Beberapa hari situs voaislam.com tidak dapat diakses. Pihak pengelola menginformasikan bahwa situs berita Islam ini “dihabisi” hingga datanya hilang.
“Data sejak 2013 sampai 2014 hilang semua,” ucap Mashadi pemimpin redaksi situs ini semalam lewat telepon.
Menurutnya, hilangnya data itu karena didelete hacker melalui SQL injection.
SQL injection adalah jenis aksi hacking pada keamanan komputer di mana seorang penyerang bisa mendapatkan akses ke basis data di dalam sistem. SQL injection yaitu serangan yang mirip dengan serangan XSS dalam bahwa penyerang memanfaatkan aplikasi vektor dan juga dengan Common dalam serangan XSS. (menurut binushacker.net)
“Bagi kawan-kawan dan sahabat jurnalis yang tiba-tiba mencari berita dan beritanya hilang linknya, mungkin akibat serangan terdahsyat sore tadi,” pesan Mashadi dengan harapan para jurnalis dapat menginformasikannya.
Seiring dengan pesan tersebut ternyata situs voaislam.com tampaknya sudah dapat diakses lagi ba’da isya’ semalam.
Dalam tampilannya, ada berita tentang adanya pernyataan tekad dari BNPT meretas situs-situs yang dianggap radikal, lalu ditanggapi orang.
Diperkirakan situs ini kemudian mengalami peretasan beberapa jam setelah memuat berita itu, karena sampai muncul kembali tadi malam, berita tersebut yang dimuat Kamis 6 Nov lalu ternyata pada pukul 20 tgl 8 Nov baru dibaca 2.531 views. Secara perkiraan, bila ada berita seperti itu, tidak sampai 12 jam sudah diakses lebih dari 10.000-an klik. Tapi Karena terganggu dan tidak dapat diakses, maka begitu muncul kembali setelah off beberapa hari, maka baru mencapai dua ribuan klik itu tadi. Dan itu menjadi semacam tanda, untuk dapat dianalisa, kapan dan kenapa sampai diretas.
Orang mau meretas situs tetapi ngomong dulu, itu baru terjadi sekarang.
Itu pakai tender dan anggaran lewat pembahasan di DPR nggak ya?
Pertanyaan yang lain-lain pun dapat diajukan. Barangkali saja mereka mau menjawab.
Berita yang berkaitan dengan itu sebagai berikut.
***

Direktur CIIA: BNPT Frustasi dengan Situs-situs yang Dianggap Radikal

JAKARTA (Voa Islam) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Ustadz Harits Abu Ulya dalam rilis yang disampaikan kepada pers pagi ini (6/11/2014) menyampaikan bahwa sebagaimana berita yang diunggah banyak portal media online; Situs-situs/portal online yang di anggap “radikal” hendak diretas semua oleh Saud Usman (kepala BNPT) dengan sewa para hacker.
Ungkapan Komjen (Pol) Saud Usman selaku Kepala BNPT tersebut harus dikritisi karena jika tidak hal itu akan menjadi legal opinion yang seterusnya akan masuk pada tahap legal action.
Publik semestinya tahu bahwa untuk menutup situs atau portal yang dianggap bermasalah mekanismenya melalui KemenKomInfo, bisa atas usulan dari berbagai pihak termasuk BNPT.
Kemudian di kaji lebih dalam kontennya termasuk regulasi yang memayunginya. Jadi bukan main sewa hacker untukt meretas atas nama perang melawan terorisme. Ini sama saja melegalkan kejahatan terorganisir untuk menghadapi subyek yang di duga melakukan kejahatan bahkan masih debatable benar tidaknya menyampaikan gagasan atau ide di ruang publik dianggap sebagai bentuk tindakan kriminal.

Ustadz Harits menandaskan, “Kalau negara hukum harusnya patuh pada “criminal justice system”, bukan berubah jadi hukum rimba.”

BNPT lama-lama terlihat frustasi dan tidak profesional apalagi proporsional. Demikian tuntas beliau dalam rilisnya. (AF/Voa Islam.com) Kamis, 16 Muharram 1436 H / 6 November 2014 07:47 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 797 kali, 1 untuk hari ini)