kemasjid_83276423482

Ilustrasi/ moasisantonio

  • Densus 88 dan Brimob telah mengabaikan hak hidup, hak untuk tidak disiksa kendati dia seorang tersangka. Semua hak-hak yang  melekat itu merupakan hak paling dasar. Semua hak dasar itu, diakui oleh Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
  • Peristiwa yang paling menyentak kesadaran publik di Indonesia, terkait dengan  peristiwa yang terjadi di Poso, di mana perisitwa itu, diangkat (diunduh) melalui YouTube, yang berdurasi 13 menit itu, sangat luar biasa kejamnya aparat Densus 88, bukan hanya melakukan penyiksaan, tetapi juga membunuh dan bahkan melecehkan terhadap mereka yang terduga teroris.
  • Video yang berdurasi 13 menit itu, beberapa aparat kepolisian memerintahkan kepada seorang tersangka membuka celana, tanpa alasan yang jelas. Tampak pula, seorang yang terduga teroris, yang sudah tertembak dadanya, dan tembus dipunggung dipaksa merangkak jalan, dan diinterogasi di tanah lapang.
  • Bahkan, seorang aparat Densus 88, memerintahkan kepada terduga teroris yang sudah tertembak dan luka parah, agar segera beristighfar, karena katanya, “Sebentar lagi kamu akan mati”.  Bagaimana aparat penegak hukum dengan sangat tega melontarkan ucapan seperti itu? Bukan memberikan pertolongan dan membawa ke rumah sakit, aparat polisi justeru membiarkan meregang nyawa dan terus menginterogasinya.

Jakarta (voa-islam.com) Ketika kekuatan rakyat mengakhiri pemerintahan rezim militer Orde Baru dibawah Jenderal Soeharto, karena rakyat ingin menghentikan segala bentuk kejahatan dan kekerasan sangat tidak manusiawi.

Seperti operasi militer  yang terjadi di Aceh yang dikenal dengan operasi “DOM”. Peristiwa pembantaian di Lampung, Tanjung Priok, Hauer Koneng, Nipah, dan operasi “Petrus”.

Maka era Reformasi yang menjadi antitesa rezim militer Orde Baru, ingin mengakhiri seluruh keadaan yang sangat militeristik. Kemudian, kekuatan-kekuatan Reformasi, mengalihkan kekuasaan keamanan dari militer kepada polisi, dan diharapkan akan melahirkan kehidupan yang lebih human (manusiawi). Tidak ada lagi kekerasan secara sewenang-wenang, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Tetapi, sesudah peristiwa WTC di New York, Amerika Serikat, membuat segala telah berubah. Lahir Undang-Undang Terorisme yang  menjadi dasar penindakan terhadap para terduga teroris.

Akibatnya, begitu banyak mereka yang menjadi terduga teroris, bukan  hanya mengalami penyiksaan yang sangat kejam, tetapi mereka dihilangkan hak hidup mereka. Tanpa adanya bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, mereka yang terduga teroris itu dibunuh oleh Densus 88.

Tentu, peristiwa yang paling menyentak kesadaran publik di Indonesia, terkait dengan  peristiwa yang terjadi di Poso, di mana perisitwa itu, diangkat (diunduh) melalui YouTube, yang berdurasi 13 menit itu, sangat luar biasa kejamnya aparat Densus 88, bukan hanya melakukan penyiksaan, tetapi juga membunuh dan bahkan melecehkan terhadap mereka yang terduga teroris.

Video yang berdurasi 13 menit itu, beberapa aparat kepolisian memerintahkan kepada seorang tersangka membuka celana, tanpa alasan yang jelas. Tampak pula, seorang yang terduga teroris, yang sudah tertembak dadanya, dan tembus dipunggung dipaksa merangkak jalan, dan diinterogasi di tanah lapang.

Bahkan, seorang aparat Densus 88, memerintahkan kepada terduga teroris yang sudah tertembak dan luka parah, agar segera beristighfar, karena katanya, “Sebentar lagi kamu akan mati”.  Bagaimana aparat penegak hukum dengan sangat tega melontarkan ucapan seperti itu? Bukan memberikan pertolongan dan membawa ke rumah sakit, aparat polisi justeru membiarkan meregang nyawa dan terus menginterogasinya.

Gambaran yang diangkat oleh video melalui YouTube, hanya mempertegas bahwa kepolisian telah mengabaikan hak asasi manusia. Komisi Hak Asasi Manusia (KOmnas HAM), bahkan mencatat jumlah terduga teroris yang tewas di tangan Densus mencapai 83 orang. Ini berarti setiap tahunnya 9-10 tersangka yang tewas sejak Densus 88 berdiri sembilan tahun lalu. Komisi Hak Asasi Manusia juga mencatat ada tersangka yang ditembak hingga lebih 10 kali!

Polisi selalu berdalih menembak terduga teroris itu dalam rangka melindungi diri. Tetapi, faktanya mereka yang terduga teroris adalah orang-orang yang tidak bersenjata, dan hanya bertangan kosong. Cara-cara yang sangat biadab itu, pernah berlangsung di era Orde Baru, yang melakukan kekejaman yang tanpa tara oleh aparat militer, dan sekarang ini diulangi oleh polisi di Reformasi. Sungguh luar biasa.

Densus 88 dan Brimob telah mengabaikan hak hidup, hak untuk tidak disiksa kendati dia seorang tersangka. Semua hak-hak yang  melekat itu merupakan hak paling dasar. Semua hak dasar itu, diakui oleh Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Menciptakan keamanan penting, dan mengakhiri segala bentuk terorisme itu juga penting, tetapi tidak kemudian melakukan tindakan yang sangat biadab yang sama dilakukan oleh teroris, dan tanpa sedikitpun rasa belas kasihan terhadap sesama manusia yang memiliki hak hidup. Wallahu a’lam.

Selasa, 05 Mar 2013

***

Video Penganiyaan ing Poso ningalaken entenipun kejahatan Kemanusiaan

(Bahasa Jawa)

n  Densus 88 uga Brimob wis mengabaikan hak gesang, hak kangge mboten disiksa kendati piyambakipun satiyang terduga. sedaya hak-hak ingkang melekat punika ngrupikaken hak paling dasar. sedaya hak dasar punika, dipun akui dening undang-undang Nomor 39 taun 1999 babagan Hak Asasi Manusia.

n  Kedadosan ingkang paling menyentak kesadaran publik ing Indonesia, terkait kaliyan kedadosan ingkang kedadosan ing Poso, ing pundi perisitwa punika, diangkat (diunduh) liwat YouTube, ingkang berdurasi 13 menit punika, sangat luar biasa kejamipun aparat Densus 88, sanes namung numindakake penyiksaan, nanging ugi mejahi uga bahkan melecehkan

Jakarta  – nalika kekiyatan rakyat ngakhiri pamerentahan rezim militer Orde enggal dipun pimpin JenderalSoeharto, amargi rakyat kersa ngendelaken samukawis bentuk piawon uga kekerasan ingkang sanget mboten manusiawi.

kados operasi militer ingkang kedadosan ing Aceh ingkang dipun tepang kaliyan operasi “DOM”. kedadosan pembantaian ing Lampung, Tanjung Priok, Hauer Koneng, Nipah, uga operasi “Petrus”.

mila era Reformasi ingkang dados antitesa rezim militer Orde enggal, kersa ngakhiri sedaya kawontenan ingkang militeristik sanget. lajeng, kekiyatan-kekiyatan Reformasi, mengalihkan kekuwaosan keamanan saking militer dhateng polisi, uga diharapkan badhe lahir kegesangan ingkang langkung human (manusiawi). mboten enten malih kekerasan sacara sewenang-wenang, uga pelanggaran hak asasi manusia.
nanging, sasampun kedadosan WTC ing New York, Amerika Serikat, ndamel samukawis sampun berubah. lair undang-undang Terorisme ingkang dados dasar penindakan dhateng para terduga teroris.
pawingkingipun, mekaten kathah mereka  ingkang dados terduga teroris, mboten namung ngalami penyiksaan ingkang kejam sanget, nanging mereka  dipun icalaken hak gesang mereka . Tanpa entenipun bukti-bukti ingkang saged dipertanggungjawabkan, mereka  ingkang terduga teroris punika dipun pejahi dening Densus 88.
Tentu, kedadosan ingkang paling menyentak kesadaran publik ing Indonesia, terkait kaliyan kedadosan ingkang kedadosan ing Poso, ing pundi perisitwa punika, diangkat (diunduh) liwat YouTube, ingkang berdurasi 13 menit punika, sangat luar biasa kejamipun aparat Densus 88, sanes namung numindakake penyiksaan, nanging ugi mejahi uga bahkan melecehkan majeng mereka  ingkang terduga teroris.

Video ingkang berdurasi 13 menit punika, beberapa aparat kepolisian ngengkenaken dhateng satiyang terduga mbikak sruwal, tanpa alasan ingkang pertela. katingal ugi, satiyang ingkang terduga teroris,  yang sudah tertembak dadanya, dan tembus di punggung dipaksa merangkak jalan, dan diinterogasi di tanah lapang.

Bahkan, satiyang aparat Densus 88, ngengkenaken dhateng terduga teroris ingkang sampun tertembak uga tatu parah,supados enggal beristighfar, amargi katanya,  “sekedhap malih sampeyan badhe pejah”.

kados pundi aparat panjejeg hukum kanthi tega sanget melontarkan ucapan mekoten? mboten nyukakaken tulungan uga mbekta datheng griya sakit,aparat polisi justeru membiarkan meregang nyawa lan terus menginterogasinya.

gambaran ingkang diangkat dening video liwat YouTube, namung mempertegas menawi kepolisian wis  mengabaikan hak asasi manusia. Komisi Hak Asasi Manusia (KOmnas HAM), bahkan nyatet wilangan terduga teroris ingkang tewas ing tangane Densus mencapai 83 tiyang. niki nduwe artos saben taunipun 9-10 terduga ingkang tewas kawit Densus 88 ngadeg sangang taun kepungkur. Komisi Hak Asasi Manusia ugi nyatet enten terduga ingkang dipun tembak ngantos langkung kaping 10!
Polisi salajeng berdalih nembak terduga teroris punika lebet saperlu melindungi badan. nanging, faktanya mereka  ingkang terduga teroris yaiku tiyang-tiyang ingkang mboten bersenjata, uga namung nduwe tangan kosong. cara-cara ingkang biadab sanget punika, nate nglajeng ing era Orde enggal, ingkang numindakake kekejaman ingkang tanpa tara dening aparat militer, uga sak menika niki diulangi dening polisi ing Reformasi. saestu luar biasa.
Densus 88 uga Brimob sampun mengabaikan hak gesang, hak konjuk mboten disiksa kendati piyambakipun satiyang terduga. sedaya hak-hak ingkang melekat punika ngrupikaken hak paling dasar. sedaya hak dasar punika, dipun akui dening undang-undang Nomor 39 taun 1999 babagan Hak Asasi Manusia.
Menciptakan keamanan wigati, uga ngakhiri samukawis bentuk terorisme punika ugi wigati, nanging mboten lajeng numindakake tindakan ingkang biadab sanget ingkang sami dipun tumindakake dening teroris, uga tanpa  sedikitpun rasa belas kasihan dhateng sesami manusia ingkang nggadhahi hak gesang. Wallahu a’lam.
voa-islamcom, Selasa, 05 Mar 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 600 kali, 1 untuk hari ini)