalim maupun orang-orang kaya yang melampaui batas. Makna hadits ini bukanlah meminta agar beliau menjadi orang miskin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah, bahwa kata “miskin” dalam hadits di atas adalah tawadhu’. Sebab, di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kefakiran.

 
 

Keempat: Mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah

 
 

Para ulama menjelaskan bahwa mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah. Karena orang miskin tidaklah memiliki materi dibanding orang kaya. Namun seseorang harus mencintai si miskin itu karena Allah, artinya semakin si miskin itu beriman, ia pun semakin menaruh cinta padanya. Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ

 
 

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi juga karena-Nya, maka ia telah sempurna imannya” (HR. Abu Daud no. 4681, Tirmidzi no. 2521, dan Ahmad 3: 438. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 
 

Kelima: Mencintai orang miskin termasuk dalam wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

 
 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat pada Abu Dzar Al Ghifari di mana Abu Dzar berkata,

 
 

أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

 
 

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau menasehatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 
 

Keenam: Memperjuangkan kehidupan orang miskin termasuk jihad di jalan Allah

 
 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ.

 
 

“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus” (HR. Muslim no. 2982).

 
 

Ketujuh: Menolong orang miskin akan mudah memperoleh rizki dan pertolongan Allah, serta akan mudah mendapatkan barokah do’a mereka

 
 

Dengan menolong orang-orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits disebutkan bahwa Sa’ad menyangka bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

 
 

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”

(HR. Bukhari no. 2896).

 
 

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

 
 

“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka”

(HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 
 

Ibnu Baththol berkata, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyu’ karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain kecuali dekat pada Allah saja. Amalan mereka bersih dan do’a mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin yang lain” (Lihat Syarh Al Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114).

 
 

Kedelapan: Memiliki sifat tawadhu’ dan qona’ah

 
 

Orang yang mencintai si miskin akan memberikan pengaruh baik pada dirinya yaitu semakin tawadhu’ (rendah diri) dan selalu merasa cukup (qona’ah) karena ia selalu memperhatikan bahwa ternyata Allah masih memberinya kelebihan materi dari yang lainnya. Inilah sifat mulia yang diajarkan Islam pada umatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

 
 

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR. Muslim no. 2963).

 
 

Siapa Si Miskin yang Patut Dicintai?

 
 

Perlu dipahami, siapa orang miskin yang pantas dicintai? Tentu saja bukan orang miskin yang musyrik. Tentu saja bukan orang yang sering meninggalkan shalat, atau yang lebih parah tidak pernah shalat. Tentu saja bukan yang malas puasa wajib di bulan Ramadhan. Tentu saja bukan yang gemar melakukan ajaran yang tidak ada tuntunan dalam Islam.

 
 

Yang patut dicintai adalah orang muslim yang taat. Begitu pula bukanlah masuk kategori miskin jika malas-malasan kerja, yang hanya menjadikan meminta-minta di jalan sebagai profesi harian. Pahamilah hadits berikut, yaitu dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 
 

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا

 
 

“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).

 
 

Baca ulasan lainnya di website ini: Janganlah Jadi Pengemis!

 
 

Ya Allah, berilah kami sifat mencintai orang miskin dan menjadi mujahid di jalan Allah dengan memperjuangkan dan menolong mereka.

 
 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ

 
 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin

 
 

Wa billahit taufiq.

 
 

@ KSU, Riyadh, KSA, 14 Rabi’ut Tsani 1433 H

 
 

www.rumaysho.com

 
 

https://rumaysho.com/2300-keutamaan-mencintai-orang-miskin.html

 
 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 377 kali, 1 untuk hari ini)