AntiLiberalNews – Pakar aliran sesat Ustadz Hartono Ahmad Jaiz mengemukakan sarannya dalam upaya membendung perkembangan paham takfiri Syiah di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menjadikan fatwa sesat Syiah yang dikeluarkan MUI Jawa Timur (Jatim) berlaku secara nasional.

“Sebab kalau di pengadilan mereka (syiah) akan kalah. Seperti Tajul Muluk (penyebar paham takfiri Syiah di Sampang) yang dijerat Pasal 156A atas dasar penodaan agama,” kata Ustadz Hartono pada acara tabligh akbar ‘Mengenal dan Mewaspadai Bahaya Syiah’ di Islamic Center, Bekasi, Jawa Barat pada kamis (19/2).

Beliau juga memberikan bantahan atas argumen para pembela Syiah, yang mengklaim bahwa Syiah Sampang yang sudah terbukti sesat itu tidak mewakili Syiah di seluruh Indonesia.

“Kalau memang begitu, lalu kenapa pada acara di Kompas TV pada 2013 lalu Jalaludin Rakhmat dan (aktivis liberal) Siti Musdah Mulia malah membela (Syiah Sampang)?”

Kendati panitia sempat menerima teror dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, acara tabligh akbar tersebut tetap berjalan lancar bahkan dengan hadirin yang membludak mencapai ribuan jamaah, hingga memaksa panitia membuka ruang tambahan di lantai bawah aula KH Nur Ali.

Red : Gus Jat, February 20, 2015

***

Ustadz Farid Okbah : Untuk Cegah Penyebaran Syiah, Kedubes Iran Harus Ditutup!

February 20, 2015

AntiLiberalNews – Pakar Syiah Ustadz Farid Okbah menyampaikan strateginya dalam rangka mencegah penyebaran paham takfiri Syiah di Indonesia. Caranya adalah dengan menutup Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Syiah Iran di Indonesia.

“Kedubes Iran adalah sumber daripada api yang disebarkan Syiah (di Indonesia), oleh karena itu umat Islam harus berani menutupnya!” tegas Ustadz Farid dalam acara tabligh akbar ‘Mengenal dan Mewaspadai Bahaya Syiah’ di Islamic Center, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (19/2).

Kedubes Iran, jelas beliau, kerap melakukan intervensi di dalam pemerintahan Indonesia dengan tujuan menyebarkan paham takfiri Syiah. Seperti misalnya program beasiswa ke Qom yang menargetkan pelajar berprestasi namun miskin, dimana sekarang ini sudah ada 60.000 pelajar Indonesia yang belajar disana.

“Kerjasama antara Indonesia dengan Iran harus dibatasi cukup pada bidang politik dan ekonomi saja. Tidak perlu sampai merambah ke bidang budaya apalagi agama,” kata Direktur di Mahad Al-Islam Bekasi ini.

Kendati panitia sempat menerima teror dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, acara tabligh akbar tersebut tetap berjalan lancar bahkan dengan hadirin yang membludak mencapai ribuan jamaah, hingga memaksa panitia membuka ruang tambahan di lantai bawah aula KH Nur Ali.

Red : Gus Jat

***

KAMIS, 28 RABI`UL AKHIR 1436H / FEBRUARY 19, 2015

Meski Mendapat Ancaman, Jamaah Kajian Membongkar Kesesatan Syiah Membludak

BEKASI (Panjimas.com) – Kajian Umum Kajian Umum Mengenal & Mewaspadai Bahaya Syi’ah (Studi Kasus Penyerangan Kampung Majelis Az Zikra Binaan Ustadz Arifin Ilham oleh Gerombolan Syiah) berjalan lancar.

Acara tersebut diselenggarakan Kajian Islam Bekasi (KIB) bekerja sama dengan Infaq Dakwah Center (IDC), kantor berita Voice of Al Islam (voa-islam.com) dan Tabloid Syiar Islam.

Ribuan orang diperkirakan memadati lantai 2 Aula KH Nur Ali, Islamic Center, Bekasi. Bahkan, jelang acara kajian dimulai, sekitar pukul 13.00 WIB, kaum Muslimin ternyata masih mengular di pintu masuk. Akhirnya, panitia terpaksa menyewa aula KH Nur Ali di lantai dasar guna menampung jamaah yang hadir.

Meski sudah dua lantai digunakan, namun tetap saja masih tak mampu menampung kaum Muslimin yang terus berdatangan. Sehingga mereka terpaksa mendengarkan kajian dari luar gedung.

Ketua Panitia Kajian Islam Bekasi (KIB), Ustadz Abu Al Izz, Lc menyatakan panitia sangat bersyukur acara yang digelar, dihadiri kaum Muslimin dengan antusias. Meskipun, dua pembicara seperti KH Arifin Ilham dan Ustadz Daud Rasyid berhalangan hadir.

“Ini luar biasa, ini menunjukkan kesatuan umat dan pasti akan bersatu untuk menghadapi Syiah, karena bagaimanapun Syiah itu musuh bersama kita,” kata Ustadz Abu Al Izz usai kajian, di Aula KH Nur Ali, Islamic Center, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (19/2/2015).

Namun, bukan tanpa tantangan, pihak panitia mengaku mendapatkan ancaman dari pihak-pihak tak bertanggungjawab. Oleh sebab itu, puluhan laskar pun disiagakan untuk mengamankan lokasi.

Ustadz Abu Al Izz yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB), memandang bahwa selain Kristenisasi, aliran sesat seperti Syiah juga menjadi ancaman di Bekasi.

“Syiah ini masuk ke ruang-ruang yang bisa saja kita tidak bisa prediksi, yang paling penting adalah kita tetap mewaspadai. Sehingga, jika Syiah mulai memancing letupan sekecil apa pun akan kita hadapi,” tegasnya.

Usai acara, Ustadz Abu Al Izz dan segenap panitia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, khususnya kepada IDC yang turut membantu terselenggaranya acara tersebut. [IDC, Ahmed Widad]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 349 kali, 1 untuk hari ini)