Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Pada kesempatan ini, insya Allah kami akan menyebutkan waktu, keadaan, dan tempat dimana berdoa ketika itu sangat mustajab. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.

Waktu, Keadaan, dan Tempat Dimana Berdoa Ketika Itu Mustajab

  1. Malam Lailatul Qadr

Dalil yang menunjukkan bahwa malam lailatul qadr waktu mustajab untuk berdoa adalah firman Allah Ta’ala di surah Al Qadr, dan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku apa yang akan aku ucapkan jika aku mengetahui malam Lailatul Qadr?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبَّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pemaaf dan Maha Pemurah. Engkau suka memaafkan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi dan ia menshahihkannya, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Sepertiga Malam Terakhir

Amr bin Anbasah meriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ العَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang paling dekat Allah kepada seorang hamba adalah pada malam yang terakhir. Oleh karena itu, jika kamu sanggup berada pada waktu itu sebagai orang yang berdzikir kepada Allah, maka lakukanlah.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, dan Hakim).

  1. Akhir Shalat Fardhu

Hal ini berdasarkan hadis Abu Umamah al-Bahiliy, bahwa ia berkata: Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, doa mana yang lebih mustajab?” Beliau menjawab,

جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوبَاتِ

“Di malam yang terakhir dan akhir shalat fardhu.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Maksud akhir shalat fardhu ini, bisa sebelum salam dan bisa setelah salam, namun penulis lebih cenderung, bahwa maksudnya adalah sebelum salam, wallahu a’lam.

  1. Antara Azan dan Iqamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Berdoa tidaklah ditolak antara azan dan iqamat.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Satu Waktu di Setiap Malam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ، يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu yang jika seorang muslim bertepatan waktu itu dalam keadaan meminta kepada Allah kebaikan tentang perkara dunia maupun akhirat kecuali Allah akan berikan kepadanya. Hal itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

  1. Ketika Azan Untuk Shalat Fardhu

Abu Dawud meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ، أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ، وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Ada dua yang tidak ditolak atau jarang sekali ditolak, yaitu berdoa ketika azan (antara azan dan iqamat) dan ketika perang, yakni ketika kedua pasukan bercampur baur.” (HR. Abu Dawud dan Darimi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Al Hafizh berkata, “Hadis hasan shahih.”)

  1. Ketika Turun Hujan

Imam Syafi’i meriwayatkan dalam al-Umm, 1:223-224 dengan sanadnya yang sampai kepada Makhul, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda:

اُطْلُبُوا إِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوْشِ، وَإِقَامَةِ الصَّلاَةِ وَنُزُوْلِ الْمَطَرِ

“Carilah waktu pengabulan doa ketika pasukan berhadapan, ketika shalat ditegakkan, dan ketika hujan turun.” (Menurut Syaikh al-Albani bahwa isnad ini dha’if karena mursal-nya dan karena majhul-nya guru Imam Syafi’i, karena ia mengatakan “Telah menceritakan kepadaku orang yang saya tidak berprasangka buruk kepadanya” tanpa menyebutkan siapa namanya dan perkataan tersebut tidak berarti orang tersebut tsiqah, karena di antara gurunya ada yang muttaham (tertuduh), yaitu Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya al-Aslami, sedangkan dalam ilmu Musthalah dinyatakan, bahwa ucapan seseorang, “Telah menceritakan kepadaku orang yang tsiqah,” tidak bisa dipakai hujjah sampai diketahui orang itu ditsiqahkan. Meskipun begitu, menurut Syaikh al-Albani, hadis ini memiliki beberapa syahid dari hadis Sahl bin Sa’ad, Ibnu Umar, dan Abu Umamah yang ia sebutkan dalam at-Ta’liqur Raghiib (1:166). Hadis tersebut meskipun secara satuannya dha’if, tetapi jika dipadukan dengan hadis mursal ini dapat menjadi kuat dan naik ke derajat hasan insya Allah Ta’ala, lihat ash-Shahiihah no. 1469).

  1. Ketika berangkat perang

Lihat dalilnya di no. 6

  1. Satu waktu di hari Jumat.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

“Di dalamnya terdapat waktu, dimana tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya sedang ia dalam keadaan berdiri shalat dan meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala kecuali Dia akan memberikannya.”

Beliau berisyarat dengan tangannya, bahwa waktunya sedikit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jumat (siangnya) ada 12 waktu, tidak ada seorang hamba yang muslim meminta kepada Allah sesuatu kecuali akan diberikan, maka carilah saat tersebut di waktu terakhir setelah shalat ‘Ashar.”(Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Berdasarkan hadis ini, bahwa waktunya adalah di akhir waktu hari Jumat setelah Ashar, bisa juga ketika khutbah dan ketika shalat.

  1. Ketika meminum air zamzam disertai dengan niat yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air Zamzam itu sesuai maksud meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwaa’ no. 1123, ash-Shahiihah no. 883, dan Shahihul Jami’ no. 5378)

  1. Ketika Sujud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Keadaan yang paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah berdoa (ketika sujud).” (HR. Muslim)

  1. Ketika bangun dari tidur di malam hari setelah berdzikir dengan dzikir tertentu yang ma’tsur (disebutkan dalam hadis).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ، فَقَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، أَوْ دَعَا، اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ

“Barang siapa yang bangun di malam hari, lalu ia mengucapkan, “Laailaahaillallah…dst. Sampai “Wa laa quwwata illaa billah.” (artinya: tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Allah Mahabesar dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.) Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ampunilah aku.” Atau ia berdoa, maka akan dikabulkan, dan jika ia berwudhu dan shalat, maka akan diterima shalatnya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

  1. Doa Orang yang Tidur Dalam Keadaan Suci dan Membaca Dzikir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا، فَيَتَعَارُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Tidak ada seorang muslim yang tidur setelah berdzikir dan dalam keadaan suci, lalu ia bangun di malam hari, kemudian meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah akan memberikannya.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Ketika Berdoa dengan Doa “Laailaahaillaa anta subhaanaka inniy kuntu minazh zhaalimiin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nuun ketika berdoa dalam perut ikan adalah, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengannya kecuali Allah akan kabulkan.”(HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Doa yang Dilakukan Beriringan Setelah Wafatnya Seseorang

Ummu Salamah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui Abu Salamah. Saat itu, matanya terbelalak, maka Beliau segera memejamkannya, kemudian Beliau bersabda:

«إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ» ، فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ، فَقَالَ: «لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ» ، ثُمَّ قَالَ: «اللهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ»

“Sesungguhnya ruh itu apabila dicabut, maka akan diikuti oleh penglihatan.” Maka keluarganya panik, lalu Beliau bersabda, “Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali yang baik, karena para malaikat mengaminkan ucapan kalian.” Kemudian Beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah Abu salamah. Tinggikanlah derajatnya di tengah-tengah orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah ia pada keturunannya di tengah-tengah orang yang hidup, ampunilah kami dan dia wahai Rabbul ‘alamin, luaskanlah kuburnya dan berilah cahaya di dalamnya.” (HR. Muslim)

 

  1. Berdoa setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamdi tasyahhud akhir.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ أُصَلِّي وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ مَعَهُ، فَلَمَّا جَلَسْتُ بَدَأْتُ بِالثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ، ثُمَّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَوْتُ لِنَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَلْ تُعْطَهْ، سَلْ تُعْطَهْ»

Aku pernah shalat, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar ada bersamanya. Ketika aku duduk, maka aku memulai dengan memuji Allah, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku berdoa untuk diriku, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mintalah! Engkau akan diberi, mintalah! Engkau akan diberi.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih,” Nasa’i dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Fudhalah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang melakukan shalat, ia mengagungkan Allah, memuji-Nya dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُ تُجَبْ، وَسَلْ تُعْطَ

“Berdoalah, engkau akan dikabulkan, dan mintalah, maka engkau akan diberi.” (HR. Nasa’i, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

  1. Ketika berdoa dengan menggunakan Ismulllahil a’zham yang apabila berdoa dengannya akan dikabulkan dan apabila meminta dengannya, maka akan diberi.

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي، ثُمَّ دَعَا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى»

Dari Anas, bahwa ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk, sedangkan ketika itu ada seorang yang shalat, lalu ia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, karena milik Engkau segala pujian, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Maha Pemberi, Engkau yang menciptakan langit dan bumi. Wahai yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup lagi sendiri mengurus makhluk-Nya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dia telah berdoa dengan nama Allah Yang Agung (ismullahil a’zham), yang apabila seseorang berdoa dengannya Dia akan mengabulkan, dan apabila meminta dengannya, maka Dia akan berikan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

  1. Doa Seorang Muslim untuk Saudaranya yang Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

« دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ » .

Doa orang muslim untuk saudaranya tanpa di hadapannya adalah mustajab. Di dekatnya ada malaikat yang diserahkan (untuknya). Setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diserahkan untuknya berkata, “Amin (artinya: kabulkanlah ya Allah),” dan kamu memperoleh hal yang sama.” (HR. Muslim)

  1. Doa pada Hari Arafah di Arafah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari ‘Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi dan Malik, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Berdoa pada bulan Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, maka dibuka pintu-pintu rahmat, ditutup pintu-pintu Jahannam, dan dibelenggu setan-setan.” (HR. Muslim)

  1. Ketika Kaum Muslim Berkumpul di Majlis Dzikr

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ .

“Dan barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah membaca kitab Allah dan mempelajarinya sesama mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan rahmat, dan mereka akan dikelilingi malaikat serta akan disebut Allah di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak dapat mempercepatnya.”(HR. Muslim)

  1. Ketika berdoa setelah mendapat musibah, yaitu setelah mengucapkan istirja’, yaitu ucapaninnaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Ummu Salamah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] ، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا “، قَالَتْ: فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ، قُلْتُ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah, yaitu “Innaa lillahi…dst.” (artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala terhadap musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik darinya),

Ummu Salamah berkata, “Maka ketika Abu Salamah wafat, aku berkata, “Siapakah kaum muslim yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarga yang pertama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kemudian aku mengucapkan kalimat itu, ternyata Allah menggantikan Abu Salamah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim)

  1. Berdoa ketika hati sedang menghadap kepada Allah dan sedang dalam keadaan ikhlas.

Dalil tentang hal ini adalah kisah tiga orang yang tertutup dalam gua karena jatuhnya batu besar yang menutupi pintu gua.

  1. Doa orang yang terzalimi kepada orang yang menzalimi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

  1. Doa Orang Tua Kepada Anaknya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ المَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِه

“Ada tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Doa musafir

Dalilnya adalah hadis sebelumnya (lihat no. 25).

  1. Doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ العَادِلُ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Ada tiga doa yang tidak ditolak, yaitu: orang yang berpuasa sampai berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang yang terzalimi. Doa orang yang terzalimi Allah angkat ke atas awan, dan Dia akan membuka pintu-pintu langit untuknya. Allah berfirman, “Demi keperkasaan-Ku. Aku akan menolong kamu meskipun telah berlalu waktu yang lama.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baghawi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Doa Orang yang Berpuasa Ketika Berbuka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak ditolak ketika berbuka.” (HR. Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu hajar dalam takhrijnya terhadap Al Adzkar 4/342)

  1. Doa Orang yang Terdesak Sekali

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” (QS. An Naml: 62)

Dalil lainnya adalah hadis tiga orang yang terjebak dalam gua yang tidak dapat keluar darinya karena tertutup batu yang besar sebagaimana dalam Shahih Bukhari dan Muslim, lalu masing-masing mereka berdoa dengan menyebut amal salehnya.

  1. Doa Pemimpin yang Adil.

Dalilnya telah disebutkan pada no. 27.

  1. Doa Orang yang Berbakti Kepada Kedua Orang Tuanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakan (orang tua)nya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

  1. Berdoa Setelah Wudhu ketika Berdoa dengan Doa yangMa’tsur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ » .

“Tidak ada seorang pun di antara kamu yang berwudhu, lalu ia sampaikan atau sempurnakan wudhunya, kemudian setelahnya mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”

Kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, di mana ia bisa masuk dari mana saja yang ia inginkan.” (HR. Muslim)

  1. Doa Setelah Melempar JamrahShugra
  2. Doa Setelah Melempar JamrahWustha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah melempar jamrah yang dekat dengan masjid Mina, dimana Beliau melempar jamrah sebanyak tujuh kali dengan bertakbir pada setiap lemparannya, maka Beliau maju ke depannya dan berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa serta memperlama berdiri.

Kemudian Beliau mendatangi jamrah yang kedua, lalu melempar tujuh buah batu, dimana Beliau bertakbir pada setiap lemparannya, lalu Beliau turun ke sebelah kiri yang dekat dengan lembah dan berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Selanjutnya Beliau mendatangi jamrah yang berada dekat ‘aqabah, kemudian melemparnya dengan tujuh buah batu, dimana Beliau bertakbir pada setiap lemparannya, lalu Beliau pergi dan tidak berdiri di dekatnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadis Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma.

  1. Berdoa di dalam ka’bah dan orang yang shalat di Hijr, dimana ia termasuk Baitullah.

Usamah bin Zaid menerangkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk ke Baitullah berdoa di semua sisinya.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke ka’bah bersama Usamah bin Zaid, Bilal, dan Utsman bin Thalhah, kemudian pintunya ditutup. Saat mereka membuka pintunya, maka aku termasuk orang yang pertama masuk, lalu aku bertemu Bilal dan bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di dalamnya?” Ia menjawab, “Ya, Beliau shalat di antara dua tiang Yamani.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الجَدْرِ أَمِنَ البَيْتِ هُوَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: فَمَا لَهُمْ لَمْ يُدْخِلُوهُ فِي البَيْتِ؟ قَالَ: «إِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ»

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang jadr (Hijr), apakah ia termasuk baitullah?” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu aku bertanya lagi, “Tetapi mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam Baitullah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, barang siapa yang berdoa di dalam Hijr, maka ia telah berdoa di dalam ka’bah, karena Hijr termasuk Baitullah.

  1. Berdoa di Atas Shafa
  2. Berdoa di Atas Marwah

Jabir radhiallahu ‘anhu dalam hadisnya yang panjang tentang haji Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallammenerangkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari pintu menuju Shafa, dan pada saat berada dekat dengan Shafa, maka Beliau membacakan ayat, “Innash shafaa wal marwata min sya’aairillah…dst.” (Al Baqarah: 158), abda’u bimaa bada’allahu bih (artinya: aku memulai dengan apa yang Allah mulai). Maka Beliau memulai dengan bukit Shafa; Beliau menaikinya sehingga Beliau melihat Baitullah dan menghadap kiblat. Beliau mentauhidkan Allah dan membesarkannya, dan berkata,

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ اَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

Beliau ulangi dzikir tersebut sebanyak tiga kali dan berdoa pada setiap selesai membacanya (namun untuk yang ketiga, setelahnya Beliau tidak berdoa).” Dalam hadis tersebut juga diterangkan, bahwa Beliau melakukan hal yang sama ketika di bukit Marwah seperti yang Beliau lakukan di bukit Shafa. (HR. Muslim)

  1. Berdoa Ketika Berada di Masy’aril Haram

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata tentang haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Selanjutnya Beliau menaiki unta al-Qaswa’, sehingga ketika tiba di Masy’arilharam, Beliau menghadap kiblat, berdoa, bertakbir, bertahlil, dan mentauhidkan Allah. Ketika itu, Beliau tetap dalam keadaan berdiri sampai hari semakin terang, lalu Beliau bertolak sebelum matahari terbit.

  1. Berdoa di Sepuluh Pertama Bulan Dzulhijjah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana beramal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini –yakni sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah)- para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fii sabiilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fii sabiilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa-raga dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR. Bukhari)

  1. Doa orang yang banyak berdzikr

Rasulullah shallallahhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُرَدُّ دُعَاؤُهُمْ: الذَّاكِرُ ِللهِ كَثِيْراً، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَالْإِمَامُ الْمُقْسِطُ

“Ada tiga doa yang tidak ditolak, yaitu doa orang yang banyak berdzikr kepada Allah, doa orang yang terzalimi, dan doa imam yang adil.” (HR. Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah no. 1211).

Di samping itu semua, seorang muslim disyariatkan banyak berdoa kepada Allah Tuhannya, karena Dia senang diminta.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Oleh ustadz Marwan bin Musa

Maraji’: Ad Du’aa minal Kitaab was Sunnah (Dr. Sa’id bin Ali Al Qahthaniy), Syuruthud Du’aa (Dr.  Sa’id bin Ali Al Qahthaniy), Al Maktabatusy Syaamilah versi 3.35 dan 3.45  dll.

By: yufidia.com, Jun 25, 2014 

(nahimunkar.com)