Belum lama ini agen Syiah di tubuh harian Republika membuat kebohongan memalukan. Republika edisi  Sabtu16 November 2013, menyebutkan Gubernur Jawa Barat,  Ahmad Heryawan, menghadiri perayaan Asyura di kampus milik Syiah, Muthahari Bandung, pada 14 November 2013.

Padahal pada hari itu, Ahmad Heryawan sibuk mengisi banyak agenda kegiatan gubernur sejak Shubuh sampai malam. Tidak ada agenda menghadiri acara Asyura di Muthahari.

Demikian berita di voaislam.com dalam judul Soal Perayaan Asyura, Republika Memfitnah Gubernur Jawa Barat, Selasa, 23 Muharram 1435 H / 26 November 2013 09:38 wib.

Tampaknya, sebelum ini berita masalah itu cukup ramai di dunia pemberitaan, hingga ada komentar yang dikutip salam online begini:

“Kesalahnnya terlalu fatal… klo hanya salah antara “tidak hadir” kemudian salah ketik menjadi “hadir” mungkin itu bisa dimaklumi… lha ini dideskripsikan hadirnya katanya memberikan sambutan, dan ada sambutannya seperti apa… apa itu bentuk ketidak sengajaan..???..salah ketik?.. apa cuma copy paste dari info orang syiah?” tulis Ayya Fatiyya pada comment box di islamedia.com, sebagaimana dikutip arrahmah.com.

Inilah berita voasilam.com dan lainnya tentang apa yang disebut Republika memfitnah.

***

Soal Perayaan Asyura, Republika Memfitnah Gubernur Jawa Barat

 

Bandung –Bukan Syiah kalau tidak berbohong. Raja bohong di tengah umat manusia ialah Syiah. Kebohongan bagi mereka seperti makan-minum dan menghirup udara. Tak salah kalau imam Syafi’i mengatakan, “Aku belum pernah melihat suatu golongan yang paling parah bohongnya, selain Rafidhah (Syiah).”

Belum lama ini agen Syiah di tubuh harian Republika membuat kebohongan memalukan. Republika edisi  Sabtu16 November 2013, menyebutkan Gubernur Jawa Barat,  Ahmad Heryawan, menghadiri perayaan Asyura di kampus milik Syiah, Muthahari Bandung, pada 14 November 2013.

Padahal pada hari itu, Ahmad Heryawan sibuk mengisi banyak agenda kegiatan gubernur sejak Shubuh sampai malam. Tidak ada agenda menghadiri acara Asyura di Muthahari.

Koran Republika menulis seperti ini:

“Sementara,  acara di aula Muthahari dihadiri Gubernur  Jabar,  Ahmad Heryawan. Dalam sambutannya, Gubernur meminta semua pihak agar saling menghormati satu sama lain dan mengembangkan pemahaman agama yang benar. “Kita ingin semua pihak hidup baik-baik dan mengembangkan pemahaman ajaran yang benar,” kata dia.

Heryawan menjelaskan mengenai ajaran Syiah yang menuai penolakan di wilayah Bandung. Menurutnya, penolakan terjadi karena pemahaman publik diukur dari mainstream yang ada. Ia mengatakan, pemahaman ajaran agama yang benar adalah yang diukur oleh mainstream kebenaran.” (Republika, 16 November 2013).

Di  hari Sabtu itu, Ahmad Heryawan menjalani agenda padat: Sahur bersama PUI (sebelum Shubuh), menghadiri HUT Brimod di Jatinangor (jam 8), menghadiri seminar seputar Jawa Barat di hotel  Preanger Bandung (jam 10), menerima penghargaan sebagai pembina silat (jam 14.30), berbuka puasa Sunnah di rumah dinas Gubernuran  (jam 17.45), menghadiri tabligh akbar menyambut tahun baru Islam 1435 H di Masjid Agung Bandung (jam  19.30-23.00). Di sini tak ada agenda menghadiri Asyura di sekolah Syiah, Muthahari.

Ini kenyataan parah. Gubernur Jawa Barat harus menuntut koran Republika agar meminta  maaf atas  dusta yang mereka buat. Kalau tidak, berarti Sang Gubernur tidak menjaga perasaan mayoritas Muslim (bukan Syiah) yang menghuni wilayah provinsi Jabar. Ormas-ormas Islam di Jabar bisa menuntut Republika, mewakili masyarakat  Muslim, karena Syiah telah melakukan pembohongan atas nama pemimpin birokrasi Jabar. FUUI dan Ustadz Athian Ali bergeraklah menuntut Republika  agar tidak dipakai corong penyebaran agama Syiah.

Kalau Gubernur Jabar tidak mau bereaksi, berarti  aneh. Disebut mendukung Syiah, tapi adem ayem saja. Puasa Sunnah  baik, tapi mengatasi kebohongan Syiah lebih utama. Atau bisa jadi, yang hadir di kampus Muthahari itu adalah Wakil Gubernur Jabar, Dedy Mizwar yang menurut sebagian  kalangan terindikasi Syiah. *Azzam Husnayain. Selasa, 23 Muharram 1435 H / 26 November 2013 09:38 wib voa-islam.com

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/11/26/27795/soal-perayaan-asyura-republika-memfitnah-gubernur-jawa-barat/#sthash.GZjnI219.dpbs

***

Sementara itu facebook Ahmad Heryawan memuat berita soal berita bohong Republika itu dan komentar yang muncul ada di bagian bawahnya.

***


Voaislam.com: Soal Perayaan Asyura, Republika Memfitnah Gubernur Jawa Barat

17 November melalui Facebook for BlackBerry 10

Harian Republika halaman 2 – Ralat dan Permohonan Maaf. Terdapat kesalahan fatal dalam berita berjudul Peringatan Asyura Berjalan Aman yang dimuat di Harian Republika edisi Sabtu, 16 November 2013. Dalam berita itu disebutkan bahwa Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menghadiri peringatan Asyura di aula Al-Muthahari, Jalan Kiaracondong, Bandung. Faktanya, Ahmad Heryawan tidak pernah menghadiri acara tersebut. Dengan ini kami meralat berita tersebut dan menyatakan bahwa berita tersebut tidak benar. Bantahan atas berita itu juga dimuat dalam Harian Republika edisi Ahad, 17 November 2013. Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca dan khususnya kepada Bapak Ahmad Heryawan atas kesalahan tersebut. Kami pun akan mengambil langkah-langkan internal agar kesalahan serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Komentar

Heri Purnomo Itulah jadinya kalo surat kabar yg tadinya Islami kini di kuasai Syiah.., dan itu cuma akal2an saja….

20 November pukul 12:23 · Suka

 

Ceroboh, Sebut Gubernur Ahmad Heryawan Hadiri Acara Asyura Syiah, Republika Minta Maaf


Redaksi Salam-Online – Senin, 14 Muharram 1435 H / 18 November 2013 11:22

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Kesalahan sangat fatal dilakukan oleh Harian Umum Republika. Dalam terbitan Sabtu (16/11) koran nasional ini menyebut Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan hadir dan memberikan sambutan pada perayaan Hari Asyura Syiah di aula Muthahhari, Jl Kiara Condong, Bandung. Padahal, faktanya Ahmad Heryawan tak pernah menghadiri acara tersebut.

Dari mana sumber yang mengatakan Gubernur Jabar hadir dan memberikan sambutan dalam acara Syiah tersebut. Tak disebutkan. Atas kesalahan fatalnya itu koran Republika edis Ahad (17/11) merilis bantahan Kepala Biro Humas Jabar  dan membuat ralat serta permohonan maafnya. Cukupkah?

“Kesalahnnya terlalu fatal… klo hanya salah antara “tidak hadir” kemudian salah ketik menjadi “hadir” mungkin itu bisa dimaklumi… lha ini dideskripsikan hadirnya katanya memberikan sambutan, dan ada sambutannya seperti apa… apa itu bentuk ketidak sengajaan..???..salah ketik?.. apa cuma copy paste dari info orang syiah?” tulis Ayya Fatiyya pada comment box di islamedia.com, sebagaimana dikutip arrahmah.com.

Siapapun bisa melakukan kesalahan, namun kesalahan yang dibuat oleh surat kabar nasional sekaliber Republika kali ini mengundang tanda tanya besar di kalangan pembacanya. Tak terkecuali di dunia maya.

Berita bantahan dari Kepala Biro Humas Jabar dan Ralat serta permohonan maaf  dari Republika

Dengan keluarnya pernyataan maaf ini, sebagian opini pembaca Republika berharap bahwa media ini harus lebih profesional dalam menyajikan pemberitaan dan menjaga integritas dan kredibilitasnya dalam memberitakan fakta kejadian. Sementara opini pembaca Republika sebagian besar berharap oknum syiah di jajaran redaksi Republika agar “dibersihkan”, karena sangat membahayakan tatanan kehidupan umat Islam di Indonesia. (arrahmah.com/salam-online) salam-online.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.130 kali, 1 untuk hari ini)