Ilustrasi / ytb

Jontrot di warung makan berupa wanita cantik dimaksudkan pemilik warung untuk menggaet para pelanggan agar warungnya laris. Apakah itu syar’i (sesuai syari’at) atau tidak, seakan pemilik warung tidak menggubrisnya, walau mereka beragama Islam.

Di dunia perpolitikan rupanya tidak mau kalah dengan warung makan yang memejeng jontrotnya demi meraih pembeli atau pelanggan.  Lebih tidak menggubris lagi, apakah yang ditempuh itu cara-cara syar’i atau tidak. Apalagi partai yang sejatinya dari awal justru berseberangan dengan pihak-pihak yang kental keislamannya, maka apalah maknanya syari’at bagi mereka. Justru mereka berupaya keras memberangus syari’at dari tata kehidupan.

Anehnya, ketika partai yang berjauhan dengan syari’at Islam itu ingin meraih suara umat Islam, tahu-tahu ditempuh cara pasang “jontrot” sebagaimana warung makan. Bahkan anehnya, yang dijadikan “jontrot” dan tampaknya mau juga itu justru kyai dan tuan guru – tokoh Islam.

Siapa yang salah ini? Lha wong partainya saja belum tentu “doyan” Islam, kok yang dijadikan “jontrot” justru kyai dan tokoh Islam. Dan aneh lebih aneh lagi, kyai dan tokoh Islam-nya itu kok mau. Lantas, lebih “mulia” mana? Jontrot warung makan, ataukah Kyai dan Tuan Guru yang jadi “jontrot” kelompok politik yang tampaknya jadi pembela penista Islam itu?

***

Bila Kyai Dijadikan Umpan Jebak

Ada kyai yang berterus terang siap mendampingi junjungannya bila diperlukan untuk menjagokan diri ke medan laga.

Lalu kabarnya ada pula kyai yang berdiskusi sesamanya berkesimpulan, walaupun kyai, anak kyai ataupun sejenisnya dijadikan umpan jebak, tetap saja nantinya nasib umat Islam ya tidak bisa (mendapatkan kesempatan) apa-apa (ketika pihak penjebak itu menang).

Dari dua sikap itu, mustinya umat Islam tanggap. Ada kyai yang memang justru menyediakan dirinya dijadikan umpan jebak. Sebaliknya masih ada kyai yang tidak mau ikut terjebak, dan mengingatkan kepada Umat Islam agar jangan sampai terjebak.

Ingatalah. Sebaik-baik  teladan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walau dijebak dengan iming-iming aneka macam keduniaan, tetap saja utusan Allah yang mulia itu tidak tergiur sedikitpun. Lha kok sekarang ada yang mengaku-aku dirinya sebagai pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah menyediakan diri untuk jadi umpan jebak. Iki ketemu pirang perkoro?

***

Ketika Kutu Loncat Bangga Jadi Pendukung Sang Teman Dekat Penista Agama

Seorang kutu loncat dikabarkan loncat jadi pendukung orang yang dekat dengan penista agama (ayat Al-Qur’an). Bahkan tampak bangga pula, sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada menantang.

Lhah, kenapa berani bersuara lantang? Padahal yang didukung itu adalah jelas-jelas manusia yang berteman dekat dengan penista agama. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Mestinya sang kutu loncat itu malu, dan berterimakasih (atau tidak pun ga’ apa-apa) kepada orang atau pihak yang mengingatkannya bahkan mengkritiknya.

Apalagi kalau sang kutu loncat itu mau melihat ke belakang sedikit, siapakah yang kini dia dukung itu. Lha wong sebelum ini, dia juga menjadi teman dekat dari kaum walan tardho, bahkan menjadikannya sebagai wakilnya. Hingga ketika teman dekat penista agama yang menjadikan sosok walan tardho sebagai wakilnya ini meraih kursi lebih tinggi hingga meninggalkan kursinya, maka sosok walan tardho yang jadi wakilnya itu pun naik menduduki kursi sang teman dekat penista agama itu.

Ternyata babak sebelumnya pun begitu. Ketika teman dekat penista agama ini masih di daerah, dia menjadikan wong walan tardho pun sebagai wakilnya. lalu ketika dia meraih jabatan lebih tinggi di ibukota, maka sang wakil yang wong walan tardho itupun naik menduduki kursi sang teman dekat penista agama, kursi yang sudah dia tinggalkan karena mencolot ke ibukota itu.

Lha wong jelas-jelas gampang banget untuk dibaca dengan berlandaskan hadits yang tegas seperti itu, kok kini ada kutu loncat yang malah bangga menjadi pendukung teman dekat penista agama. Kedoktoranmu dari perguruan tinggi Islam terkemuka, ditaruh di mana?

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.816 kali, 1 untuk hari ini)