• Pengaturan soal suara adzan, mengingatkan kita dengan suasana di wilayah pendudukan Palestina, di mana rezim zionis Israel dengan alasan suara adzan mengganggu warga, melakukan pengaturan ketat soal adzan ini. Padahal ratusan tahun suara adzan sudah berkumandang di wilayah Palestina dan juga di Indonesia tentunya.(
  • Syetan pun lari sambil terkentut-kentut ketika adzan diserukan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا نُودِىَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ ، يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا ، اذْكُرْ كَذَا . لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِى كَمْ صَلَّى » .

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jika panggilan sholat (adzan) di kumandangkan syetan akan lari sambil terkentut-kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila Panggilan adzan telah selesai maka syetan akan kembali. Dan bila iqomat di kumandangkan syetan kembali berlari dan jika iqomat selesai di kumandangkan dia kembali lagi,lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata; Ingatlah ini dan itu. Dan terus saja melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah di laksanakan dalam sholatnya.” (HR.Bukhari,no573)

Inilah sorotannya.

***

Seperti di Israel, Wapres Boediono Mulai Sibuk Atur Suara Adzan

Wapres Boediono meminta agar Dewan Masjid melakukan pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid. Wapres menilai suara adzan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari dibanding suara yang terlalu keras. (Catatan: penilaian wapres Boediono ini mencerminkan ‘jahilnya’ beliau terhadap syariat adzan itu sendiri karena Rasulullah SAW menganjurkan suara adzan harus keras bukan sayup-sayup, hadits nabi: “Tidaklah mendengar suara muadzin bagi jin dan manusia serta (segala) sesuatu, kecuali memberikan kesaksian untuknya pada hari Kiamat.” [HR Al Bukhari].

Berkaca dari apa yang disampaikan Wapres tersebut, sebenarnya aturan soal pengeras suara itu sudah sejak lama diatur Kementerian Agama (Kemenag). Seperti dikutip detikcom dari situs bimasislam.kemenag.go.id, Jumat (27/4/2012), aturan itu sudah ada 1978. Soal pengeras suara itu diatur dalam instruksi Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam.

Soal pengeras suara di masjid diatur dalam keputusan nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Keputusan itu ditandatangani Dirjen Bimas Islam saat itu, Kafrawi, pada 17 Juli 1978.

Berikut aturan Bimas Islam mengenai syarat-syarat penggunaan pengeras suara:

  1. Perawatan penggunaan pengeras suara yang oleh orang-orang yang terampil dan bukan yang mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian tidak ada suara bising, berdengung yang dapat menimbulkan antipati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau musala
  2. Mereka yang menggunakan pengeras suara (muazin, imam salat, pembaca Alquran, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh daripada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.
  3. Dipenuhinya syarat-syarat yang ditentukan, seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara doa, dzikir, dan salat. Karena pelanggaran itu bukan menimbulkan simpati melainkan keheranan umat beragama sendiri tidak menaati ajaran agamanya
  4. Dipenuhinya syarat-syarat di mana orang yang mendengarkan dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara. Dalam keadaan demikian (kecuali azan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakatnya masih terbatas, maka suara keagamaan dari dalam masjid, langgar, atau musala selain berarti seruan takwa juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitarnya.
  5. Dari tuntunan nabi, suara azan sebagai tanda masuknya salat memang harus ditinggikan. Dan karena itu penggunaan pengeras suara untuknya adalah tidak diperdebatkan. Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaliknya enak, merdu, dan syahdu.

Di dalam instruksi itu juga diatur bagaimana tata cara memasang pengeras suara baik suara ke dalam ataupun keluar. Juga penggunaan pengeras suara di waktu-waktu salat.

Terkait “intervensi” suara adzan yang dilakukan oleh wapres Boediono, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Arwani Thomafi, mengatakan, pengaturan soal suara azan melalui pengeras suara, terlalu berlebihan. Menurutnya, masih banyak tantangan bagi umat Islam di Indonesia, daripada sekadar mengatur suara azan.

“Apakah suara azan itu mengganggu? Perlu diketahui bahwa lantunan azan juga mencerminkan ekspresi keberagaman seseorang. Apakah kemudian ekspresi keberagaman lainnya juga diatur?” kata dia melalui pesan singkatnya, Jumat (27/4).

Pernyataannya itu disampaikan sebagai tanggapan atas permintaan Wakil Presiden Boediono saat Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hari ini. Saat itu, Wapres meminta agar suara azan melalui pengeras suara diatur. “Sebaiknya, Wapres fokus bagaimana memajukan umat Islam, daripada hanya mengatur suara azan.”

Dikatakannya, masih banyak persoalan bangsa ini yang memerlukan perhatian pemerintah. Untuk itu, pihaknya meminta agar Wapres mengklarifikasi pernyataannya. “Karena, hal ini bisa melukai hati umat Islam Indonesia.”

Pengaturan soal suara adzan, mengingatkan kita dengan suasana di wilayah pendudukan Palestina, di mana rezim zionis Israel dengan alasan suara adzan mengganggu warga, melakukan pengaturan ketat soal adzan ini. Padahal ratusan tahun suara adzan sudah berkumandang di wilayah Palestina dan juga di Indonesia tentunya.(fq/detik/republika)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/seperti-di-israel-wapres-boediono-mulai-sibuk-atur-suara-adzan.htm
Publikasi: Jumat, 27/04/2012 16:27 WIB

***

Ustadz Daud Rasyid: Wapres Boediono Mulai Intervensi Urusan “Ajaran” Islam

Wacana yang disampaikan wapres Boediono sewaktu membuka Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia menuai kontroversi di kalangan umat Islam.

Dalam pernyataannya wapres Boediono mengatakan, “Dewan Masjid Indonesia kiranya juga dapat mulai membahas, umpamanya, tentang pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid.”

Boediono memahami bawah adzan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban shalat.

“Namun demikian, apa yang saya rasakan barangkali juga dirasakan oleh orang lain, yaitu bahwa suara azan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari kita dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga kita,” jelasnya, seperti dilaporkan detik.com Jumat kemarin (27/4).

Pernyataan dari wapres Boediono bahwa adzan sebaiknya terdengar sayup-sayup, jelas bertentangan dengan sunnah Nabi SAW yang menganjurkan lantunan adzan harus dengan suara yang keras.

Menanggapi pernyataan wapres Boediono tersebut (yang konon meski berduit tapi belum naik Haji juga), ustadz Dr. Daud Rasyid salah seorang pakar hadits Indonesia kepada Eramuslim dalam pesan singkatnya pada Sabtu ini (28/4), menegaskan bahwa pernyataan wapres Boediono itu adalah salah satu bentuk intervensi terhadap urusan “ajaran” agama Islam.

Secara lugas ustadz yang juga dosen LIPIA Jakarta ini menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh wapres Boediono merupakan tekanan dari barat, karena di barat banyak lantunan adzan tidak boleh terdengar ke luar dari masjid.

“Ini sangat berbahaya,” ujar ustadz Daud. “Perlahan-lahan rezim ini mau memaksakan kehendaknya dalam soal urusan “ajaran” agama dan ini jelas ada indikasi bahwa hal tersebut atas permintaan dari barat,” tegasnya.

Sebelumnya Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Arwani Thomafi, mengatakan, pengaturan soal suara azan melalui pengeras suara, terlalu berlebihan. Menurutnya, masih banyak tantangan bagi umat Islam di Indonesia, daripada sekadar mengatur suara azan.(fq)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/ustadz-daud-rasyid-ada-indikasi-wapres-boediono-dapat-tekanan-dari-barat.htm
Publikasi: Sabtu, 28/04/2012 09:35 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.073 kali, 1 untuk hari ini)