• “Berdasarkan verifikasi data yang telah kami lakukan terdapat cacat persyaratan yang diajukan dalam pengajuan IMB bangunan tersebut,” kata Sekretaris FUMB Ponjati Saleh Meindarfianto.
  • Adanya pemalsuan tanda-tangan persetujuan warga dan sebagainya.
  • Selain persoalan teknis-administratif di atas, warga menolak pendirian gereja itu dikhawatirkan akan adanya aktivitas pemurtadan yang mereka lakukan. Warga mensinyalir aktivitas ini karena pihak gereja sudah mulai mengundang warga sekitar dengan kedok acara kemanusiaan pembagian sembako, tawaran bantuan kepada majelis taklim, kegiatan kepemudaan dan masyarakat sekitar.

 

GPIBPihak gereja melakukan intimidasi secara tidak langsung dengan memasang spanduk peletakan batu pertama yang dilakukan Kepala dan Wakil Badan Intelijen Strategis (BAIS).

.

Jakarta (SI Online) – Warga Kelurahan Pondok Jagung Timur, Kecamatan Serpong Utara, Tengerang Selatan, sepakat menolak rencana pendirian Gereja Protestan Indonesia Bagian Timur (GPIB) yang diprakarsai oleh Yayasan Obor Banten. Warga masyarakat menghimpun diri dalam Forum Umat Muslim Bersatu Pondok Jagung Timur (FUMB Ponjati).

Warga masyarakat menolak pendirian gereja itu karena di wilayah tersebut mayoritas adalah umat Islam.  Secara administrasi pendirian gereja tersebut juga bermasalah. Masyarakat tidak pernah menerima pemberitahuan, soasialisasi dan permintaan izin pendirian gereja.

GPIB-tangsel-2“Berdasarkan verifikasi data yang telah kami lakukan terdapat cacat persyaratan yang diajukan dalam pengajuan IMB bangunan tersebut,” kata Sekretaris FUMB Ponjati Saleh Meindarfianto dalam rilis yang diterima Suara Islam Online, Rabu (23/10/2013).

Cacat persyaratan yang dimaksud adalah adanya pemalsuan tanda-tangan persetujuan warga dan terdapat KTP yang telah kadaluarsa tanggal berlakunya.

Warga juga mempermasalahkan keluarnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dinilai tidak memperhatikan analisis AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), seperti timbulnya kemacetan yang parah karena akses jalan untuk menuju lokasi rencana bangunan tersebut merupakan gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh akses satu mobil.

Selain persoalan teknis-administratif di atas, warga menolak pendirian gereja itu dikhawatirkan akan adanya aktivitas pemurtadan yang mereka lakukan. Warga mensinyalir aktivitas ini karena pihak gereja sudah mulai mengundang warga sekitar dengan kedok acara kemanusiaan pembagian sembako, tawaran bantuan kepada majelis taklim, kegiatan kepemudaan dan masyarakat sekitar.

“Termasuk maraknya penginjil yang memasuki perkampungan dan pemukiman warga sekitar,” lanjut Saleh.

red: shodiq ramadhan Kamis, 24/10/2013 19:28:28 | Shodiq Ramadhan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 402 kali, 1 untuk hari ini)