Zaman penjajahan Belanda saja, Belanda tidak berani menempatkan seorang Kristen menjadi pemimpin di wilayah ini.

 

Mayoritas warga Lenteng Agung beragama Islam. Akan tetapi, Jokowi-Ahok menempatkan seorang wanita Kristen untuk memimpin keluarahan ini. Padahal, kata warga, pada zaman penjajahan Belanda saja, Belanda tidak berani menempatkan seorang Kristen menjadi pemimpin di wilayah ini.

“Kampung kami mayoritas Muslim, kami ingin lurah Muslim,” tulis warga dalam sebuah posternya.
Terkait soal agama Susan, seorang tokoh masyarakat Lenteng Agung, Akmal, mengatakan kini di kantor kelurahan tak ada lagi ucapan “Assalamualaikum”. Yang ada, kata Akmal berdasarkan informasi yang idapat dari staf keluarahan, adalah ucapan “selamat pagi, selamat siang dan selamat sore”.

“Kami prihatin matinya rasa Jokowi-Ahok, yang telah menempatkan lurah Susan di Lenteng Agung,” teriak Akmal.

 

Inilah beritanya.

***

Tolak Lurah Susan, Warga Lenteng Agung Bawa Keranda Mayat

 

Lurah SusanSalah seorang perwakilan warga menyampaikan orasi penolakan Lurah Susan, di depan Kantor Lurah Lenteng Agung, Jl Agung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu 15 September 2013. (foto: shodiq)

Jakarta – Sekitar seribu orang warga Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Lurah Lenteng Agung di Jalan Agung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (25/9/2013). Aksi ini adalah aksi kedua warga untuk menolak ditunjuknya Susan Jasmine Zulkifli setelah pada 28 Agustus 2013 lalu digelar aksi serupa.

Uniknya, warga yang mengikuti aksi ini juga membawa sebuah keranda mayat yang ditutupi kain putih. Pada satu sisi kain yang dibuat untuk menitupi keranda itu diberi tulisan “Matinya Demokrasi di LA, Jokowi-Ahok Arogan Otoriter”. Sementara di sisi satunya diberi tulisan warna merah “Lurah Lenteng Agung Mati Rasa”.

Selain membawa keranda mayat, setiap pengunjuk rasa juga membawa bendera kertas berwarna kuning. Di Jakarta, biasanya bendera kertas warna kuning dipasang di gang-gang jalan sebagai pertanda jika ada warga yang meninggal. Ketika jenazah hendak dimakamkan, warga yang mengantarkan beriringan dengan kendaraan memegang bendera ini sebagai pertanda bahwa itu adalah rombongan yang hendak memakamkan jenazah.

Menurut Ketua Tim Warga Lenteng Agung, Haji Naseri Nasrullah, aksi warga Lenteng Agung ini diikuti oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama, ulama, ustad, kaum ibu dan para pemuda.

“Secara tulus kami menuntut agar Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta bersikap bijak untuk mempertimbangkan kearifan lokal dalam penempatan pejabat lurah,” kata H Naseri.

Seperti diketahui, mayoritas warga Lenteng Agung beragama Islam. Akan tetapi, Jokowi-Ahok menempatkan seorang Kristen untuk memimpin keluarahan ini. Padahal, kata warga, pada zaman penjajahan Belanda saja, Belanda tidak berani menempatkan seorang Kristen menjadi pemimpin di wilayah ini.

“Kampung kami mayoritas Muslim, kami ingin lurah Muslim,” tulis warga dalam sebuah posternya.

***

Kini di kantor kelurahan tak ada lagi ucapan “Assalamualaikum”.

Terkait soal agama Susan, seorang tokoh masyarakat Lenteng Agung, Akmal, mengatakan kini di kantor kelurahan tak ada lagi ucapan “Assalamualaikum”. Yang ada, kata Akmal berdasarkan informasi yang idapat dari staf keluarahan, adalah ucapan “selamat pagi, selamat siang dan selamat sore”.

“Kami prihatin matinya rasa Jokowi-Ahok, yang telah menempatkan lurah Susan di Lenteng Agung,” teriak Akmal.

Warga, kata seorang orator lainnya, juga mengetahui jika Susan telah mengumpulkan aparat RT di Puncak, Bogor, untuk sebuah acara yang disebut “merekatkan keretakan”.

“Pulangnya mereka dikasih seratus ribuan, cepek,” kata seorang orator sembari menyinggung nama-nama warga Lenteng Agung yang telah “dibeli” kubu Susan.

red: shodiq ramadhan

(SI Online) Rabu, 25/09/2013 18:30:20 | Shodiq Ramadhan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.073 kali, 1 untuk hari ini)