Rafah

ALUR Rafah bisa dikatakan ‘lifeline’ rakyat Gaza di Palestina. Pasalnya jalur yang menghubungkan dengan mesir itu adalah jalur yang memberikan mereka kehidupan dan akses keluar-masuk yang sangat dibutuhkan. Namun sejak insiden penculikan serdadu Mesir, sudah lima hari Rafah ditutup. Penutupan arus penyeberangan perbatasan Rafah dikabarkan membuat situasi kemanusiaan di Gaza memburuk.

“Saat ini kami seperti dipenjara secara total. Tidak ada barang dan obat-obatan yang bisa masuk sama sekali. Pasien-pasien yang harus dilarikan ke Mesir tertahan sudah berhari-hari,” kata Abu Ahmad Ziad, Direktur Al-Sarraa Foundation kepada sahabat al-aqsha yang mengabarkan via telepon, Senin malam (20/5/2013).

Abu Ahmad menambahkan, listrik dan jaringan internet hari-hari ini lebih sering mati dari biasanya.

Terkait insiden Rafah, kemarin  sebuah video beredar di YouTube berisi rekaman wajah ketujuh aparat yang diculik itu. Mata mereka ditutup kain. Usianya rata-rata hampir 20-an. Di rekaman video itu, salah seorang dari korban penculikan berkata kepada Presiden Mesir Muhammad Mursi, “Tolong bebaskan kami. Nyawa kami sama harganya dengan Ghilad Shalit.”

Ghilad Shalit adalah kopral angkatan bersenjata Israel yang diculik tahun 2006 dan dibebaskan tahun 2011, sesudah pemerintah Mesir bernegosiasi dengan para pejuang Palestina. Dimana dalam pembebasan tersebut, Ghilad Shalit ditukar dengan 1.027 orang tawanan Palestina. [ra/islampos/sa]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 292 kali, 1 untuk hari ini)