• Faham sekuler, pluralisme agama dan liberalisme yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005 justru jadi menu utama di buku itu. Ini tentu sangat membahayakan, maka wajib ditolak. Juga syiah yang harus diwaspadai bahayanya karena bertentangan dengan pokok-pokok Islam, menurut Surat Edaran Departemen Agama RI 1982, kini  malah dijejalkan dalam buku itu untuk disayangi.

Ada kisah yang dipaksakan, berjudul Bertamasya Jadi Gak Asyik

  •  Bila disimak dari kisah itu, penulis buku itu ingin menggiring bahwa siswa muslim menjadi biang masalah. Ada kesan bahwa sosok muslim seperti Dudung itu sangat tidak toleran. Dalam buku itu tuduhan tidak toleran hanya dilihat dari cerita bikinan tentang persoalan tamasya menjadi tidak menyenangkan, hanya karena  berdebat soal memilih jenis musik. Penulis tidak tepat memberi analogi semacam itu.
  •  Konyolnya, dalam inti pelajaran yang dipetik dari cerita tersebut, buku tersebut memberikan pembelajaran berupa toleransi dan Pluralisme Agama. Lalu serta merta disisipkan dalil al Qur’an tentang pluralisme agama (QS al Kafirun:6). “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” Padahal justru dalil itu menunjuk kekafiran tidak boleh disamakan dengan Islam. Lebih tegasnya di ayat lain:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

 Buku Berkedok Pendidikan Karakter: Dari Syiah, Inklusif, hingga Gender

  • Ada ketidakjujuran penulis buku tersebut dalam mengurai fakta. Kenapa tidak disinggung pihak gereja yang telah menyalahi aturan SKB 3 Menteri. Seolah problema toleransi itu ada di kalangan umat Islam. Juga tidak disebut, apakah ajaran Syiah itu? Bagaimana kesesatannya? Seharusnya, buku Materi Pendidikan Agama Islam (PAI) seperti ini menjelaskan tentang bagaimana kesesatan Syiah, dan pelanggaran yang dilakukan pihak gereja liar yang menyalahi aturan pemerintah setempat.
  • Ternyata, oh ternyata, beberapa lembaga non pemerintah juga turut berperan dalam mengkampanyekan wacana dan praktek pendidikan karakter seperti yang dilakukan oleh Sekolah Plus Muthahari, Bandung yang punya kepentingan untuk membela dirinya sebagai warga Syiah.  
  •  Bagi yang kurang cermat membaca buku ini, akan terjebak dengan hal-hal yang kelihatannya normatif dan universal. Padahal dibalik itu terselubung kesesatan yang terbungkus oleh nilai-nilai. Sepertinya, kaum liberal dan Syiah bersatu untuk menyesatkan umat Islam melalui buku pelajaran yang menjadi bahan belajar mengajar di sekolah.

Inilah beritanya.

***

Modus Pemurtadan dalam Buku Pendidikan Karakter Pendidikan Agama Islam

Rabu, 02 May 2012

JAKARTA (VoA-Islam) – Materi pengayaan pendidikan karakter yang terdapat dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) seharusnya lebih menguatkan nilai-nilai ketauhidan siswa , khususnya yang beragama Islam. Bukan malah melunturkan akidah dengan menyelipkan nilai-nilai sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Inilah bentuk potret buram pendidikan agama Islam yang disusupi aktivis liberal.  

Dalam buku Materi Pengayaan Pendidikan Karakter; Mengarusutamakan Nilai-nilai Toleransi, Anti Kekerasan dan Inklusif untuk Materi Pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) Tingkat SMA, yang diterbitkan Ma’arif Institute — bekerjasama dengan sejumlah dinas pendidikan di beberapa daerah, seperti Jogyakarta, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Cianjur dan Surakarta ini —  terdiri dari 14 Bab dengan tematik sebagai berikut:

Toleransi, Hak Beragama, Hak Menjalankan Praktik Keagamaan, Dakwah: Mengajak Tanpa Memaksa, Berlaku Adil terhadap Perbedaan, Anti Kekerasan, Demokrasi, Memahami dan Mengelola Konflik, Memberi Maaf, Berlomba dalam Kebaikan, Menghargai Karya dan Budaya Bangsa lain, Inklusif sebagai Semangat Peradaban Islam, dan Karakter Inklusif Islam Nusantara.

Selain PAI, juga diterbitkan buku Materi Pengayaan Pendidikan Karakter untuk Mata Pelajaran PKn Tingkat SMA, terdiri dari 14 Bab, dengan tema sebagai berikut: Bhineka Tunggal Ika, Kesetaraan, Anti Diskriminasi, Demokrasi, Kebebasan Pers, Penegakan Hukum, Keterbukaan terhadap Perbedaan, Pancasila Rumah Bersama Indonesia, dan Keadilan Sosial.

Masing-masing buku Materi Pengayaan Pendidikan Karakter itu juga dilengkapi dengan Ringkasan Materi, Tujuan Pembelajaran,  Inti Pelajaran, Pengayaan,  dan Evaluasi.

Dalam Bab 1 tentang Toleransi, penulis buku ini membuat analogi ihwal nilai-nilai toleransi dengan sebuah cerita yang dipaksakan. Berikut ceritanya:

Bertamasya Jadi Gak Asyik

Suatu saat, siswa-siswa kelas 1 SMA Cikamari memadati bus saat akan berangkat bertamasya menuju pantai Pameungpeuk. Guru mereka, Pak Deden berharap pada murid lebih kompak dan bersatu sebagai sebuah kelompok. Sayangnya, kesatuan bukanlah hal yang mereka alami. Bahkan sebelum mereka masuk jalan tol, Winda, Dudung, Tono, dan Berta, memulai perjalanan tersebut dengan berdebat soal musik yang akan dimainkan di tape recorder dekat supir.

Berta ingin lagu rohani Brery Pesotiga, tetapi Dudung lebih suka music nasyid al-Jidar. Tono meminta agar lagi pop rock ala Republik Dusta yang dimainkan. Sedangkan Winda ingin lagu-lagu perjuangan yang diperdengarkan. Karena perdebatan diantara mereka, akhirnya sang supir memilih untuk menyetel lagu klasik Pancaran Sinar Pertamax (PSP).

Situasi semakin memburuk ketika mereka beristirahat saat Maghrib. Dudung menyarankan agar mereka shalat bersama sebelum makan. Tono mengeluh bahwa dia lapar. Namun akhirnya Tono memilih untuk shalat Maghrib dulu.

Begitu mereka berkumpul di dalam mushalla, Made mulai menyanyi nyaring dengan nada tinggi. Dudung lalu berkata bahwa mungkin sebaiknya tur ini menjadi sebuah tur untuk muslim saja. Dan tamasya pun menjadi kurang menyenangkan.

Saat itulah Pak Deden memanggil semua murid untuk bicara.

Dari kisah itu kemudian menyisakan pertanyaan, masalah apa yang menyebabkan tamasya jadi gak asyik lagi?

Bila disimak dari kisah itu, penulis buku itu ingin menggiring bahwa siswa muslim menjadi biang masalah. Ada kesan bahwa sosok muslim seperti Dudung itu sangat tidak toleran. Ukuran toleransi tidak dilihat dari persoalan tamasya menjadi tidak menyenangkan, hanya karena  berdebat soal memilih jenis musik. Penulis tidak tepat memberi analogi semacam itu.

Anehnya lagi, mereka kembali ribut di dalam mushalla. Lucunya, Made (dikesankan sebagai pemeluk Hindu) justru berada di dalam mushalla, padahal dia tidak shalat, lalu dia mengacau dengan nyanyian dengan nada tinggi. Cerita yang sungguh dipaksa-paksakan.

Pluralisme Agama

Konyolnya, dalam inti pelajaran yang dipetik dari cerita tersebut, buku tersebut memberikan pembelajaran berupa toleransi dan Pluralisme Agama. Lalu serta merta disisipkan dalil al Qur’an tentang pluralisme agama (QS al Kafirun:6). “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Dijelaskan dalam buku itu: Pluralisme agama merupakan perwujudan dari kehendak Allah Swt agar manusia berlomba-lomba dalam kebajikan. Dia tidak menginginkan hanya ada satu agama, walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk melakukan hal itu bila Dia menghendaki. Lalu kembali mencomot dalil QS. al-Maidah: 48.

Lebih parah lagi, buku materi pengayaan PAI itu menjelaskan: Bukan hanya mengakui perbedaan dan pluralitas agama, lebih jauh al-Qur’an mengakui keberadaan golongan-golongan non-agama. Lagi diselipkan dalil QS. Yunus: 99.

Dijelaskan, setiap penganut agama dianut bukan saja mengakui keberadaan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan agama guna tercapainya kerukunan dalam kehidupan beragama.

Dalam pengayaan terkait menghargai perbedaan agama, diberikan contoh yang sangat tidak relevan.

“Buka Bersama di Warung Nasi Peduli Kasih”

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah tahunan umat Islam dimana pun mereka berada. Berbuka pada saat Maghrib adalah saat yang dinanti-nanti. Di Kota Solo, tepatnya di Manahan, sebuah Gereja Kristen Jawa mendirikan depot “Warung Nasi Peduli Kasih”. Warung ini menjual satu porsi berbuka hanya dengan harga Rp. 500,- bagi siapa saja yang ingin ber-ifthar (berbuka puasa).

Jika sudah jelas dalil lakum dinukum waliyadin, kenapa gereja sampai repot mengurus ibadah orang lain. Bukankah lebih baik gereja mengurus sendiri umat Kristiani yang lapar. Tak perlu lah gereja menjual nasi seharga Rp.500. Cukuplah menghormati umat Islam yang berpuasa. Itulah makna toleran.

Ditulisnya, “Beragama adalah pilihan yang sangat individual. Hak memilih atau menentukan agama diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Oleh karenanya manusia dipersilahkan secara bebas untuk memilih agama. Adanya keragaman merupakan konsekuensi dari pilihan itu.” Lalu dikutiplah dalil QS. al-Kahfi:29

Ingat dan catat! Pesan Pluralisme Agama itu ada di dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Membaca buku materi pengayaan yang diterbitkan Maarif Institute ini telah menghantarkan guru dan siswa pada pemurtadan, setidaknya mendangkalkan akidah.

Pendidikan Agama Islam yang seharusnya menguatkan nilai-nilai tauhid dan menanamkan akidah yang kokoh pada siswa tidak terlihat sama sekali dalam buku ini. Bahkan dalil “Tidak ada paksaan dalam beragama” ditafsirkan bahwa setiap orang boleh memilih agama menurut keyakinannya masing-masing. Bahkan berhak untuk murtad, berpindah menjadi Kristiani sekalipun.Naudzubillah! Desastian

***

Buku Berkedok Pendidikan Karakter: Dari Syiah, Inklusif, hingga Gender

JAKARTA– Masih membedah buku Materi Pangayaan Pendidikan Karakter untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Tingkat SMA yang diterbitkan oleh Maarif Institute. Pada Bab 3 tentang Hak Menjalankan Praktik Keagamaan, memuat peristiwa yang disadur dari pemberitaan di media massa, terkait soal kekerasan terhadap kaum Syiah di Sampang, Madura.

Berikut sepenggal cerita yang bertajuk Gali Ide:

“Kebhinekaan di Tanah Air kembali dinodai. Kekerasan atas nama agama kembali terjadi. Menjelang pergantian tahun, Kamis, 29 Desember sekitar pukul 9:15, pesantren milik warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, dibakar massa. Meski tidak menimbulkan korban, aksi ini menghanguskan tiga rumah dan satu musholla….”

Dalam peristiwa itu juga mengutip pernyataan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif yang mengutuk aksi kekerasan terhadap Syiah. Juga disinggung soal pengusiran terhadap aliran Ahmadiyah.

Ternyata, oh ternyata, beberapa lembaga non pemerintah juga turut berperan dalam mengkampanyekan wacana dan praktek pendidikan karakter seperti yang dilakukan oleh Sekolah Plus Muthahari, Bandung yang punya kepentingan untuk membela dirinya sebagai warga Syiah.  

Dari berita tersebut, siswa diminta untuk merenungkan dan menjawab pertanyaan, salah satunya: Bagaimana pandanganmu terhadap beberapa perda, kebijakan dan tindakan diskriminatif pihak berwajib yang berisi pelarangan pendirian tempat ibadah bagi agama tertentu?

Kemudian dalam pengayaan di buku tersebut, dijelaskan: Mari kita coba menelaah dan memahami isi SKB 3 Menteri tentang pembangunan rumah ibadah dengan logika.

Ada ketidakjujuran penulis buku tersebut dalam mengurai fakta. Kenapa tidak disinggung pihak gereja yang telah menyalahi aturan SKB 3 Menteri. Seolah problema toleransi itu ada di kalangan umat Islam. Juga tidak disebut, apakah ajaran Syiah itu? Bagaimana kesesatannya? Seharusnya, buku Materi Pendidikan Agama Islam (PAI) seperti ini menjelaskan tentang bagaimana kesesatan Syiah, dan pelanggaran yang dilakukan pihak gereja liar yang menyalahi aturan pemerintah setempat.

Lucunya lagi, dalam Bab 7, buku ini juga membahas soal Demokrasi. Seolah demokrasi berasal  dari Islam. Dengan mencomot dalil Al Qur’an (QS. Ali Imran: 159 dan As-Syura: 28), dijelaskan, tujuan pembelajaran  diharapkan agar peserta didik dapat berperilaku hidup demokratis dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih aneh lagi, sistem pemilihan dengan suara terbanyak (votting) dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam. Bahkan, Nabi Muhammad dinilai sebagai sosok pribadi yang demokratis dalam kehidupan social.

Inklusif & Kesetaraan Gender

Terdapat dua bab (Bab 13 dan Bab 14) yang memasukkan pesan inklusif dalam buku pendidikan karakter Pendidikan Agama Islam tersebut. Dalam Bab 13, dijelaskan tujuan pembelajaran dari topic “Inklusif sebagai Semangat Peradaban Islam”, yakni peserta didik dapat memahami contoh-contoh terbaik praktek kehidupan social-keagamaan yang inklusif pada masa abad pertengahan.

Sedangkan pada Bab 14 berjudul Karakter Inklusif Islam Nusantara. Dijelaskan dalam ringkasan materi: “…Islam telah memberi warna kebudayaan bagi sejarah bangsa ini. Maka Islam tidak seharusnya dipisahkan atau dipertentangkan dengan budaya Nusantara.”

Tujuan pembelajaran adalah agar peserta didik memahami dan menerapkan upaya dakwah di Indonesia yang dilakukan dengan damai tanpa kekerasan ataupun peperangan.

Yang jelas, buku ini tidak memuat sejarah secara utuh. Ketahuilah, bahwa Islam menghadapi ujiannya ketika dihadang dan dikibiri oleh bangsa penjajah. Dengan dakwah dan jihad, Islam tegak di muka bumi Indonesia.

Kemudian, inti pelajaran yang dipetik dari siswa (menurut buku tersebut) adalah umat Islam sebagai penduduk mayoritas Nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah senafas agar Islam yang berkembang di Indonesia merupakan agama yang ramah, inklusif dan terbuka terhadap keragaman budaya.

Lalu disimpulkan, budaya Nusantara tersebut tidak semestinya dipertentangkan dengan Islam, sebab justru akan menambah khasanah dan kekayaan Islam yang rahmatan lil alamin.

Yang menjadi pertanyaan, apakah semua keragaman budaya bisa diterima oleh Islam? Tentu saja tidak. Budaya yang mengandung kemusyrikan sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri. Dan satu hal, Islam itu bukanlah budaya, sehingga harus dipisah antara Islam sebagai agaman dan budaya itu sendiri.

Selanjutnya dalam Buku Materi Pengayaan Pendidikan Karakter untuk Mata Pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) dalam Bab I (Bhineka Tunggal Ika) diajarkan soal nilai-nilai pluralism. Sedangkan dalam Bab 2 dijelaskan soal Kesetaraan Gender.

Dijelaskan, Bhineka Tunggal Ika itu berisi konsep pluralitas dan multikulturalitas dalam kesatuan kehidupan yang utuh. Salah satu prinsip yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika yang bersifat inklusif dimaknai bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa dirinya yang paling benar, paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak lain..”

Bagi yang kurang cermat membaca buku ini, akan terjebak dengan hal-hal yang kelihatannya normatif dan universal. Padahal dibalik itu terselubung kesesatan yang terbungkus oleh nilai-nilai. Sepertinya, kaum liberal dan Syiah bersatu untuk menyesatkan umat Islam melalui buku pelajaran yang menjadi bahan belajar mengajar di sekolah.

Bagi para guru PAI da PKn, berhati-hatilah. Jika tidak mau tersesat, abaikan buku materi pengayaan berkedok Pendidikan Karakter yang diterbitkan Maarif Institute itu. Desastian Rabu, 02 May 2012 (VoA-Islam)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.334 kali, 1 untuk hari ini)