Pemerintah Dukung Jam Malam Perempuan di Aceh

Inilah beritanya.

***

Wali Kota Banda Aceh Kampanye ‘Jam Malam’ Perempuan di Kampus  

Personil Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) mengamankan sejumlah perempuan yang terjaring razia di tempat hiburan pada malam pergantian tahun masehi di Banda Aceh, Aceh (1/1). Muspida kota Banda Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) melarang perayaan pergantian tahun masehi 2013 ke 2014 bagi warga muslim di provinsi yang telah memberlakukan hukum Syariat Islam itu. ANTARA/Irwansyah Putra

TEMPO.CO, Banda Aceh – , JUM’AT, 05 JUNI 2015 | 22:49 WIB

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal memenuhi undangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh untuk berdiskusi tentang pembatasan jam kerja terhadap perempuan di Aceh. Diskusi sekaligus sosialisasi kebijakannya ini dilakukan di Masjid Kampus Darussalam, Banda Aceh, Jumat sore, 5 Juni 2015.

”Instruksi wali kota untuk penegakan syariat Islam di Banda Aceh, yang beriman sangat mendukung, dan yang tidak selalu membesar-besarkan,” ujar Illiza kepada peserta sosialisasi yang berasal dari mahasiswa dan masyarakat lingkungan kampus.

Dia menceritakan kembali perihal lahirnya instruksinya tentang pengawasan dan penertiban pelayanan tempat wisata/rekreasi/hiburan, penyedia layanan Internet, kafe/sejenisnya, dan sarana olahraga di Kota Banda Aceh yang dikeluarkan pada 18 Mei 2015 itu. “Ini sesuai dengan perintah Gubernur Aceh sebelumnya,” ucapnya.

Menurut dia, Instruksi Wali Kota Banda Aceh Nomor 1 Tahun 2015 itu dikeluarkan untuk melindungi pekerja perempuan di tempat-tempat tertentu, seperti kafe dan tempat hiburan lain. Juga melindungi anak muda agar tidak berkeliaran sampai larut malam. “Kalau untuk pekerja lain, seperti perawat dan bidan, tidak jadi masalah.”

Illiza menyebutkan pembatasan jam kerja sampai pukul 23.00 WIB untuk perempuan pekerja di Banda Aceh tersebut disesuaikan dengan Undang-Undang Tenaga Kerja, yang juga melindungi pekerja perempuan.

Menurut dia, sanksi terhadap perempuan yang melanggar aturan itu tidak diatur. Jika kepergok dalam razia yang rutin dilakukan petugas setempat, mereka hanya akan diperingatkan. Sanksi hanya diberikan kepada tempat-tempat kerja sesuai dengan yang tercantum dalam instruksi tersebut.

Ustad Masrul Haidi mengatakan mendukung instruksi tersebut untuk menegakkan Islam di Aceh. “Kembalilah kepada fitrah seperti ajaran Allah, hidup dan bekerja pada siang dan beristirahat pada malam,” ujarnya.

Nurlina, guru Madrasah Aliyah Negeri Darussalam, mengatakan prihatin dengan banyaknya remaja putri di Banda Aceh yang berkeliaran di tempat-tempat ramai tanpa malu. “Bahkan sampai larut malam.”

Nurlina berharap instruksi itu terus dilaksanakan dan sosialisasinya digencarkan agar diketahui oleh seluruh masyarakat Banda Aceh. “Supaya tidak muncul keresahan di kemudian hari,” ujarnya.

ADI WARSIDI

***

Pemerintah Dukung Jam Malam Perempuan di Aceh

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

Jakarta, HanTer – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menganggap aturan jam malam bagi perempuan di Aceh sebagai upaya perlindungan terhadap kaum perempuan. Aturan tersebut dibuat berkaitan dengan tingginya tingkat kejahatan dan pelecehan terhadap perempuan di Aceh.

“Ini sementara, tidak permanen. Kalau sudah terjamin keamanan bagi wanita, misalnya disiapkan kendaraan untuk mengantar, ini tidak ada masalah. Wali Kota menaruh perhatian besar pada keselamatan perempuan,” ujar Tjahjo, saat ditemui di Gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2015).

Menurut Tjahjo, aturan tersebut tidak serta-merta melarang perempuan untuk keluar pada malam hari. Menurut dia, perempuan diperbolehkan keluar pada malam hari, asalkan ditemani oleh kerabat atau anggota keluarga, sehingga meningkatkan keamanan bagi perempuan.

“Konteksnya tingkat kejahatan keselamatan warga masyarakat wanita di Aceh tinggi. Yang dimaksud agar jangan sendirian keluar malam,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

Ia mengatakan, aturan tersebut hanya diberlakukan sekitar dua atau tiga bulan saja, sebagai percobaan. Setelah itu, evaluasi akan dilakukan. Tjahjo memastikan aturan tersebut tidak akan menjadi acuan bagi semua daerah.

Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Saaduddin Djamal sebelumnya mengatakan, jam malam bagi perempuan tersebut berasal dari instruksi Gubernur Aceh. Dalam instruksinya, jam malam mengatur perempuan tidak boleh keluar berduaan dengan lelaki bukan mahram di atas pukul 21.00 WIB.

Pemerintah kota menindaklanjuti instruksi tersebut dengan mengevaluasinya. Akhirnya disimpulkan hingga pukul 23.00 WIB. Hal ini untuk memberi ruang bagi perempuan yang bekerja di malam hari.

Pemerintah Kota Banda Aceh juga mengingatkan kepada pemilik usaha agar tidak melanggar undang-undang ketenagakerjaan dengan mempekerjakan perempuan lewat pukul 23.00 WIB. Bagi yang melanggar, akan dikenai sanksi mulai dari teguran, pembinaan, hingga pencabutan izin.

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mempertimbangkan dengan sebaik-baiknya penerapan jam malam bagi perempuan itu.

“Memang Aceh punya kewenangan internal mengatur aturan otonomi khusus di daerahnya. Namun demikian pertimbangannya, apa urgent seperti itu?” kata Kalla di sela-sela pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015).

(Anu) http://nasional.harianterbit.com/ Selasa, 09 Juni 2015 13:45 WIB

***

Mahram (Arab: محرم) adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Muslim Asia Tenggara sering salah dalam menggunakan istilah mahram ini dengan katamuhrim, sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain.  Dalam bahasa Arab, kata muhrim (muhrimun) artinya orang yang berihram dalam ibadah haji sebelum bertahallul.

Mahram karena keturunan[]

  1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita
  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan
  3. Saudara perempuan (kakak atau adik), seayah atau seibu
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung
  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita
  7. Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita

Mahram – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

id.wikipedia.org/wiki/Mahram

(nahimunkar.com)