Wabah Penyakit Itu Azab bagi Orang Kafir dan Pelaku Dosa Besar, tapi Rahmat bagi Orang Mukmin

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah tertentu membuat khawatir para penduduknya. Wabah penyakit ini terkadang mematikan. Oleh karena itu, orang yang bersabar menghadapi wabah penyakit, dan sampai meninggal itu digolongkan sebagai orang yang mati syahid.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:


أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ

Artinya:
(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)


لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.

Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis  Ibnu Kharish dalam judul ‘Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit’ (Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)

 BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-acara-pernikahan-berakhir-petaka-37-tamu-undangan-positif-corona-bagaimana-kondisi-pengantin-baru/

***

GP Ansor soal virus corona dikaitkan dengan azab: Azab kok kecil, Tuhan mereka kecil



Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa adanya wabah virus corona yang terjadi dimulai dari China dan menyebar ke negara-negara lainnya hingga Indonesia tak pantas disebut azab dari Tuhan.

Sebab, menurutnya, skala yang terjadi cukup kecil ketimbang TBC dan penyakit yang disebabkan virus lainnya.

“Azab kok kecil, jadi dibanding TBC misalnya, dibanding influenza biasa, dibanding malaria, dibanding kecelakaan saja corona itu jauh di bawah angka kematian dan korbannya,” kata Yaqut Cholil Qoumas seusai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020), seperti dilansir kumparan.

Pernyataan Yaqut tersebut sekaligus membantah anggapan beberapa kelompok masyarakat yang beranggapan bahwa virus corona adalah azab. Jika demikian, dia menilai pihak yang memiliki anggapan seperti itu memiliki Tuhan yang kecil.

“Azab kok kecil, kalau azab Tuhan ya mungkin Tuhan mereka ini kecil saja, makanya azabnya kecil-kecil saja, kalau Tuhan kita kan besar,” ujarnya.

Dia kemudian menegaskan bahwa yang terjadi sekarang hanya persoalan kesehatan semata. Sehingga, tak pantas dikaitkan dengan azab dari Tuhan.

“Masalah kesehatan saja. Itu enggak ada urusannya sama azab,” pungkas Yaqut.

Yaqut bertemu Presiden Jokowi untuk berkonsultasi mengenai pelaksanaan Konferensi Besar GP Anshor pada tahun ini.

 

[portal-islam.idkamis, 12 maret 2020  berita nasional

***

Membela China Komunis yang kena azab virus Corona akibat kejam terhadap Umat Islam?

Maksud kecil itu apa, dan kenapa dikaitkan dengan Tuhan disebut kecil?

Kalau maksud kecil itu dari segi jumlah yang tidak sebanyak penyakit2 TBC, cacar dll dari segi banyaknya korban, maka bukankah azab terhadap Qarun itu hanya Qarun dan ditenggelamkan beserta harta dan rumahnya? Dari segi jumlah, apakah itu banyak? Tetapi karena kedurhakaannya dan kesombongan serta penentangannya terhadap utusan Allah (kalau sekarang seperti China Komunis, sebegitu kejamnya mereka terhadap Umat Islam pengikut Utusan Allah/ Rasulullah) lah maka diazab. Dan tidak ada yang mampu menolongnya. Demikian pula China Komunis tidak ada yang menolongnya dengan azab berupa virus corona, walau dianggap kecil oleh GP Ansor itu. Kecil saja tidak ada yang becus sama sekali menolongnya, apalagi besar.

Inilah azab untuk Qarun:


فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ  ٨١ [ القصص:81-81]

Artinya, “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah.
Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya
).” (QS: Al-
Qashash, 81).

Apakah ketika terbukti tidak ada yang mampu menolongnya, walau korbannya hanya satu, dan itu jelas azab karena kedurhakaannya, kekafirannya dan permusuhannya terhadap Utusan Allah ataupun pengikut2nya, itu lantas GP Ansor bisa begitu saja mengingkarinya, dan menganggapnya bahwa Tuhannya kecil, karena azab kok kecil (jumlahnya)?

Azab untuk orang kafir, (juga yang memusuhi agama Allah), jelas ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Rupanya GP Ansor itu hanya membebek kepada pentolan liberal yang sewot ketika China Komunis disebut kena azab berupa wabah virus corona. Dedengkot liberal itu sudah dicangar dengan argument seperti berikut ini.

***

Ada komen untuk dedengkot liberal yang sewot ketika wabah corona itu disebut azab untuk China Komunis

 
 

Ada dedengkot liberal yang sewot ketika wabah corona itu disebut azab untuk China Komunis yang kejam terhadap Umat Islam Uighur di Xinjiang dan lainnya. Seakan sang liberal membenarkan ucapan presiden komunis china yang menganggap wabah virus corona itu ujian-cobaan.

Lhah, kalo pentolan liberal itu tidak menentang ayat, ya cukuplah dimaklumi,  Bahwa bencana dan musibah adalah azab dan balasan yang disegerakan di dunia bagi orang-orang munafik dan kaum kafir yang memusuhi agama Allah.

Firman Allah Ta’ala:

 {فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ} [آل عمران: 56]

“Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, sedang mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imron: 56)

Dan dedengkot liberal itu ketahuan ga’ pakai otak. Karena yang namanya ujian atau cobaan adalah untuk peningkatan atau pemantapan. Memangnya diturunkannya bala’ bencana berupa wabah virus corona untuk China itu agar lebih mantap dan meningkat lagi kafirnya dan penentangannya terhadap agama Allah?

Wahai dedengkot liberal, tampaknya anda sudah menentang ayat demi membela wong Komunis China kafir yang menyiksa Umat Islam, masih pula ga’ pakai otak!

 
 

Istidraj

Perlu diingat, kalau untuk membiarkan kekafiran ataupun penentangan terhadap Allah biar lebih mantap lagi dan lebih durhaka lagi, agar nantinya siksanya lebih dahsyat lagi, biasanya dalam Islam disebut istidraj, berupa kesenangan-kesenangan dunia yang melenakan dan menambah kedurhakaan.

Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman,

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44)
(Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).


Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).


Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj. Allah a’lam

[lihat KonsultasiSyariah.com oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) tentang Makna Istidraj].

Dengan demikian, orang-orang kafir apalagi menzalimi Umat Islam dengan kejamnya, seperti China Komunis menzalimi Umat Islam Uighur di Xinjiang dan Umat Islam suku lainnya di China, maka bila pihak kafir lagi zalim itu mendapatkan musibah seperti wabah virus Wuhan/ corona yang mematikan dan memporak porandakan China, itu jelas azab.

Adapun bila bentuknya adalah kesenangan-kesenangan dunia yang mereka senangi, kemakmuran, kemajuan, kenikmatan-kenikmatan dunia yang melenakan, bahkan menambah kesombongan dan kedurhakaan, menentang agama Allah semena-mena, mau mengubah Al-Qur’an agar sesuai dengan komunisme dan sebagainya, maka kenikmatan2 yang mereka peroleh itu pun sejatinya azab namun pelan-pelan hingga ketika memuncak maka agar siksanya/ azabnya lebih pedih lagi. Itulah yang disebut istidraj.

https://www.nahimunkar.org/xi-jinping-sebut-wabah-virus-corona-ujian-besar-bagi-china-netizen-itu-bukan-ujian-tapi-azab/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 792 kali, 1 untuk hari ini)