Orang berbuat secara spontan tidak dapat serta merta dianggap tidak ada niat jahat padanya. Karena pada dasarnya niat jahat itu sudah tersedia setiap saat, maka walau spontan pun dapat langsung ada itu niat jahat.

Kenapa?

Karena Allah Ta’ala pencipta manusia sejagat raya ini telah berfirman:

 {) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا } [الشمس: 7 – 10]

  1. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), [Ash-Shams:7]
  2. 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [Ash-Shams:8]
  3. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, [Ash-Shams:9]
  4. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [Ash-Shams:10]

Juga Allah Ta’ala berfirman:

۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ  ٥٣ [ يوسف:53-53]

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. [Yusuf:53]

Al-Wahidi dalam tafsirnya, Al-Wajiz, menjelaskan:

{إنَّ النفس لأمَّارة بالسوء} بالقبيح وما لا يحبُّ الله {إلاَّ ما} مَنْ {رحم ربي} فعصمه

الوجيز للواحدي (ص: 550)

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (dengan keburukan dan apa yang tidak Allah cintai). kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku (kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku maka Dia menjaganya). (Al-Wajiz oleh Al-Wahidi halaman 550/ maktabah syamilah).

Dengan demikian, ketika orang berbuat jahat bahkan kejahatannya sangat jahat, misalnya gerombolan yang membakar kain serta atribut-atribut yang ada kalimah Tauhidnya, Laa ilaaha illallah, walau spontan, maka justru  ayat ‘Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (dengan keburukan dan apa yang tidak Allah cintai)’ itu sudah bertengger di jiwa mereka. Apalagi mengenai perbuatan yang memang itu tidak dicintai Allah, maka nafsu untuk itu sudah jelas tersedia, walau spontan, sebagaimana yang dilakukan segerombolan manusia berseragam Banser NU alias GP Ansor di Garut, Jawa Barat, mereka membakar kain dan atribut-atribut bertulsikan kalimah Tauhid Laa ilaaha illallaah, pada hari santri nasional, Senin 22 Okotobr 2018.

Apabila mereka itu orang-orang yang termasuk ayat:’ kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku (kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku maka Dia menjaganya)’, maka tentu justru yang terjadi adalah tidak mengadakan aksi membakar atribut2 yang bertuliskan kalimah Tauhid Laa ilaaha illallaah tersebut, dan memperlakukannya secara wajar lagi terhormat. Tetapi kenyataannya, yang dilakukan gerombolan berseragam Banser NU itu justru membakarnya sambil nyanyi-nyanyi mars lagu NU, teriak-teriak, dan mengibarkan merah putih di atas mereka sambil membakar atribut2 bertuliskan kalimah Tauhid Laa ilaaha illallaah tersebut di dekat kaki-kaki mereka.

Kelakuan sangat jahat terhadap kalimah Tauhid Laa ilaaha illallaah yang menjadi simbol paling utama dalam Islam itu, menurut seorang ustadz dalam sebuah video yang beredar, seakan itu untuk mengesankan, kibarkanlah nasionalisme dan enyahkanlah Islam itu. Padahal justru kemerdekaan Indonesia ini diraih dengan meninggikan kalimah Tauhid itu dalam perjuangan melawan penjajah kafir Belanda dan lainnya.

Dilihat dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, dan juga lakon-lakon Banser NU sebelumnya di mana-mana, misalnya membubakan pengajian-pengajian di mana-mana, apakah gerombolan berseragam Banser NU yang membakar kalimah Tauhid itu orang-orang yang } مَنْ {رحم ربي} فعصمه, orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku maka Dia menjaganya, hingga tidak berbuat jahat, atau tidak ada niat jahat pada mereka karena berbuatnya ramai-ramai itu spontan saja?

Bahkan bila kita mau memahami ayat tersebut, kemungkinan orang-orang yang kelihatannya mengemukakan dalil-dalil ayat dan hadits pun, ketika itu demi membela kejahatan teman-temannya atau pendukungnya, maka sudah jelas berniat jahat, walau spontan sekalipun.

Oleh karena itu sangat perlu pula diyakini, balasan Allah Ta’ala tidak akan lepas begitu saja ketika orang berbuat spontan. Padahal dalam Islam, perbuatan itu tergantung niatnya. Namun perbuatan spontan pun ternyata dibalas, bahkan ketika itu keburukan tingkat tinggi (kemusyrikan) maka pelakunya masuk neraka.

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَلْمَانَ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: «دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ، وَدَخَلَ آخَرُ النَّارَ فِي ذُبَابٍ»، قَالُوا: وَكَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ: ” مَرَّ رَجُلَانِ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ عَلَى نَاسٍ مَعَهُمْ صَنَمٌ لَا يَمُرُّ بِهِمْ أَحَدٌ إِلَّا قَرَّبَ لِصَنَمِهِمْ، فَقَالُوا لِأَحَدِهِمْ: قَرِّبْ شَيْئًا، قَالَ: مَا مَعِي شَيْءٌ، قَالُوا: قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا وَمَضَى فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوا لِلْآخَرِ: قَرِّبْ شَيْئًا، قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ دُونَ اللهِ فَقَتَلُوهُ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ ” [رواه أحمد].

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu, ya Rasulallah. Beliau menjawab: “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: “Persembahkanlah kurban kepadanya”. Dia menjawab: “Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya.”Merekapun berkata kepadanya lagi: “Persembahkan, sekalipun hanya seekor lalat. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: “Persembahkanlah kurban kepadanya.”Dia menjawab : Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga.” (HR. Ahmad )

Status hadits:

Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam.

Al Hafizh mengatakan bahwa jika Thoriq bertemu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka ia adalah sahabat. Kalau tidak terbukti ia mendengar dari Nabi, maka riwayatnya adalah mursal shohabiy dan seperti itu maqbul atau diterima menurut pendapat yang rojih (terkuat). Ibnu Hibban menegaskan bahwa Thoriq wafat tahun 38 H. Lihat Fathul Majid, hal. 161, terbitan Darul Ifta’.

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/3014-hanya-karena-sesaji-berupa-lalat-membuatnya-masuk-neraka.html

Dalam atsar itu disebutkan, seseorang hanya mengorbankan/ menyajenkan, menyajikan seekor lalat untuk berhala secara spontan, supaya dibolehkan lewat untuk meneruskan perjalanan, namun akibatnya dia masuk neraka karenanya.

Nah, apakah itu akan dihukumi tidak ada niat jahat karena perbuatan spontan? Ternyata tidak. Bahkan dia masuk neraka karena terhitung secara spontan ada niat jahat, yaitu tidak mau menolak perintah bersaji (menyajikan sesajen) walau hanya dengan seekor lalat. Tidak menolak perbuatan buruk yang seharusnya ditolak, itulah niat jahat dan perbuatan jahat.

Dalam kasus Banser membakar kalimah Tauhid di Garut itu, mereka mengaku melakukan itu atas perintah atasan. Nah, tidak menolak perintah atasan seperti itu, adalah terhitung niat jahat. Demikian pula ketika ada perbuatan jahat, lalu orang yang melihatnya membiarkannya, maka membiarkan dan tidak mencegahnya itu terkena perkara pula.

Mengenai pengakuan bahwa itu disuruh atasan, silaka simak ini:

Ketiga Oknum Banser NU Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Mengaku Melakukan Pembakaran Bendera Berdasarkan Instruksi dari Atasan Mereka

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Haikal Hassan mengaku telah menemui tiga pelaku dari anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang membakar bendera tauhid di Polres Garut.

“Mereka menyatakan menyesal dan mengaku tidak ada maksud untuk membakar bendera tauhid. Itu tadi ada rekamannya,” kata Haikal, Selasa (23/10/2018).

Selain itu, Haikal juga mengungkapkan ketiga pelaku mengaku melakukan pembakaran bendera berdasarkan instruksi dari atasan mereka. Kendati demikian Haikal mengatakan tidak mendapatkan nama atasan tersebut.

“Ada perintah dari atasan untuk membakar semua bendera selain merah putih,” ujar Haikal.

Lebih dari itu, Haikal mengapresiasi langkah Kapolres Garut yang kooperatif dan cepat menangkap pelaku pembakaran bendera tauhid. Haikal bercerita kepolisian Garut juga bersedia menampung aspirasi umat Islam yang hari ini melakukan aksi di depan Mapolres Garut./ Editor: H. Dicky Aditya/ www.galamedianews.com/

Dari pengakuan mereka itu, berati mereka adalah orang-orang waras yang sedang melakukan instruksi atasan mereka secara sadar. Maka seluruh yang terlibat seharusnya diusut.

Dengan melepaskan mereka (para pembakar kain dan atribut2 bertuliskan lafal Tauhid Laa ilaaha illallaah) begitu saja dengan alasan tidak ada niat jahat karena perbuatan spontan, tentunya akan menimbulkan tanda tanya besar. Dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagaimanapun, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur’an) yaitu ayat-ayatnya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dalam kasus dilepasnya para pembakar atribut2 bertuliskan kalimah Tauhid Laa ilaaha illallaah, dengan alasan tidak ada niat jahat karena perbuatan spontan, itu jelas bertentangan dengan perkataan terbaik dan petunjuk terbaik. Keculi kalau memang para pelaku pembakar kalimah Tauhid itu adalah para pasien rumah sakit jiwa yang terlepas dari karantinanya, lalu beraksi membakar atribut2 kalimah Tauhid, lalu ditangkap polisi, lalu diserahkan kepada para ahli jiwa (dokter2 dan sebagainya) diperiksa dengan sedeteilnya, kemudian para ahli itu sepakat menyatakan bahwa mereka semua dalam keadaan gila, hilang akalnya, hilang kesadaran dan kontrol diri mereka; maka pelepasan terhadap para pembakar kalimah Tauhid yang sudah diproses secara teliti tersebut dan memang mereka orang-orang yang hilang akalnya, hilang kesadarannya, dan betul-betul gila, maka insya Allah benar secara prosedural, dan sebagainya. Namun apakah begitu?

Itu pertanyaannya.

Jakarta, Jum’at 26 Oktober 2018/ 17 Shafar 1440H.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 383 kali, 1 untuk hari ini)