Inilah berita-beritanya.

***

AKUISISI DANAMON: Temasek, Dari Rp3 Triliun Jadi Rp45 Triliun

Oleh Bastanul Siregar

Senin, 02 April 2012 | 12:10 WIB

JAKARTA: Temasek Holdings meraih potensial gain besar karena harga 67,73% sahamnya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk melalui Asia Financial Indonesia Pte Ltd kini mencapai Rp45,2 triliun.

Pasalnya, Temasek melalui Asia Financial Indonesia hanya membayar Rp3,08 triliun untuk memiliki 51% saham Danamon yang dikuasai pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 2003.

Itu berarti, hanya dalam tempo 8 tahun, ada selisih kotor Rp42,12 triliun antara nilai saham Danamon yang dikendalikannya pada 2003 dan nilai saham Danamon yang dikendalikan sekarang.

Daftar manis Temasek di Indonesia ini kian panjang kalau ditambah cerita PT Telkomsel, PT UOB Buana, PT Bank NISP, PT Indosat Tbk, dan Astra plus anak usahanya. Betapa beruntungnya, Temasek! (Bsi)

http://www.bisnis.com/articles/akuisisi-danamon-temasek-dari-rp3-triliun-jadi-rp45-triliun

***

NB : itu baru selisih dari penjualannya, belum dari DEVIDEN yg RUTIN dibayarkan tiap tahun dari bank danamon dan ADIRA MULTIFINANCE.

ITU baru dari danamon. bakal semakin pilu kalo astra yg dibahas

PRESTASI luar biasa salah satu pimpinan kita

hayooo …. siapakah dia ???

bagi yg ga tau, TEMASEK itu adalah perusahaan BUMN singapura yg menjajah dunia melalui akuisisi akuisi nya

***

http://forum.detik.com/showthread.php?p=7946693
MayBank Kuasai BII, Temasek Untung Rp 8,15 Triliun

Megawati memperkaya Singapura Rp. 8,15 triliun

Quote:

MayBank Kuasai BII, Temasek Untung Rp 8,15 Triliun

Temasek Holdings menangguk untung Rp 8,15 triliun dari hasil melego kepemilikan sahamnya di PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) kepada Maybank. Bank terbesar di Malaysia itu telah membeli 100% saham konsorsium Sorak Financial senilai US$ 1,5 miliar atau Rp 13,5 triliun.

Di konsorsium Sorak, Temasek melalui Fullerton Financial Holdings Pte. Ltd (FFH) memiliki 75% saham, sedangkan 25% milik Koomin Bank, lembaga keuangan asal Korea Selatan. Dengan komposisi tersebut, FFH menguasai 56% saham BNII dengan modal pembelian sekitar Rp 2,2 triliun.

Pada 2003, FFH hanya mengambil porsi 50% di konsorsium Sorak. Konsorsium itu membeli 51% saham BNII senilai Rp 1,9 triliun pada harga Rp 82 per saham. Saat itu, harga saham BII di bursa berada di posisi Rp 110 per saham.

Selanjutnya, FFH membeli 20% saham BII yang dikuasai ICB Financial Group Holdings AG senilai Rp 1,36 triliun. FFH juga membeli 4,98% saham BNII milik Barclays. Jadi, total modal yang dikeluarkan FFH untuk menguasai 56% saham BNII sekitar Rp 2,2 triliun.

Dalam siaran persnya Rabu (26/3), Temasek menyatakan telah melepas 75% saham mereka di konsorsium Sorak dengan nilai US$ 1,12 miliar (Rp 10,35 triliun) dengan beberapa syarat yang telah disepakati. “Kami yakin Maybank dapat memperkuat BII guna mendukung pertumbuhan dalam fase perkembangan selanjutnya,” tegas Direktur FFH Tow Heng Tan.

Di tempat terpisah, Chief Executive Officer Maybank Aminuddin Md Desa mengatakan, pihaknya telah mengakuisisi 100% saham Sorak Financial Holdings Pte Ltd di BNII senilai US$ 1,5 miliar (Rp 13,5 triliun). Maybank juga akan melakukan tender offer atas 44,3% saham lainnya. Dengan demikian Maybank dipastikan akan menguasai BII.

Setelah melewati uji tuntas akhir pekan lalu, Maybank berhasil menyingkirkan dua bank asal Tiongkok, Commercial Bank of China (CBC) dan China Construction Bank, serta bank asal Inggris HSBC Bank.

Bank sentral Malaysia telah menyetujui akuisisi itu. Maybank berharap Bank Indonesia juga menyetujui proposal akuisisi tersebut.

Menurut Aminuddin, akuisisi itu merupakan bagian dari rencana Maybank untuk memperkuat bisnisnya di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia. “Kami sangat gembira karena sektor perbankan Indonesia masih memunyai potensi besar untuk dikembangkan dan memiliki potensi sangat baik dalam jangka panjang,” kata dia.

Saat ini, Maybank telah memasuki periode conditional sale and purchase agreement (SPA) untuk mengakuisisi 100% saham konsorsium Sorak itu. Temasek pun telah menyepakati nilai transaksi tersebut.
Menurut Tow Heng Tan, banyaknya investor yang memperebutkan BII menunjukkan optimisme dunia luar atas prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. ”Ini membuktikan kuatnya optimisme kami terhadap prospek Indonesia,” kata dia.

Tender Offer

Maybank segera melakukan tender offer atas saham yang dimiliki pihak lain di luar konsorsium Sorak yang mencapai 44,3%. Nilai saham itu mencapai US$ 1,2 miliar. Selain Sorak, Aranda Investmen Maurits menguasai 38,25% dan publik 6,03% saham. Dengan demikian, total nilai BII mencapai US$ 2,7 miliar atau sekitar Rp 24,3 triliun.

Hari ini, manajemen BII akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan dihadiri oleh pemegang saham lama dan baru. Salah satu agenda RUPS adalah mendengarkan presentasi rencana bisnis Maybank atas BII ke depan. “Namun, RUPS ini memang sudah lama dijadwalkan, jadi bukan karena akuisisi oleh Maybank,” kata Dira K Mochtar, direktur BII.

Dira memperkirakan, Maybank akan lebih agresif lagi. Maybank bukan pemain baru di sektor perbankan Indonesia. Sebelum krisis, Maybank telah berperan dalam bisnis perbankan nasional. Saat itu, Maybank dikenal sangat kuat menggarap corporate banking.

Setelah krisis, Maybank telah menjelma menjadi institusi keuangan yang menguasai sektor konsumsi. “Dengan masuknya Maybank, BII akan semakin kuat di corporate banking dan konsumsi,” kata Dira.

Menurut Aminuddin, Maybank akan mentransfer know how dalam mengelola bank syariah, bancassurance, dan Takaful di BII. Saat ini, Maybank memiliki 450 kantor di 14 negara seperti Singapura, Filipina, Brunai, Vietnam, Indonesia, Kamboja, hingga Amerika Serikat. Di Bursa Malaysia, Maybank terbesar dari segi kapitalisasi pasar.

Tawaran Tertinggi

Pengamat pasar modal Daniel Listiadi mengatakan, tawaran yang diajukan Maybank merupakan tawaran terbesar sepanjang sejarah industri perbankan Indonesia. Tawaran itu sebagai langkah berani dan spekulatif. “BII memiliki laba bersih yang negatif dan pertumbuhannya cenderung melambat dibandingkan dengan bank besar lain di Tanah Air,” kata dia.

Aksi Maybank itu dipicu oleh kondisi makro dan kinerja keuangan perbankan di Indonesia yang tumbuh positif dari tahun ke tahun. Bagi BII, tender offer itu akan meningkatkan kinerja keuangannya di masa mendatang.

“Nama baik Maybank di tingkat regional dan suntikan dana yang besar akan menjadi penetrasi pasar. Selain itu, Maybank akan memasukkan sumber daya manusia yang profesional dalam jajaran direksi BII,” tandas Daniel.

Hal senada diungkapkan Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero. Penawaran tinggi Maybank itu tidak mungkin dilakukan tanpa adanya tawaran dari kompetitor. “Penawarannya mencapai 4,7 x nilai buku BII. Ini adalah harga yang super tinggi bagi bank seukuran BII,” ujar dia.

Penawaran tersebut akan menimbulkan amortisasi pada laporan keuangan Maybank. Maybank mengeluarkan dana investasi yang besar, sehingga bank itu akan mencari dana lebih besar setelah memperoleh persetujuan.

“Opsi yang mungkin dilakukan adalah rights issue danmenerbitkan surat utang karena akan berat sekali jika mengandalkan pendapatan dari perbankan saja,” tandas Poltak. (c119)

http://forum.detik.com/showthread.php?p=7946693

***

“Buntung”, Megawati Jual Indosat (2002)

OPINI | 11 June 2009 | 11:00

Setelah tulisan saya sebelumnya menguak keuntungan dari penjualan PT. Indosat kepadaSingapore technologies Telemedia (STT) yang merupakan anak usaha Temasek Holding Company, MNC (Multi National Corporation) asal Singapura. Kali ini saya akan mencoba menganalisa kerugian kita akan penjualan PT. Indosat itu yang dilakukan pada masa pemerintahan Megawati, yang nyata merupakan alat bagi para lawan Megawati untuk menyerangnya dalam pertarungan Pilpres kali ini. Banyak yang mengatakan dengan menjual PT. Indosat kepada Asing ini berarti menjual kedaulatan kita.

Berikut beberapa kerugian yang kita peroleh akibat penjualan Indosat ini :

1. Pihak asing yang berinvestasi di Indonesia saat ini tidak mematuhi aturan dan Undang-undang tentang penanaman modal asing bahkan terkesan meremehkan. Pasalnya Kepemilikan STT (Temasek) atas Indosat yang memegang saham sekitar 41% itu bukan satu-satunya investasi perusahaan singapura tersebut, ini dikarenakan Temasek melalui anak usahanya yang lain Singtel (Singapore Telecommunication) juga memiliki saham pada PT. Telkomsel yang notabene milik pemerintah RI. Kepemilikan saham Singtel atas Telkomsel sekitar 35%, dengan itu maka Temasek selaku induk perusahaan atas kedua anak usahanya yang berinvestasi pada industri telekomunikasi Indonesia (PT. Indosat dan PT. Telkomsel) diklaim oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) telah melakukan pelanggaran Undang-undang Anti Monopoli dan persaingan Usaha tidak Sehat. Ini dikarenakan kepemilikan ganda temasek terhadap 2 perusahaan telekomunikasi besar indonesia yaitu dengan memiliki saham pada PT. Indosat sekitar 41% dan 35% pada PT. Telkomsel. Temasek juga terlibab kasus kepemilikan silang “Cross Ownership” terhadap investasinya itu. Semua ini jelas bahwa pihak Temasek telah menganggap remeh UU kita dan tidak menghiraukan gugatan KPPU yang tetap ngotot mebela diri walaupun akhirnya Temasek harus tunduk terhadap UU kita. Jika ini terus dibiarkan, maka pihak asing lainnya yang akan berinvestasi di Indonesia akan melakukan hal yang sama dan UU kita rasanya tak mempang menembus para investor atau korporasi asing.

2. Dengan kepemilikan silang Temasek atas PT. Indosat dan PT. Telkomsel ini juga berdampak pada penetapan tarif (Price Fixing) antara tarif Indosat dan Telkomsel, sehingga Temasek dapat memonopoli harga yang menyebabkan persaingan tidak sehat antara Indosat dan Telkomsel. Hal ini juga dikarenakan para petinggi Temasek ikut berkontribusi dalam Penetapan tarif ini dan beberapa pihak dari Temasek juga ada yang menduduki posisi penting dalam struktur direksi Indosat dan telkomsel.

3. yang terakhir ini merupakan kerugian yang paling berbahaya, yaitu kedaulatan. Dengan kepemilikan silang Temasek itu dikhawatirkan dan diduga pihak/pemerintah Singapura dapat mengontrol dan mengetahui akan sistem keamanan Indonesia bahkan rahasia negara kita dapat dicuri oleh singapura. ini disebabkan salah satunya karena Temasek memiliki 41% pada Indosat yang merupakan pemilik satelit kebanggaan kita yaitu satelit Palapa, sehingga semua informasi dan data-data yang seharusnya menjadi rahasia negara RI dapat diperoleh dengan mudah oleh singapura serta keamanan nasional (National security) akan kedaulatan kita pun terancam. Keamanan merupakan perisai bagi setiap bangsa atas ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam serta menyangkut kepada masyarakat yang menjadi penghuni suatu negara (Kolektif), seperti kata Barry Buzan dalam bukunya “People, state, and Fear: The Nation Security Problem in International Relation” yaitu ” The purpose of national security is to make state or at least sufficienly secure if we reject the absolute possibility“. Bahwa tujuan dari keamanan nasional (National Security) adalah untuk membuat negara aman atau setidaknya aman jika kita menolak untuk kemungkinan nyata.

Dari semua kerugian diatas, rupanya kebijakan Megawati untuk menjual PT. Indosat mengandung resiko yang sangat besar dan merugikan bagi kita walaupun ada sisi baiknya seperti paparan pada tulisan saya sebelumnya. Tenyata dalih Megawati tentang alasan kenapa ia menjual Indosat karena untuk menghindari monopoli pemerintah terhadap kepemilikan dominan pemerintah pada 2 perusahaan telekomunikasi tersebut sebelum privatisasi, bukannya untung malah “buntung” jika kita mengacu hanya pada kerugian yang diterima.

Namun bila kita bandingkan kerugian dengan keuntungan atas penjualan tersebut, kiranya kata untung atau “buntung” yang pantas untuk menggambarkan ini semua ????? dan wajarkah Megawati mendapatkan serangan dari lawan politiknya yang menurut banyak kalangan sebagai keteledoran masa lalunya itu pada saat menjelang Pilpres kali ini??

NuruL

http://politik.kompasiana.com/2009/06/11/buntung-megawati-jual-indosat-2002/

***

 00t: ngakunya bela rakyat, Aset negera dijualin 🙂

ngakunya bela rakyat, Aset negera dijualin 🙂

ini ga masuk penjara ya?

ngakunya bela rakyat, Aset negera dijualin 🙂

DARI: Dod

KEPADA: insistnet@yahoogroups.com  Rabu, 4 April 2012 7:16

 (nahimunkar.com)

 

(Dibaca 902 kali, 1 untuk hari ini)