Wabah Corona pun Ditunggangi Pencitraan di Paket Sembako

Inilah beritanya.

***

Memalukan sekali, Distribusi Sembako Tersendat karena Tas Bertuliskan ‘Bantuan Presiden’ Belum Rampung

 

Presiden Joko Widodo diminta untuk menghentikan pencitraan lantaran rakyat menjadi korban kelaparan akibat tersendatnya distribusi sembako.


Hal itu disampaikan oleh pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam mengetahui distribusi sembako tersendat akibat tas bertuliskan ‘Bantuan Presiden’ untuk mengepak sembako belum rampung dibuat.

“Kalau itu benar, maka sangat memalukan, karena uang yang digunakan bukan berasal dari Presiden sebagai kepala ekskutif, ini murni dari pemerintah. Maka sudah selayaknyalah tidak perlu cap atau stempel Presiden,” ucap Saiful Anam saat dihubungi redaksi, Rabu (29/4).


Menurutnya, pencitraan yang dilakukan Presiden Jokowi dapat merugikan rakyat lantaran sembako menjadi terhambat pendistribusiannya.

“Saya kira tidak perlu lagi Presiden pencitraan, semakin tersendat bantuan yang diberikan, maka makin sengsara rakyat yang menunggu ukuran tangan pemerintah,” tegas Saiful Anam.

Tidak hanya itu, hal tersebut juga bertentangan dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menginginkan agar bantuan cepat sampai ke tangan rakyat.

“Ternyata terhambat oleh atribut Presiden sendiri,” pungkas Saiful Anam menyangkan. 

Editor: Ruslan Tambak

Laporan: Jamaludin Akmal

Rmol.id, Rabu, 29 April 2020, 17:36 WIB

***

Distribusi Sembako Tersendat Hanya Karena Tas Bertuliskan “Bantuan Presiden” Belum Rampung

Rabu, 29 Apr 2020 – 19:30


Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara mengatakan penyaluran bantuan sosial (bansos) berupa paket sembako untuk warga terdampak virus Corona (Covid-19) sempat tersendat. Hal itu dikarenakan harus menunggu tas pembungkus untuk mengemas paket sembako.

Dia mengungkapkan, tas itu belum tersedia karena pemasok bahan mengalami kesulitan import bahan baku. Sehingga, menyebabkan distribusi bansos terkendala meski paket sembako sudah tersedia.

“Awalnya iya (sempat tersendat) karena ternyata pemasok-pemasok sebelumnya kesulitan bahan baku yang harus import,” katanya kepada wartawan, Rabu (29/4).

Tas untuk mengemas paket sembako itu berwarna merah putih dan bertuliskan ‘Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19’. Di tas itu juga terdapat logo Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Sosial serta cara-cara agar terhindar dari virus corona.

Politikus PDIP itu menegaskan, saat ini produksi tas kemasan tersebut sudah lancar. Dia mengaku telah mengajak perusahaan lain untuk membuat tas kemasan sehingga diharapkan distribusi paket sembako ke depannya tidak terganggu.

“Sekarang supply kantong sudah lancar. Dan sebagai info, (PT) Sritex kami ajak kerjasama tidak dari awal. Mereka baru supply kantong sejak hari Rabu lalu,” terangnya.

Seperti diketahui, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial mulai menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako senilai Rp 600 ribu kepada warga tak mampu di Jabodetabek. Sementara, keluarga di luar Jabodetabek akan mendapat Bantuan Langsung Tunai senilai Rp 600.000.

(mr/rm/mdk)/ konfrontasi.com, Rabu, 29 Apr 2020 – 19:30

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 509 kali, 1 untuk hari ini)