UYM Menipu Umat???


 

UYM Menipu Umat?


Sabtu 22 Februari 2020, saya mengikuti acara bedah buku yang diadakan di Masjid al-Fajr, Cijagra, kota Bandung. Judul acara yang cukup seksi “Ada apa dengan Yusuf Mansur?” Judul yang mampu menarik jama’ah hingga memenuhi masjid dua lantai ini.

Buku ini berjudul “Yusuf Mansur Obong” ditulis oleh H.M. Joesoef, seorang jurnalis senior sebuah media, beliau sebagai pembicara yang ditemani oleh pak Darso Arief yang juga seorang jurnalis yang telah banyak menulis tentang kontroversi dari UYM. Adapun pembicara ketiga adalah KH. Athian Ali, Ulama senior kota Bandung.

“Saya sedang dalam perjalanan untuk menyadarkan dia (UYM)” Jelas pak Joesoef yang sudah mengenal UYM sejak 20 tahun lalu. “Misi buku ini adalah nahi munkar” Beliau memperjelas tujuan hadirnya buku ini.

Awal-awal acara, jama’ah sudah dikagetkan dengan beberapa fakta terkait UYM. Saya juga geleng-geleng kepala mendengarnya.

“Bisnis-bisnis UYM tidak ada hubungannya dengan Islam. Tidak satu pun. Dan hampir semuanya berakhir tidak baik” Pak Darso Arief menjelaskan hasil investigasinya selama ini.

Lebih sadis lagi Pak Darso menyebutkan bahwa UYM banyak menipu orang dalam bisnis, investasi ataupun sedekah.

Penjabaran demi penjabaran membuat saya yang menyimak ini bertanya. Kenapa bisa hal ini terjadi? Jawaban itu saya dapat selepas acara, saat perbincangan dengan KH. Athian Ali saya bertanya kenapa ini bisa terjadi? Kenapa banyak tokoh umat seperti ini?

“Hubbuddunya” Cinta dunia. Itu poin dari penjelasan beliau.

“Berhentilah sedekah demi kenikmatan duniawi. Ikhlaskan ibadah hanya untuk Allah” Kalimat tegas yang KH. Athian sampaikan. “Perniagaan dengan Allah itu adalah menjual dunia untuk akhirat, bukan sebaliknya”.

Masih penasaran, selepas acara saya berkesempatan ngobrol langsung dengan pak HM.Joesoef dan pak Darso Arif. Saya bertanya beberapa soal. Dan jawaban yang diberikan mengagetkan saya. UYM itu pembohong, menipu umat. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Oleh: Fadjar Jaganegara

*dari fb penulis

 UYM Menipu Umat? Sabtu 22 Februari, saya mengikuti acara bedah buku yang diadakan di Masjid al-Fajr, Cijagra, kota…
Dikirim oleh Fadjar Jaganegara pada Senin, 24 Februari 2020

portal-islam.id, Selasa, 25 Februari 2020  KABAR UMAT

***

Sudah lama diingatkan mengenai masalah sangat besar dalam Islam. Mari kita simak berita lawas ini.

***

UYM Kenapa Jadi Begini?

Posted on 20 Desember 2017

by Nahimunkar.com

 

Sekarang sedang beredar video tokoh ini (UYM) yang ceramahnya dinilai  bisa mengundang kesyirikan. (dia bersumpah, di mobilnya ada Rasul).

***

Aminullah Juned dan Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy membagikan kiriman Ari Saputra.

Ari Saputra – 18 Desember pukul 21:49 ·

https://www.facebook.com/arsenal.arsenal.1088/videos/1929373067326196/

 

kok jadi seperti habib ceramahnya UYM. semoga Allah subhanahu wata’ala memberi hidayah, dari ceramahnya bisa mengundang kesyirikan.

VIDEO FULLNYA :

https://www.facebook.com/arsenal.arsenal.1088/videos/1929373067326196/

 

Aminullah Juned membagikan kiriman Ari Saputra.

16 jam ·

Ga nyangka beliau bisa sampe seperti ini
Kasihan UYM

***

Sudah sejak beberapa waktu lalu ada yang memperingatkannya, dalam kasus lain. Inilah beritanya: https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-menyebarkan-kemusyrikan-barongsai-berkedok-wisuda-penghafal-quran/

 

Astaghfirullah! Menyebarkan kemusyrikan barongsai berkedok wisuda penghafal Qur’an?

Posted on 30 Maret 2013

by Nahimunkar.com

 

  • Mau dibawa ke mana Ummat Islam oleh IMQ-nya YM?

Berita tentang acara wisuda IMQ dengan parade yang menampilkan kemusyrikan barongsai, sebagai berikut.

***

Kemeriahan Wisuda Akbar IMQ ke-4 di GBK

 


foto barongsai: ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko (insert: Yusuf Mansur)

Salah satu peserta melakukan atraksi barongsai saat mengikuti parade dalam Wisuda Akbar PPPA Darul Quran di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/3 2013)

Acara Indonesia Menghafal Quran ini diikuti puluhan ribu peserta dan dihadiri Imam Masjidil Haram, Sa’ad Al Ghamidi.

Keramaian puluhan ribu peserta saat mengikuti parade dalam Wisuda Akbar PPPA Darul Quran di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/3). Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Quran (IMQ) 4 diikuti puluhan ribu peserta dari berbagai kota di Indonesia dan dihadiri oleh Imam Masjidil Haram, Sa’ad Al Ghamidi. ./mdk.

***

Al-Qur’an memberantas kemusyrikan, tarian barongsai praktek nyata kemusyrikan

 Laa haula walaa quwwata illaa billaah

Liong/Naga dan Barongsai. Tradisi ini adalah tradisi wajib pada perayaan Imlek. Dalam kepercayaan warga Tionghoa, Liong dan Barongsai merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Pertunjukan tarian singa dan naga ini dipercaya bisa membawa hoki.

Liong dan Barongsai yang merupakan keyakinan kemusyrikan dari negeri Cina itu ditampilkan di acara parade dalam Wisuda Akbar PPPA Darul Quran pimpinan Yusuf Mansur  di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/3 2013). Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Quran (IMQ) 4 itu diikuti puluhan ribu peserta dari berbagai kota di Indonesia dan dihadiri oleh Imam Masjidil Haram, Sa’ad Al Ghamidi.

Terhadap kelakuan penyebaran kemusyrikan atas nama acara hafalan Qur’an ini, siapakah yang memiliki ghirah Islamiyah yang tidak mengelus dada. Untuk  acara wisuda akbar Indonesia Menghafal Al-Qur’an (IMQ) ke-4, kini menampilkan tarian yang mengandung kemusyrikan. Ditampilkanlah tarian barongsai, tarian dari negeri Cina yang bukan sekadar hiburan tetapi punya makna untuk mengusir roh jahat dan menolak bala’.

Apakah Al-Qur’an itu sekarang agar cukup dihafal saja lalu diadakan upacara wisuda akbar dihadiri ribuan orang sambil agar tidak  percaya lagi terhadap benarnya surat al-ikhlash dan surat al-Kafirun?

Padahal ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tegas.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Betapa jelas kemusyrikan dalam tarian barongsai, bila dipandang dari ayat-ayat Al-Qur’an. Inilah uraiannya.

***

Barongsai, Tak Sekadar Hiburan

Kamis, 04-11-2010

Barongsai bukan sekadar seni hiburan, tapi memiliki makna spiritual bagi masyarakat Tionghoa. Tari Barongsai dikenal dengan gerakannya yang energik, ekspresif, menegangkan sekaligus menakjubkan. Tarian ini merupakan perpaduan keserasian dan dinamisasi gerak para penarinya yang atraktif dengan iringan musik tambur, gong, dan simbal.

Para penari atau pemain Tari Barongsai kebanyakan berlatar seni bela diri, kungfu dan Wushu. Hal ini berkaitan dengan gerakan tariannya bergaya akrobatik, yakni dengan salto, meloncat, melompat dan berguling.

Barongsai biasanya digelar bukan hanya pada perayaan-perayaan seperti menyambut Imlek (Spring Festival) atau Cap Go Meh (Lantern Festival), tetapi juga digelar saat upacara-upacara penting lainnya seperti, peresmian perkantoran, toko, pusat perbelanjaan, restoran, hotel, rumah, upacara pernikahan, festival budaya, kelenteng dan sebagainya.
Di negara asalnya, Ti-ongkok, tarian ini disebut dengan Lungwu atau Tarian Singa (simplified Chinese: traditional Chinese: pinyin: wushi). Setidaknya ada tiga jenis barongsai dikenal di dunia, yaitu xuang shi (singa kembar), qing shi (singa hijau), dan xing shi (singa sadar).
Barongsai di sana juga bukan sekadar seni hiburan semata, tapi dipercaya memiliki makna spiritual sebagai penolak bala juga mengekspresikan sebuah optimisme, kedamaian dan kesejahteraan.

Barongsai juga digambarkan sebagai simbol dari singa yang berani dengan memiliki sifat sebagai
‘Raja Rimba yang perkasa’ melindungi yang lemah. Selain itu singa juga dilambangkan binatang yang dipercaya memiliki kekuatan mistis dan magis yang bisa mengusir roh jahat atau tolak bala. Zaman dahulu permai-nan ini sering bermain dalam istana kekaisaran yang tujuannya untuk menghibur para penonton.

Secara keseluruhan, gerakan utama dari tarian barongsai adalah gerakan singa yang memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilah lay see. Di atas amplop tersebut biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang singa. Proses memakan lay see ini biasanya berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian barongsai itu.

Sejarah Barongsai

Berbagai versi muncul mengenai asal mula tarian Barongsai ini. Dalam sebuah buku ‘Festival Tradisi Budaya China’ karangan Dr Kai Kuok Liang di Shanghai RRC menyebutkan bahwa Singa datang dari bagian Barat daratan China. Waktu itu dinaiki oleh Pangeran Bun Cu Phu Sak yang membawa ajaran Budha ke Tiongkok, dikenal dengan zaman Lima Dinasti-Han (947-950 SM).
Sedang cerita lain mengatakan, tarian ini sudah ada pada zaman Dinasti Xie Han. Saat itu, Kekaisaran Han Bu Tie mengutus Menteri Chang Chiau ke bagian Barat Tiongkok. Sewaktu kembali, sang Menteri Chiau membawa sebuah seni budaya setempat, yakni permainan singa (Tarian Barongsai).
Ada pula yang menyebutkan tarian ini sudah ada sejak abad ke-5 atau zaman dinasti Sung, atau zaman Selatan-Utara. Versi lain menyebutkan, tarian ini sudah digelar sejak masa Dinasti Thang (618-907 sebelum masehi).
Sementara, menurut seorang guru besar asal Universitas Jinan, China, Huang Kun Zhang,
menyebutkan Tarian Barongsai ada sejak tahun 420-589 Masehi, yakni pada zaman pemerintahan dinasti Selatan-Utara atau Nan Bei. Ketika itu, pasukan Raja Song-Wen-Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan-Yang dari negeri Lin Yi.
Timbullah sebuah inisiatif dari sang panglima perang Raja Song Wen Di bernama Zhong Que untuk membuat sebuah boneka tiruan Singa yang sangat besar. Upaya sang panglima ternyata tidak sia-sia, dia berhasil mengusir pasukan gajah yang lari ketakutan karena melihat singa raksasa yang siap menerkam dan menyerang mereka.
Di Indonesia, Barongsai mulai masuk pada abad 17 atau saat terjadi migrasi besar-besaran dari
China Selatan. Nama Barongsai menurut versi Indonesia berasal dari dua suku kata, Barong dan Sai. Kata Barong, berasal dari bahasa Melayu yang mirip dengan kesenian barong asal dari Jawa atau barong/singa-singaan dari Bali, sedang kata Sai berasal dari sebuah dialek Hokkian yang bermakna Singa. Suku Hakka sendiri menyebutkan permainan Barongsai ini dengan Tsam Sie Theu.
Mulanya keberadaan seni Tionghoa ini cenderung sembunyi-sembunyi dan tidak dipertontonkan secara umum. Namun sejak Inpres No. 14 Tahun 1967 dicabut dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 tahun 2000, kesenian ini mulai bangkit.
Barongsai di Indonesia sendiri sebenarnya mengalami masa maraknya ketika zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai. ()

http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=55718&jenis=Etnik

***

Apakah Umat Ini Aman dari Ancaman Syirik?

Banyak peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat akhir zaman terhadap bencana syirik. Bahkan beliau tegaskan umatnya kelak ada yang mengekor kaum musyrikin hingga berhala pun disembah.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لا تقوم الساعة حتى يرجع ناس من أمتي إلى أوثان كانوا يعبدونها من دون الله- عز وجل”.

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga sekelompok kaum dari umatku kembali kepada berhala. Mereka menyembah berhala tersebut di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala .(Riwayat Abu Dawud al-Thayalisi dari Musa bin Muthir, lemah. Ithaful Khirah wal Mahrah Bizawaid Juz 8 hal. 34).

Autsan dalam bentuk jamak (plural) dari watsan, artinya berhala. Watsan adalah segala sesuatu yang mempunyai bentuk badan yang biasanya dibuat dari unsur tanah, kayu, atau bebatuan seperti bentuk manusia. Benda ini dibentuk, dimuliakan, dan disembah. Kadang juga watsan mencakup sesuatu yang tidak berbentuk gambar/bentuk.Shanam adalah gambar tanpa bentuk badan.

Sesembahan ini, kalau zaman jahiliyah berbentuk patung-patung orang saleh, sekarang bisa diwujudkan dalam kuburan-kuburan atau petilasan-petilasan orang shaleh yang dianggap shaleh. Kini ada pembela kesyirikan menganggap melarang orang berdoa di kuburan merupakan bentuk kurang ajar kepada para wali, alias tidak mau menghormati orang yang layak dihormati, bahkan dicap sebagai pengikut iblis yang tidak mau menghormati Adam. Subhanallah!

Gaya-gaya perilaku kaum Musyrik kini memang banyak melanda kaum Muslimin. Di antaranya bersumpah dengan selain Allah, kasidah yang penuh dengan bait-bait syirik, mengubur orang saleh dalam masjid, menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan ibadah, melakukan nadzar untuk para wali, menyembelih korban di kuburan para wali, thawaf mengitari kuburan yang dianggap wali, bahkan ada yang bersujud kepada kuburan kiai. Di Solo bahkan orang berjubel untuk membuntuti kerbau yang dijuluki Kyai Slamet. Hewan bule ini setiap bulan baru Muharram dilepas mengelilingi kraton Solo. Di antara yang hadir berebut mendapatkan kotoran hewan yang sering menjadi lambang kebodohan tersebut. Ya, kotorannya dijadikan rebutan. Diambil berkahnya, kata mereka. Mereka bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak muda! Di belahan lain ada sekelompok orang yang tekah bersyahadat, mengantar sesajen ke gunung Lawu dan Merapi. Yang lain memberikan sedekah laut alias larung sesaji ke pantai laut Selatan. La haula wala quwwata illa billah.

Zaman memang sudah bergeser, berubah dari kondisi zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga seorang pakar hadits Imam Bukhari membuatkan sebuah bab dalam Shahih-nya ‘Bab Taghayuru al-Zaman hatta tu’badu al-Autsan—Berubahnya Zaman hingga Berhala Kembali Disembah Shahih Bukhari Juz VI hal. 2604.

Bahkan kelak dedengkot berhala kaum musyrikin Quraisy akan kembali diagungkan. Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى ».

“Malam dan siang tidak akan lenyap (terjadi kiamat) hingga Lata dan Uzza kembali disembah.” (Shahih Muslim : 6907, Sunan al-Tirmidzi no. 2228, dan Musnad Ahmad no. 8164, Mukadimah Masail Jahiliyah juz I hal. 16).)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya perhatian yang lebih terhadap ancaman kesyirikan, hingga pada hari meninggalnya beliau masih sempat mengingatkan umatnya agar tidak mengikuti perilaku Ahli Kitab yang berlebihan dalam memuji nabi dan orang saleh, sikap mereka menyeret kepada syirik besar. Akankah kita sebagai umatnya yang kini semakin lemah justru merasa aman dari syirik. Sungguh, muslim bergaya syirik kini sedang ngetrend. Semoga kita diselamatkan oleh Allah!

(Dikutip dari Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11) https://www.nahimunkar.org/276/trend-muslim-bergaya-musyrik/

***

Mengenai wisuda IMQ, sehari sebelumnya telah dijelaskan acara yang akan berlangsung. Inilah beritanya.

***

Jumat, 29 Maret 2013 18:25:40 WIB

Ustadz Yusuf Mansyur Gelar Wisuda Akbar Penghafal Al Quran

JAKARTA (Pos Kota) – Program Pembibitan Penghafal Al Qur’an (PPPA) Pesantren  Daarul Qur’an pimpinan Ustadz Yusuf Mansur, akan menggelar Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Qur’an (IMQ) 4 di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 30 Maret 2013.  Wisuda kolosal tersebut bakal diikuti puluhan ribu peserta dari berbagai kota di Tanah Air.

Menurut Ustadz Yusuf Mansur, sejak pekan pertama  Maret 2013, ribuan kandidat wisudawan telah mengikuti seleksi yang diselenggarakan PPPA Daqu Pusat dan cabang. “Mereka baik santri maupun masyarakat umum, menyetor hafalan (muraja’ah) Surah Al Baqarah ayat 1-50 atau An Nabaa’ ayat 1-40,” katanya saat ditemui di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, Cipondoh, Tangerang, kemarin.

PPPA Daqu Bandung mengirim  peserta lebih 1000 orang. 1000 lebih dari Sumatera Utara dan Aceh serta Sumatera Selatan juga Bangka Belitung. Sementara dari Jabodetabek, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan lainnya mengirim lebih dari 5000 peserta.

Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Qur’an 4, bakal dihadiri  sejumlah ulama dan qari’ internasional. Diantara  Syekh Saad Al-Ghomidi dan DR Abdullah bin Ali Basfar (Saudi Arabia),  Syekh Abdul Jamal Yusuf (Gaza), DR Amin Kurdi (Lebanon), Syekh Thoriq (Kementrian Agama dan Wakaf Qatar) serta DR Kholid (Lebanon). (Anggara/d) poskotanews.com

***

Orang musyrik, haram masuk surga

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-menyebarkan-kemusyrikan-barongsai-berkedok-wisuda-penghafal-quran/

(nahimunkar.org)

***

Bantahan untuk Ust Yusuf 
Mansur yang Mengaku Didatangi Rasulullah

https://www.nahimunkar.org/bantahan-untuk-ust-yusuf-mansur-yang-mengaku-didatangi-rasulullah/

Posted on 19 Maret 2018

by Nahimunkar.com

 

Cerita Ust Yusuf Mansur Saat Didatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam acara Damai Indonesiaku Spesial Maulid

 #Bantahan _ Bisakah Bertemu Rasulullah  Dalam Kondisi Terjaga? – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
?Berikutnya Dagelan Pak Yusuf_ Kok yg ndengerin percaya ya yg begini……?
=====================

#Allahul_Mustaan..Perhatikan dari mana kita mengambil Ilmu (?https://almanhaj.or.id/2602-jangan-mengambil-ilmu-dari-ahli…)
, Ambillah ilmu dari ulama/Ustadz yang aqidahnya lurus yang menyampaikan Kalamullah dan qola’rosul sabda nabi kita tercinta yang shahih bukan cerita subhat serta dusta(andaikata benar maka itupun adalah jebakan iblis dan bala tentaranya) yang merusak aqidah ummat..

?Sebesar-besarnya kedustaan, melihat Rasulullah  dalam keadaan terjaga (sadar).

Jika ada seseorang yang mengklaim (baca : mengaku) melihat Rasulullah  dalam keadaan terjaga (baca : dalam kondisi sadar), maka ketahuilah bahwa dia telah berdusta, hal ini dapat diketahui dari beberapa sisi, diantaranya :

[1]. Tatkala dia mengklaim seperti itu, akan ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal yaitu :

“Apakah Rasulullah  yang ia lihat (hadir) pada saat itu dalam bentuk ruh atau ruh bersama jasad (bangkit dari kubur)?”

Jika dikatakan dalam bentuk ruh, maka sungguh ia telah berdusta karena Allah عز وجل berfirman :

Allah memegang jiwa saat ia mati dan memegang pula jiwa yang belum mati (saat tidurnya), maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”(QS. Az-Zumar [39] : 42)

? Di dalam ayat yang mulia ini, Allah سبحانه و تعالىٰ telah mengkhabarkan kepada kita bahwasanya ruh yang telah meninggal berada di tangan-Nya dengan menahan (baca : memisahkan) dari jasadnya.

?Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah  bersabda,

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah  akan mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya.” (Hasan, HR. Abu Dawud, no. 2041, Shahiih Sunan Abi Dawud, I/570)

? Di dalam hadits ini, Rasulullah  telah mengkhabarkan bahwa Allah سبحانه و تعالىٰ akan mengembalikan ruh beliau  hanya untuk menjawab salam, tidak dikatakan untuk jalan-jalan atau mendatangi seorang pun dari kalangan ummat beliau, dan itu terbukti tatkala di hari Kiamat Rasulullah  sendiri tidak mengetahui keadaan ummat beliau, dimana ada sebagian ummat beliau yang terusir dari telaga Rasulullah  karena berbuat bid’ah.

Rasulullah  bersabda,
“Aku akan mendahului kalian di al-Haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-Haudh, mereka dijauhkan (diusir) dariku.”
Aku lantas berkata,
“Wahai Rabbku, mereka adalah ummatku.”
Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 6576, 7049, Muslim, no. 2297, dan Ahmad, no. 3457)

▪Dalam lafazh yang lain disebutkan :

“Wahai Rabbku, sungguh mereka bagian dari pengikutku.”

Lalu Allah عز وجل berfirman :

“Sungguh, engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu.”

Kemudian Rasulullah  bersabda,

“Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti (merubah) ajaranku sepeninggalku.” (Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7050, dan Muslim, no. 2290, 2291)

Al-‘Aini رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi ﷺ sebagai ummatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi ﷺ, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi  wafat. Ini menunjukkan setiap orang yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak di ridhai Allah سبحانه و تعالىٰ itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti ajaran agama dan mengada-ada.” (Umdatul Qaari, VI/10)

? Ini adalah setegas-tegasnya dalil bahwa beliau tidak mengetahui keadaan ummatnya setelah beliau  wafat (baca : meninggal dunia) sebab jikalau ruh beliau  kembali untuk berjalan-jalan niscaya akan dengan mudah beliau  ketahui keadaan ummatnya, namun justru nash tersebut membantah argumentasi tersebut.

Kemudian, jika dikatakan Rasulullah  hadir dalam bentuk ruh dan jasad maka ini adalah sebesar-besarnya kedustaan, karena nash hadits begitu jelas dan gamblang bahwasanya Rasulullah  adalah orang yang pertama kali dibangkitkan pada hari Kiamat yang maknanya tidak mungkin beliau  bangkit dari kubur dalam keadaan ruh bersama jasad beliau.

?Rasulullah  bersabda,

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat, orang yang pertama kali keluar (dibangkitkan) dari kubur.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 2278, Abu Dawud, no. 4673, dan Ibnu Majah, no. 4308)

Jadi Rasulullah  tidak akan bangkit (baca : keluar dari kubur), kecuali setelah hari Kiamat dan beliau lah orang yang pertama kali dibangkitkan.

[2]. Jika dia mengklaim melihat Rasulullah  dalam keadaan terjaga (baca : sadar), maka dapatlah dipastikan ia sebagai Shahabat Nabi , sebab para ‘ulamaa telah mendefinisikan Shahabat Nabi  adalah mereka yang pernah bertemu Nabi  dalam keadaan beriman dan wafat di atas Islam sebagaimana penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله تعالىٰ.

Beliau رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Siapa saja yang menyertai Rasulullah  setahun, sebulan, sehari, sesaat atau melihat beliau  (dalam keadaan beriman) maka ia termasuk Shahabat Nabi .” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’la dalam ath-Thabaqaat, I/243, Al-Khathib al-Baghdaadi dalam al-Kifaayah, hal. 51, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu’ Fataawaa, XX/298)

?al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani رحمه الله تعالىٰ berkata,

“Pendapat paling benar yang aku pegang ialah bahwa Shahabat Nabi Muhammad  adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi  dalam keadaan beriman kepada beliau  dan meninggal di atas Islam. Masuk juga dalam pengertian ini setiap orang (beriman) yang bertemu dengan beliau  baik lama maupun sebentar dalam menyertai beliau , yang meriwayatkan hadits dari beliau  maupun yang tidak, yang berperang bersama beliau  maupun tidak, yang pernah sekali melihat beliau  meskipun tidak ikut duduk bersama, dan yang tidak pernah melihat beliau  karena suatu penghalang seperti orang yang buta.” (Al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah, I/7)

Jika klaim mereka yang melihat Rasulullah  dalam keadaan terjaga (baca : sadar) bisa diterima maka akan begitu banyak ‘Shahabat-Shahabat’ baru utamanya dari Indonesia, dan yang melihat ‘Shahabat-Shahabat’ ini akan menjadi ‘Tabi’in-Tabi’in’ baru, jikalau demikian apalah faidahnya hadits ini, sebab jikalau kita menerima klaim tersebut para ‘Shahabat dan Tabi’in’ baru akan selalu ada sampai hari Kiamat.

?Dari Abu Musa al-Asy’ariy رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah  bersabda,

“Bintang-bintang adalah pemberi rasa aman bagi langit. Maka, apabila bintang-bintang itu telah pergi, niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya. Aku adalah pemberi rasa aman bagi para Shahabatku. Maka, apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Shahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan semua Shahabatku adalah pemberi rasa aman bagi ummatku. Maka, apabila semua Shahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 2531)

?Begitu pun perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه untuk meneladani Shahabat Nabi ﷺ.

Beliau رضي الله تعالىٰ عنه berkata,

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah . Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling lurus ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, kesemak mereka berada di jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, IV/126 – 127, Abu Dawud, no. 4607, at-Tirmidzi, no. 2676, Ibnu Majah, no. 42, ad-Darimi, I/44, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, I/205, dan al-Hakim, I/95, Irwaa-ul Ghaliil, no. 2455)

?? Jika ada ‘Shahabat’ baru -sementara hakikatnya tidak-, niscaya akan hancur agama ini, sebab bagaimana mungkin kita meneladani ‘Shahabat’ baru sebagaimana anjuran ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه diatas.

Ketahuilah bahwasanya melihat Rasulullah  dalam keadaan terjaga (baca : sadar) adalah sebuah kemustahilan (baca : kedustaan), adapun dalam mimpi mungkin saja terjadi namun itu pun harus dicek dan diteliti akan kebenarannya dari ciri-ciri yang ada di dalam mimpi tersebut apakah itu seperti dan sesuai dengan ciri-ciri Rasulullah  yang telah disebutkan dalam hadits ataukah sebaliknya. Memang syaithan tidak bisa menyerupai Rasulullah  namun syaithan bisa mengaku-aku sebagai Rasulullah  di dalam mimpi seorang hamba.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq..

 Abu ‘Aisyah Aziz Arief_ [Copas&PostedBy Fp Ittiba’ Rasulullah jazaakumullahu khairan].

https://web.facebook.com/abu.abdillah.925602/videos/173945476736590/

https://web.facebook.com/abu.abdillah.925602/videos/174047153393089/

Via Fb Abu Abdillah

https://www.nahimunkar.org/bantahan-untuk-ust-yusuf-mansur-yang-mengaku-didatangi-rasulullah/

(nahimunkar.org)

 

 


 

(Dibaca 1.893 kali, 1 untuk hari ini)