1. Risma mengatakan,  nantinya juga akan menutup lokalisasi Dolly, sebagai gong program Surabaya bebas prostitusi.
  2. Hal senada juga disampaikan KH. Abdus Shomad Buchori. Menurutnya kalau tahun 2013 belum bisa menutup, maka di tahun 2014 harus bisa menutup lokalisasi Dolly.

 penutupan lokalisasi

Foto suarasurabaya

Hari Ahad (28/04/2013) Wali Kota Surabya dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur secara resmi menutup lokasi prostitusi Tambak Asri atau biasanya dikenal dengan Kremil.

“Tempat ini  ditutup karena memiliki dampak buruk untuk anak-anak,” demikian ungkap Tri Risma Harini, Walikota Surabaya,  ketika usai membuka tirai papan “Deklarasi Bebas Prostitusi.”

Kegiatan “Deklarasi Bebas Prostitusi” oleh masyarakat Tambak Asri ini dihadir sekitar 278  WTS dan 74 mucikari. Acara ini berlangsung di balai RW  VI, Tambak Asri, Jl. Tambak Asri 133 Surabaya.

“Milikilah niat untuk berhijrah, buka lembaran baru,” ujar Risma memotivasi ratusan WTS dan mucikarinya.

Penutupan lokasi prostitusi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini disambut baik baik oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin,  hari esok harus lebih baik dari hari ini, agar tak menjadi orang yang merugi,” ujar Ketua MUI Jatim, KH. Abdus Shomad Buchori saat memberi ceramah pada acara deklarasi tersebut.

Menurut MUI, hingga saat ini masih terdapat 47 titik lokasi prostitusi di Jawa Timur. Karena itu MUI Jatim menargetkan untuk menutup semua lokasi prostitusi tersebut pada tahun 2014,  termasuk 7 titik prostitusi yang berada di Surabaya.

Lokasi prostitusi Tambak Asri merupakan tempat kedua yang sudah ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya, selanjutnya Bangun Sari.

Risma mengatakan,  nantinya juga akan menutup lokalisasi Dolly, sebagai gong program Surabaya bebas prostitusi.

Hal senada juga disampaikan KH. Abdus Shomad Buchori. Menurutnya kalau tahun 2013 belum bisa menutup, maka di tahun 2014 harus bisa menutup lokalisasi Dolly.

MUI Jatim terus menggelindingkan program Jatim bebas prostitusi dengan dukungan pemerintah. Pemerintah Provinsi(Pemprov) Jawa Timur sendiri sudah berhasil menutup beberapa lokasi prostitusi, di antaranya yang berada di Kota Blitar, Tulung Agung, Tuban, dan Banyuwangi.*/Samsul Bahri

Red: Cholis Akbar Senin, 29 April 2013 Hidayatullah.com–

***

LOKALISASI TAMBAK ASRI 
Ditutup, Dijadikan Pasar 
Senin, 29/04/2013 | 11:30 WIB

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengklaim sudah berhasil menutup lokalisasi Tambak Asri, Minggu (28/4). Rencananya, kawasan bekas mesum tersebut bakal disulap jadi pasar.

Berdasarkan data Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya, lokalisasi yang terletak di wilayah Kelurahan Morokrembangan tersebut dihuni oleh 354 Pekerja Seks Komersial (PSK) dan 96 mucikari. Mereka beroperasi di 96 wisma yang ada di RW 6 dan 9.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menyatakan, komitmen bersama warga Tambak Asri untuk mengubah citra kampungnya merupakan keputusan yang tepat. Menurutnya, kini sudah saatnya para PSK meninggalkan profesi lamanya dan beralih ke peluang kerja yang baru.

Pada kesempatan itu, Risma -sapaan Walikota- bertekad menata wilayah eks lokalisasi itu agar aksesnya lebih nyaman. Salah satunya, dengan merombak daerah sekitar jembatan, tepatnya di bawah tol. “Nanti di sini akan kita bangun pasar. Mari kelola bersama. Di pasar itu banyak peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan,” paparnya.

Walikota memastikan akan terus memantau Tambak Asri pasca penutupan. Tentunya dengan kerja sama antara Satpol PP, Linmas, serta melibatkan TNI dan Polri, pengawasan akan terus dilakukan. “Kami akan ikuti perkembangan di sini. Hukum akan berlaku atas setiap pelanggaran yang dilakukan,” tegasnya.

Pemkot sejatinya sudah menjadwalkan waktu penutupan sejumlah lokalisasi. Tak terkecuali Dolly yang notebene merupakan lokalisasi terbesar di Surabaya. Berikutnya, Pemkot akan menyasar lokalisasi Sememi. Estimasi waktunya sekitar dua bulan lagi. Sedangkan terkait Dolly, Risma mengaku sudah mengantongi modal strategi. Soal persisnya, ia enggan menjelaskan lebih lanjut.

“Sekarang kita sudah tahu strategi menutup Dolly, tapi maaf belum bisa saya katakan sekarang. Yang pasti kami mohon doa restunya seluruh warga Surabaya, semoga akhir tahun ini atau setidaknya sesuai jadwal pada 2014 Dolly sudah bisa berhenti beroperasi,” jelas Risma.

Sementara itu, ambisi besar Pemkot Surabaya untuk segera menuntaskan persoalan prostitusi terus dipertanyakan keefektifannya. “Anggaran pengentasan PSK (Pekerja Seks Komersial) sudah jelas-jelas lebih besar dibanding  pengentasan kemiskinan di kota ini. Kami sangat menyayangkannya,” kata Baktiono, Ketua Komisi D Bidang Kesra DPRD Kota Surabaya, Senin (29/4).

Pada tahun anggaran 2013 anggaran pengentasan PSK naik dari sekitar Rp 3 miliar menjadi Rp  6,5 miliar. Menurutnya, anggaran itu cukup besar, sementara anggaran pengentasan kemiskinan yang hanya Rp 2,6 miliar.

Sedangkan, dari program pengentasan PSK termasuk pembelian rumah eks rumah prostitusi juga masih diragukan manfaatnya. “Bahkan program pemulangan para PSK pulang ke kampung halaman atau cuma modus saja, karena masih banyak PSK yang balik ke Surabaya lagi untuk beradu nasib di kota ini kembali,” ungkap Baktiono.pur

(nahimunkar.com)

(Dibaca 418 kali, 1 untuk hari ini)