Ilustrasi cover buku/ foto Perpustakaan

Denny Siregar Terlanjur Mengejek Amien Rais

Usulan gelar pahlawan untuk Gus Dur (Abdurrahman Wahid) boleh dibilang masih kandas. Entah karena ada sebab misalnya tercium bau-bau tokoh itu jejak rekamnya miring-miring ke arah membela Komunis PKI pengkhianat bangsa, atau sebab lain; yang jelas usulan itu kini masih kandas.

Diberitakan, Dewan Gelar Pahlawan Nasional belum akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada dua mantan Presiden RI, Soeharto dan Abdurrahman Wahid, pada tahun ini.

Dua gelar pahlawan nasional kepada mantan orang nomor satu di Indonesia itu diendapkan. Dewan Gelar masih menunggu waktu yang tepat untuk menganugerahkan gelar tersebut.

“Diendapkan dan menunggu waktu yang tepat, hanya itu catatan dari Dewan Gelar. Mengapa diendapkan? Silakan dikonfirmasi ke Dewan Gelar,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa setelah mengisi seminar di kampus Universitas Negeri Surabaya, Senin (9/11/2015). / http://regional.kompas.com/ Senin, 9 November 2015 | 13:22 WIB

Dengan kandasnya ini, kemungkinan yang paling klimpungan justru Denny Siregar yang telah menyebar sikap girang gemuyunya di media maya dengan mengejek orang yang dianggap lawan Gus Dur dengan tulisan berjudul: GAGAL MANING, PAK AMIEN

Di antara penggalan tulisan pengejek Amien Rais itu bunyinya:

“Mungkin kalau tidak ada penganugerahan pahlawan nasional kepada Gus dur, saya tidak ingat bapak. Saya bahkan tidak melihat sediktpun hal positif yg bapak lakukan, selain jumpalitan dalam sirkus politik seperti halnya para senator di negara paman Sam.

Orang yang bapak coba hancurkan, sudah pernah menjadi Presiden dan sekarang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Sedangkan bapak masih asik jumpalitan seperti pemain trampoline mencari panggung yang cocok dan tempat dimana bapak ingin mencatatkan diri dalam sejarah kebangsaan.”

Tulisan yang disebut surat terbuka itu diakhiri dengan bicara masalah ghaib, secara sembarangan:

“Saya jadi ketawa sendiri membayangkan almarhum Gus dur terkekeh2 di surga melihat gerak gerik bapak, guyonan dengan malaikat sambil menunjuk ke bumi, “Sonnn.. Gagal maning, gagal maning son..” By DennySiregar/ http://dennysiregar.com/2015/11/09/gagal-maning-pak-amien/ 9 November 2015

Paragraf terakhir itu jelas mengenai alam ghaib, roh Gus Dur dan malaikat. Kalau Denny Siregar sembarangan bicara hal ghaib itu menirukan Gus Dur (yang pernah menghumorkan akherat dan malaikat), maka menambahi dosa orang yang sedang dia bela itu. Dan kalau itu inisiatifnya sendiri tanpa menirunya, maka jelas mengandung dua kesalahan: 1 bicara sembarangan tentang hal ghaib, dan 2 untuk mengejek orang.

Perlu diketahui, Akherat dan Malaikat adalah dua hal yang sifatnya ghaib dan wajib diimani (diyakini) bagi orang Muslim, dan bahkan merupakan pokok-pokok dalam rukun iman.

Mengenai hal ghaib itu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak berani berbicara kecuali ada dalilnya (ayat Al-Qur’an ataupun hadits). Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mau berbicara, kecuali kalau ada wahyu dari Allah Ta’ala untuknya. Maka bagi setiap Muslim tidak boleh berbicara mengenai hal ghaib kecuali ada dalil yang menjelaskannya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴿٦٥﴾

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Qs An-Naml/ 27: 65).
Meskipun sudah ada ketentuan ayat yang jelas dari Allah Ta’ala seperti itu, namun ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka seenaknya mengemukakan hal-hal ghaib tanpa landasan dalil. Bahkan lebih buruk dari itu, ada yang menghumorkan Akherat dan Malaikat. Contohnya, dalam rubric Humor Gus Dur yang bertema Sopir Metromini dan Juru Dakwah, yang dimuat situs Okezone, Senin 22 Juni 2009 11:09 wib. https://www.nahimunkar.org/gus-dur-menghumorkan-akherat-dan-malaikat/

***

Kembali kepada ejekan sarkasme Denny Siregar, ternyata apa yang disebut surat terbuka itu disebar luaskan pula oleh media-media maya yang tampaknya berbau sepilis (sekulersme liberalisme, dan pluralisme agama) dan ada juga yang bau syiah. Entah yang bau PKI ada atau tidak, wallahu a’lam.

Adapun penulisnya, Denny Siregar, dapat dilihat pemikirannya, di antaranya dari ungkapan dia ini:

Peristiwa Karbala adalah peristiwa besar yang namanya tidak kunjung padam. Bahkan setiap arbain, 40 hari kematian Imam Hussain as dan syuhada2nya, lebih dari 20 juta orang berjalan bersama2 memperingati perjalanan penuh darah itu dari Najaf ke Karbala sejauh 80 km. Dan itu bukan hanya umat muslim, para pendeta-pun berjalan bersama karena mereka mempunyai emosi yang sama.

Saya banyak belajar dari kisah ini, karena ruh-nya menyebar ke seluruh dunia dan membuat para pejuang revolusi menundukkan kepala menghormati perjuangannya. (DEMI HUSSAIN)

6 November 2015 http://dennysiregar.com /2015/11/06/demi-hussain/

***

Terimakasih kepada mereka

Setelah ada yang klimpungan karena Gus Dur yang sudah disangka digelari pahlawan namun ternyata masih kandas; padahal sudah terlanjur disebarkan ejekan kepada Amien Rais, maka mari kita bersikap tenang saja.

Dengan masih kandasnya usulan untuk diberi gelar pahlawan kepada Gus Dur, kini pantas untuk diucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mengkandaskannya itu. Karena memang ada beberapa masalah, terutama kaitannya dengan pembelaan Gus Dur terhadap komunis PKI pengkhianat bangsa.

Berikut ini tulisan yang menyorotinya.

***

Pahlawan Pembela PKI Pengkhianat Bangsa, Imam Kentut?

kiyai liberal

Waktu masih remaja, orang ini digarap secara intensif oleh Bu Rubiyah, seorang gerwani PKI. Cucu ulama besar namun digarap benar-benar oleh militan PKI. Hingga dia sendiri pernah mengakui, guru paling terkesan bagi dirinya adalah guru Bahasa Iggerisnya yaitu Bu Rubiyah, tak lain adalah gerwani PKI militan.

Gerwani PKI dikenal sebagai pendoktrin ampuh ajaran-ajaran komunis terhadap orang-orang yang digarapnya, dan sekaligus sadis, termasuk dalam kasus kekejaman PKI yang membantai para Ulama, Umat Islam dan tentara bahkan para jendral pun dibantai oleh PKI. Itu tidak lepas dari peran Gerwani PKI, waktu PKI berontak di Madiun 1948 maupun memberontak lagi tahun 1965 yang disebut Gestapu PKI dengan membunuhi jendral-jendral.

Manusia yang dibina gerwani PKI ini ketika belajar di Timur Tengah pun tidak dia ceritakan mengenai kekagumannya kepada kitab-kitab ulama. Tetapi justru ia ceritakan betapa kagumnya dia terhadap cerita-cerita bikinan pengarang dari negeri komunis Rusia, yaitu Tolstoy. Saking kagumnya, manusia yang satu ini sampai-sampai anaknya pun dia namai salah satu tokoh dari novel Tolstoy dari negeri komunis Rusia itu. Kekaguman terhadap cerita karangan dari negeri Komunis Rusia itu dia ceritakan di Harian Pelita Jakarta waktu dia gencar-gencarnya untuk mengkampanyekan diri agar diangkat jadi pemimpin NU.

Begitu memimpin NU, yang terjadi adalah gerahnya para ulama, karena sepak terjang manusia ini memang dinilai tidak sesuai dengan akhlaq dan adab keulamaan sama sekali, bahkan dinilai mengandung unsur menyakiti Ulama dan Umat Islam.

Sebuah sorotan mengenai kontroversi seputar dirinya, di antaranya mengungkap:

Gus Dur juga tercatat sebagai anggota DIAN (Dialog Antar Iman) yg berpusat di Univ Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah,  Gus Dur juga menjabat sebagai anggota Institute Shimon Peres, Lembaga Yahudi Terkemuka yg berpusat di Tel Aviv Israel, Protes mayoritas umat Islam kepada Gus Dur karena keanggotaannya di Shimon Peres Institute dicuekin Gus Dur, Meski pun fakta sejarah buktikan Shimon Peres adalah mantan PM Israel yg bertanggungjawab atas pembantaian puluhan ribu muslim Palestina (kalau gw sih orang islam dukung palestina, dia malah dukung yahudi) Gus Dur malah makin melawan pendapat mayoritas islam Indonesia dgn mengirimkan sejumlah kader2 NU ke lembaga2 pendidikan Israel (ini lebih gila lagi)

Sikap Gus Dur yg lukai umat Islam Indonesia dan dunia itu akhirnya menyebabkan beliau didamprat habis oleh sesepuh NU, KH Ali Maksum,  Selain dimarahi habis2an oleh KH Ali Maksum (pengasuh pondok pesantren krapyak Yogyakarta), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) juga marah besar pada Gus Dur. Hingga akhir hayatnya, KH As’ad tetap pertahankan sikap berlepas diri (bermufaroqoh) terhadap Gus Dur. Ga’ mau kenal dan komunikasi.  KH Asa’ad mengibaratkan Gus Dus yg Ketua PB NU sbg imam yg kentut sehingga keimamannya batal dan nahdliyin tdk boleh mengikuti Gus Dur. KH Asa’ad sdh pada sikap frustasi/ menyerah /angkat tangan karena tak mampu lagi menasihati Gus Dur agar kembali ke jalan yg benar. Tak kurang juga KH Ali Yafie mengundurkan diri dari kepengurusan NU karena protes dan marah besar pada kelakuan Gus Dur, Kemarahan terbesar KH Ali Yafie adalah saat Gus Dur menerima (karena mengajukan permintaan, red) dana yg berasal dari judi nasional, SDSB. (halal ga ya, dana NU dari perusahaan judi). Paman Gus Dur yakni KH Yusuf Hasyim pernah mengungkapkan keputus-asaannya dlm menasihati Gus Dur yg gemar berfikiran aneh dan miring. (Kontoversi Seputar Gus Dur, POSTED BY IRFAN NUR FAUZI ⋅ JULY 29, 2013 / irvanzi.wordpress.com)⋅

Perlu dicatat, sampai-sampai KH Ali Yafie kembali mengundurkan diri pula dari memimpin MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat ketika Indonesia dipresideni oleh Gus Dur. Dan benarlah, ternyata ketika diumumkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia: penyedap masakan Ajinomoto haram, 3 Januari 2001, buru-buru Gus Dur membantahnya dengan menyebutnya halal.

Kesimpulan (haramnya bumbu masak Ajino moto) tersebut berdasarkan penelitian Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika MUI. Lembaga itu menemukan bahwa PT Ajinomoto Indonesia memakai enzim bactosoytone dalam menghasilkan penyedap tersebut.

Bactosoytone itu digunakan sebagai makanan mikroba untuk memproses fermentasi tetes tebu, yang menjadi bahan vital bumbu masak itu. Tapi, selain memakai kedelai sebagai bahan baku utama, produsen cap mangkuk merah itu juga memakai enzim porcine yang diambil dari pankreas babi. Karena sudah bersentuhan dengan babi, Ketua LPPOM MUI Prof Dr Aisyah Girindra mengatakan, pelezat masakan itu haram bagi umat Muslim. (liputan6.com, on 15 Jan 2001 at 20:26 WIB).

Giliran jadi presiden, orang ini tampaknya masih terngiang akan jasa gerwani PKI yang mengasuhnya, maka bertandanglah orang ini dengan berusaha untuk mencabut TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pelarangan PKI dan pelarangan penyebaran ajaran komunisme dan Marxisme/Leninisme di Indonesia.

Itu bukti bahwa kecintaan orang yang dibina gerwani PKI ini justru kepada PKI, sampai-sampai dia juga memberi kata pengantar buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” karangan orang yang mengisahkan dirinya sebagai anak PKI dan belakangan jadi anggota DPR. Maka Kata Pengantar itu dibalas oleh Hartono Ahmad Jaiz dengan buku berjudul “Gus Dur Menjual Bapaknya”.

Mengenai kasus dia membela PKI, berita berikut ini dapat disimak.

Penolakan Usulan Gus Dur

Adil – Usul saudara Presiden Abdurrahman Wahid soal pencabutan Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pelarangan PKI dan pelarangan penyebaran ajaran komunisme dan Marxisme/Leninisme di Indonesia, akhirnya kandas. Dalam rapat Panitia Ad Hoc II Badan Pekerja (PAH II BP) MPR pada akhir Mei yang lalu, seluruh Fraksi MPR menolak usulan yang sempat menjadi polemik publik dan mengundang aksi protes kaum muda serat umat Islam di mana-mana. Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa pun akhirnya ikut menolak usulan tersebut, kendati sempat bersikeras mendukung lontaran dari Gus Dur itu.

Ada sejumlah alasan yang sangat kuat, mengapa kita bangsa Indonesia, termasuk umat Islam, mustahil dapat menerima kembali komunisme di bumi pertiwi Indonesia. Pertama, ideologi dan falsafah PKI adalah anti Tuhan, ateisme. Malahan di Uni Soviet –negara komunis yang sudah bubar, dikatakan dalam undang-undang dasarnya bahwa dalam negara sosialis Uni Soviet warga negara di perbolehkan untuk bersikap anti agama dan memerangi agama. Karena itu sejak awal saya sudah mempertanyakan, mengapa komunisme yang anti Tuhan YME itu hendak dibangkitkan kembali di sini.

Kedua, dalam kumunisme ada doktrin bahwa tujuan menghalalkan cara. Kita bangsa Indonesia mempunyai pengalaman konkret yang menjadi luka bangsa teramat dalam mengenai hal ini. Ingatlah peristiwa tahun 1965, di mana para perwira tinggi Angkatan Darat digorok, seperti menggorok binatang ternak saja, kemudian ulama juga banyak dicincang di mana-mana, itu sebagai cara untuk mengomuniskan Indonesia. Tengoklah Kamboja, Vietnam, lihat di berbagai negara komunis, mereka sangat keji dan biadab terhadap sesama, antara lain karena doktrin “tujuan menghalalkan cara” tadi. Maka tentu tidak ada tempat satu centimeter pun di bumi pertiwi Indonesia bagi bangkitnya kembali PKI.

Ketiga, di mana pun di dunia ini partai komunis tidak pernah bisa berdemokrasi. Karena itu, mengajak kaum komunis supaya hidup kembali bersama-sama bangsa Indonesia, ibarat memasukkan musang ke dalam sebuah kanang berisi aneka unggas. Sudah pasti aneka unggas, burung merpati, gelatik, kutilang, dsb itu akan dimangsa habis. Si komunis tentu akan merusak dalam segala situasi dan kondisi, serta tidak akan pernah bisa berdemokrasi.

Keempat, mustahil kita menerima komunisme di negeri kita ini karena kaum komunis itu kesetiaannya itu mesti pada negara asing, kalau tidak ke Beijing di Cina, tentu ke Moskow di Rusia. Jadi walaupun darah dagingnya itu Indonesia, mukanya seperti kita, bahasanya juga bahasa Jawa, Melayu, dll tetapi kesetiaannya bukan kepada negara Indonesia melainkan kepada negara asing. Maka aneh bin lucu, jika ada orang yang ingin melihat komunisme tumbuh kembali di negara yang kita cintai ini.

Kelima, kaum komunis selalu menggunakan taktik pecah belah di setiap negara untuk melemahkan negara bersangkutan. Setelah lemah dan porak beranda, lalu dengan mudah dikomuniskan sesuai dengan tujuan politik mereka. Jadi kalau ada bangsa Indonesia yang paling lihai dalam soal pecah belah, mereka itulah kaum komunis. http://reocities.com/ResearchTriangle/invention/5332/usulan-nl.html

Orang terdekat dia,  yaitu Paman Gus Dur yakni KH Yusuf Hasyim pernah mengungkapkan keputus-asaannya dlm menasihati Gus Dur yg gemar berfikiran aneh dan miring. KH Yusuf Hasyim itu adalah pejuang kemerdekaan yang berperang melawan penjajah, di barisan depan Laskar Hizbullah Sabilillah.***

Peran Laskar Hizbullah dan Sabilillah dalam perang rakyat 10 November 1945 di Surabaya menjadi tonggak pemertahanan kemerdekaan Republik ini.
“Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…! Merdeka !”

Penggalan pidato berapi-api Bung Tomo itu tak lepas dari pekik takbir dan kata merdeka, yang merupakan ciri khas pidatonya dalam membakar semangat kepahlawanan para pejuang Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945. Kalimat itu selalu digunakan dalam mengawali dan mengakhiri pidato. Bukan merdeka atau mati. Padahal dalam rentang waktu proklamasi 17 Agustus 1945 hingga Oktober 1945, pekik ‘merdeka atau mati’ sudah tersosialisasi secara luas di seluruh penjuru tanah air.

Di antara alumnus kedua laskar (Hizbullah dan Sabilillah) yang ikut bertempur di Surabaya itu adalah KH Munasir Ali, KH Yusuf Hasyim, KH Baidowi, KH Mukhlas Rowi, dan KH Sulanam Samsun. (http://matanmajalah.blogspot.co.id/2008/11/f-o-k-u-s-i.html).

Bagaimana perasaan yang harus ditanggungkan, ketika pejuang kemerdekaan yang bersusah payah menyediakan nyawanya untuk berperang melawan penjajah, lalu sekarang di dunia nyata ini disuguhi dengan adegan aneh, terlihat adanya pembela PKI pengkhianat bangsa justru akan diangkat sebagai pahlawan?

Pahlawan pembela PKI Pengkhianat Bangsa sekaligus imam kentut?

***

Ilustrasi cover buku Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs

Jakarta, Ahad 26 Muharram 1437H/ 8 November 2015.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.874 kali, 1 untuk hari ini)