Waduh, Solo ada 18 germo memelihara pelacur ABG rawan menyebar AIDS

(Bahasa Jawa dan Indonesia)

Salah satu pintu masuk sudut Kota Solo

Ngati-atio. Saiki dikabarake, kota Solo kuwi ono 18 germo sing ngingu ciblek (cilik-cilik betah melek) alias pelacur ABG (anak baru gede).

Hati-hatilah. Sekarang dikhabarkan, kota Solo itu ada 18 germo yang memelihara ciblek (cilik-cilik betah melek) alias pelacur ABG (anak baru gede).

Bocah-bocah wedok sing kudune dididik supoyo mengko dadi ibu-ibu sing ngopeni anak-anak supoyo dadi wong-wong sing sholeh-sholeh kuwi malah jebule dadi koyo ngono’an. Wis awake podo rusak morale, biso keno penyakit kelamin malahan nganti keno AIDS tur rawan nyebarake AIDS. Kuwi banget rusake kanggo bocah-bocah rusak kuwi dewe lan kanggo liyo-liyane.

Bocah-bocah perempuan yang seharusnya dididik agar jadi ibu-ibu yang mengasuh anak-anak agar jadi orang-orang yang shaleh itu bahkan tahu-tahu  jadi kayak begituan. Sudah diri-diri mereka rusak moralnya, bisa kena penyakit kelamin, bahkan sampai kena AIDS lagi pula rawan menyebarkan AIDS. Itu sangat rusaknya bagi anak-anak yang rusak itu sendiri dan bagi lain-lainnya.

Ono sing ngabarake jarene malah kondang yen kuto iki dipimpin wong sing biso mimpin nganti tertata apik. Nanging jebule malah isine bleketekan tho?

Ada yang mengabarkan katanya bahkan kondang bahwa kota ini dipimpin orang yang bisa memimpin sampai tertata bagus. Tapi tahu-tahu bahkan isinya bleketekan tho?

Kamongko yen jeneng zina kuwi wis ketok melok-melok, tegese wong-wonge njarag yo wis ben yen arep ketekanan bendu lan adzabe Allah Ta’ala.

Padahal kalau namanya zina itu sudah tampak nyata-nyata, artinya orang-orangnya sengaja ya sudahlah biar kalau akan kedatangan murka dan adzab Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad ngendiko:

Nabi Muhammad bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Yento zina lan riba wis ketok melok-melok ing sawijining negari, mongko temen-temen wong-wonge wis manggonake awak-awake ing adzabe Allah ‘Azza wa Jalla. . (HR At-Thabrani dan al-Hakim dari Ibnu Abbas, shahih).

Apabila zina dan riba telah tampak terang-terangan di suatu desa maka sungguh mereka telah menempatkan diri mereka pada kitab (adzab) Allah ‘azza wa jalla.”(HR At-Thabrani dan al-Hakim dari Ibnu Abbas, shahih).

Ketoke wong-wonge sing kudu tanggung jawab malah mung arep ngurusi supoyo arepo podo mbajing anggere ora keno AIDS. Mulane koyo-koyo malah ciblek-ciblek kuwi bareng-bareng diingu, antarane germo lan wong sing sejatine biso mbrantas, sisan kanggo ngrusak masyarakat Islam sajake.

Kelihatannya orang-orang yang harus bertanggung jawab malah hanya akan mengurusi agar walaupun orang-orang akan melacur asal tidak kena AIDS. Makanya seakan-akan ciblek-ciblek itu dipiara bersama-sama, antara germo dan orang-orang yang sebenarnya dapat memberantasnya, sekalian sambil untuk merusak masyarakat Islam kira-kira.

Yen ora, mesti rak yo dibrantas. Lha germo-germone yo wis jelas wonge, lan cacahe yo wis dingerteni kanti mesti. Malah nganti ingon-ingone saben germo kuwi pirang ciblek yo wis dingerteni. Lha kok jebule malah mung diajak glenikan, tur karo rodo dipuji barang. Nganti germo-germo kuwi dijenengi kordinator.

Kalau tidak, mestinya ya diberantas. Lha germo-germonya ya sudah jelas orangnya, dan jumlahnya juga sudah dimengerti dengan pasti. Malahan sampai piaraannya setiap germo itu berapa ciblek juga sudah diketahui. Lha kok tahu-tahu malahan hanya diajak bisik-bisik, lagi pula dengan agak dipuji segala. Sampai germo-germo itu dinamai kordinator.

Kuwi koyo-koyo ora mungkin yen ora margo podo nduwe misi sing podo eleke. Yo kuwi ngingu ciblek kanggo ngrusak masyarakat lan kanggo golek duwit haram.

Itu seakan-akan tidak mungkin kalau mereka tidak memiliki misi yang sama buruknya. Ya itu memelihara ciblek untuk merusak masyarakat dan untuk mencari duwit haram.

Bener-benar bajingan kabeh!

Benar-benar bajingan semua!

Yen ora percoyo, iki wacanen.

Kalau tidak percaya, bacalah ini.

***

Awas! Kimcil Sangat Beresiko Tertular AIDS

Solo — Kimcil adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut Anak Baru Gedhe (ABG) nakal. Arti Kimcil sendiri hingga saat ini masih abstrak. Hanya saja, istilah tersebut lebih identik dan berkonotasi negatif, sehingga digambarkan pada ABG dengan perilaku kehidupan pergaulan bebas. Bahkan belakangan ini istilah Kimcil lebih diplesetkan lagi pada wanita pekerja seks (WPS) yang berusia remaja, yang mayoritas masih berusia belasan tahun.

Ternyata Kimcil sangat rentan terhadap penularan HIV/AIDS. Data yang diperoleh dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo, keberadaan Kimcil merupakan salah satu penyebab penularan AIDS dengan tingkat resiko tinggi (Risti). Bahkan, Kimcil atau di daerah lain dinamai dengan Ciblek (cilik-cilik betah melek –Red) termasuk dalam kalangan Risti baru dengan resiko penularan HIV/AIDS sangat tinggi.

Pengelola Program KPA kota Solo, Tommy Prawoto mengaku, pihaknya saat ini sangat sulit melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap keberadaan Kimcil di Kota Solo. “Kesulitannya, mereka saat ini belum terbuka dengan kami. Jadi sangat sulit untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadapnya,” katanya kepada wartawan, Senin (2/4).

Kimcil yang beroperasi di Kota Solo biasanya terorganisir. Tiap kelompok ABG yang menjalankan bisnis prostitusi tersebut mempunyai satu orang koordinator setingkat germo. Tiap koordinator, akan mengatur operasional bawahannya secara rapi dan tertutup. “Jam operasional mereka rata-rata antara pukul 13.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB,” tambahnya.

Hal tersebut dapat dimaklumi, lantaran usia mereka yang masih belia, di luar jam tersebut biasanya beraktivitas di sekolah atau kampus tempat mereka belajar. Di atas jam itu mereka biasanya juga jarang bisa beroperasi, karena sudah berada di dalam rumah masing-masing.

Lebih lanjut Tommy menyebutkan, kesulitan yang dialami oleh KPA adalah kurang adanya keterbukaan dari masing-masing personalnya. “Koordinatornya bisa terbuka dengan kami, tapi anaknya yang tidak mau, mungkin tidak mau identitasnya terbuka,” terang Tommy. Saat ini, koordinator yang sudah mau terbuka dengan KPA ada 18 orang yang tersebar di seluruh kota Solo. Tiap koordinator biasanya membawahi 8-10 ABG. Dhefi Nugroho – Timlo.net  Selasa, 3 April 2012 | 18:22 WIB.

Foto:   tono-solo.blogspot.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.547 kali, 1 untuk hari ini)