siah

Berikut adalah video seri ke-17 dalam program Munaazharah baina As-Sunnah wa Asy-Syi’ah (Debat Antara Sunnah dan Syi’ah). Untuk seri ini, ulama wakil Syi’ah tidak tersedia. Kabur semua. Tinggal Syaikh Khalid Al-Wushaby dan moderator yang keduanya adalah Sunni. Sekarang bukan saatnya Anda men-tahdzir mereka dengan berkata, “Jangan berdebat! Dilarang!” atau kalimat semacamnya, yang Anda sendiri hampir tiap hari sebenarnya menulis status yang memancing perdebatan antar-sektarian. Hanyasaja (dan syukurnya), tidak ada pihak yang terpancing untuk menentang, jadi terkesan aman dari perdebatan.

Seri ke-17 ini di awalnya menayangkan sebuah potongan video orang-orang Syi’ah Rafidhah sedang merayakan semacam party di sebuah rumah sambil bernyanyi suka riang. Jika Anda tidak faham bahasa Arab sama sekali, tidak akan mengerti matan atau lirik nyanyian. Tetapi, kita beri tahu sebelum Anda memutar video tersebut bahwa isi nyanyian itu adalah MELAKNAT salah satu dari ummahaat kaum muslimiin, yaitu Aisyah -radhiyallahu anha wa ardha anha-!!!

Syaikh Khalid setelahnya pun mengomentari dengan berapi-api. Demi Allah, jika Anda memahami -minimal sedikit- dari lirik nyanyian tersebut dan kalam Syaikh Khalid yang keras, hati akan benar-benar bergetar. Ingin rasanya segera melaknat mereka semua. Ingin rasanya memusnahkan mereka semua.

Di manakah lokasi rekaman tersebut?

Mereka ternyata adalah orang-orang Syi’ah Irak. Mereka bernyanyi seperti itu di sebuah ibukota negara kaum muslimin, yang tinggal di dalamnya banyak dari Ahlus Sunnah! BAGHDAD! Kota yang telah mencetak banyak sekali ulama Ahlus Sunnah! Kini semakin ternodai dengan video tersebut! Syaikh Khalid pun menuai dua risalah lisan yang ditujukan untuk dua pihak:

[1] Pihak Ahlus Sunnah di Irak
[2] Pihak Syi’ah di Irak

Beliau mempertanyakan, ‘Ke mana saja kalian, wahai Ahlus Sunnah Irak? Kenapa terdiam? Kalian seolah-olah lemah!”

Beliau juga menambahkan dengan kobaran berapi-api, “Belum lama terlampau kita sudah melihat pelaknatan terhadap ibu kita kaum muslimin di LONDON, sekarang kita melihat lagi di BAGHDAD, besok kita akan melihat yang serupa di MEKKAH!!!”

Ya, ke mana kaum muslimin? Ke mana ulama kaum muslimin? Ke mana pemerintahan kaum muslimin? Itu yang beliau pertanyakan. Dan moga-moga beliau tidak dituduh dan dilabeli ‘Khawarij’ oleh beberapa ikhwah Indonesiyyiin karena berkata seperti itu.

Bagaimana nanti dengan Indonesia?

PATUT DISYUKURI bahwa sekarang bangkit kesadaran banyak dari kita untuk menggali makrifat mengenai kesesatan Syi’ah. Concern terhadap perkembangan di Suriah; berkah dari upaya beberapa saudara kita, anak-anak muda yang rela mengorbankan banyak hal demi membantu saudara-saudara kita di Suriah. Alhamdulillah! Kita sekarang tidak seperti kita setahun sebelumnya, atau dua tahun sebelumnya, ketika Dammaj diserang oleh kaum Syi’ah Hautsyiyyiin, menjerit-jerit di Facebook. Berteriak memohon bantuan dan berusaha menyadarkan umat Islam akan serangan di Dammaj, Yaman, namun ketika datang kabar Suriah, yang jauh lebih mengerikan, tiba-tiba pada terdiam. Bahkan ketika kami wartakan bahwa pemerintahan Suriah yang dikepalai Basyar Assad adalah pemerintahan kafir (musyrik), kami ditahdzir; karena dianggap berlebihan dan mengkafirkan orang muslim.

Dan alhamdulillah, sekarang keadaan sudah berbeda. Concern terhadap perkembangan saudara di Suriah begitu tinggi. Sehari-hari tertera kabar terbaru; yang justru kabar informal underground dari teman sendiri lebih layak dipercaya dan lebih sehat dibanding kabar media sekuler; yang tanpa syahwat perut dan syahwat kemaluan, hidup mereka buntu.

Namun bukan berarti kita harus selalu berbicara tentang kondisi mereka dan memalingkan diri dari Al-Qur’an, Hadits, hukum-hukum yang ringan, seperti Thaharah, Shalat dan seterusnya. Bukan berarti kita libur dari mencerdaskan diri dengan ilmu-ilmu tambahan yang syar’i. Justru harus terus menggali. Karena kelak ilmu-ilmu yang kita gali sekarang, itu akan menjadi BEKAL untuk menjalani esok hari dan TAMENG jika di esok hari kita diserang. Perhatikan bacaan Al-Qur’an, sudahkah kita mentadabburi? Status orang saban hari diselami, kenapa Al-Qur’an dan bahasanya kita enggan menyelami?!

Jika kondisi kita begitu (yakni: Al-Qur’an, hadits, bahasa dan kandungannya kita rendahkan porsinya atau bahkan terabaikan sama sekali), maka inilah PENYEBAB KEKALAHAN kita kelak. Klaim bersatu atas manhaj salaf itu ya dengan ilmu, bukan hanya murni kesenangan hati semata. Semakin erat keilmuan pada diri kita semua, insya Allah semakin berkah persatuannya. Dan bukan berarti ketika sudah merasa bermanhaj salaf dan berilmu, lantas kita menghajr, baik mengasingkan maupun mengasingkan diri dari orang yang memiliki perbedaan faham di beberapa sektor dengan kita.

Ketika Aisyah dilaknat oleh kaum terlaknat dengan nyanyian yang sangat menghinakan seperti itu, penjual ikan di pasar, kuli bangunan, hingga pembantu rumah tangga pun, jika mengerti lirik nyanyian tersebut, pasti akan marah! Lebih-lebih orang yang kecintaannya terhadap sahabat Nabi begitu besar, sangat marah. Juga perlu ingat, mengklaim diri atau merasa diri bermanhaj salaf bukan berarti memastikan diri memang mencintai sahabat Nabi. Cek kembali hati masing-masing. Jangan merasa paling cinta padahal kenyataannya tidak. Dan mungkin saja orang dari golongan lain yang tidak kita setujui pemikirannya, mereka malah lebih cinta daripada kita terhadap para sahabat Nabi.

Jika Anda mencintai salaf, belajarlah bahasa salaf: Bahasa Arab. Seorang suami mencintai istrinya dan berusaha memahami bahasa dan isyarat dari istrinya. Apa seorang muslim mengklaim pecinta salaf dan sunnah namun tidak ada upaya memahami bahasa salaf dan bahasa sunnah?

Link: [http://www.youtube.com/watch?v=NWW9vgCl3JM]

Oleh: Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.084 kali, 1 untuk hari ini)