KLIKBALIKPAPAN.CO – Sejak dimulai tahun 2017, program vaksin MR yang menghabiskan anggaran triliunan ini telah banyak memakan korban jiwa. Dari bayi, anak, sampai siswa SMP.

Vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India atau SII, di negeri asalnya India ditolak masyarakat setempat. Sebab, memakan korban jiwa. Publik India pun menolak keras.

Tak hanya di India, vaksin MR buatan SII ini juga memakan korban jiwa di Pakistan, Afrika, bahkan Indonesia. Tapi, di Indonesia para korban tak pernah diakui sebagai korban kejadian ikutan paska imunisasi atau KIPI

Pihak terkait selalu mengelak, meski korban terus berjatuhan. Belakangan, MUI pun meminta untuk menunda pelaksanaan program vaksin. Sebabnya vaksin ini belum diuji dan tidak memiliki sertifikat halal sesuai UU Jaminan Produk Halal 2014.

Belakangan, publik yang kritis terhadap vaksin membeber jurnal SII hasil penelitian Viviek Vadya, dkk. Jurnal internasional bertajuk: Use of Recombinant Trypsin in Production of Vaccine Againts Measles and Rubella, membeber hal mencengangkan.

Dalam keterangan di jurnal internasional itu, disebutkan bahan vaksin MR, di antaranya menggunakan media biakan dari sel janin manusia atau human diploid cells MRC-5. Ada pula vero cells yakni sel kera, dan material dari mahkluk hidup lain.

Hal serupa dijelaskan dalam insert package atau kemasan vaksin MR yang dirilis WHO. Sontak hal ini menggegerkan umat Muslim, dan membuat MUI meminta Kemenkes menunda vaksin ini sampai pengujian sampel selesai.

Minggu, 19//8/2018, MUI Kalbar telah menegaskan jika vaksin MR mengandung unsur babi dan organ manusia atau sel janin yang diaborsi. Namun, keputusan final baru akan ditetapkan pada Senin atau Selasa besok melalui sidang Fatwa MUI Pusat.

Masyarakat makin geram saat Menteri Kesehatan Nila Moeloek malah tidak mengetahui kandungan vaksin MR. Padahal program ini telah berjalan di Jawa tahun lalu, dan di Luar Jawa tahun ini.

Simak video Petaka vaksin MR dalam Catatan Media, di atas.

Reporter : Deden    Editor : KLIK Group

Sumber : klikbalikpapan.co

(nahimunkar.org)

(Dibaca 298 kali, 1 untuk hari ini)