• Selama ini mereka begitu leluasa mempromosikan ajaran dan pemikiran sesatnya, bagaimana lagi jika kesempatan dan peluang mereka untuk menyebarkan kesesatan itu semakin terbuka lebar melalui parlemen?


Para tokoh penyesat umat tak henti-hentinya menyebarkan kesesatan dengan berbagai cara, termasuk melalui parlemen untuk menjadi wakil rakyat.

Jalaluddin Rakhmat, tokoh Syiah Dewan Syuro’ (Penasehat) IJABI/Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia dan Ulil Abshar Abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal/JIL, termasuk yang memilih cara (nyaleg) ini.

Jalaluddin Rakhmat melalui PDI-P menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI, nomor urut 1 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat). Sedangkan Ulil Abshar Abdalla, melalui Partai Demokrat menjadi Calon Anggota Legislatif DPR RI nomor urut 7 untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan).

Akibat yang sangat buruk akan dirasakan masyarakat jika mereka terpilih sebagai anggota DPR-RI, terutama dalam masalah kemurnian aqidah umat. Selama ini mereka begitu leluasa mempromosikan ajaran dan pemikiran sesatnya, bagaimana lagi jika kesempatan dan peluang mereka untuk menyebarkan kesesatan itu semakin terbuka lebar melalui parlemen?

Tentunya kita tak ingin Indonesia menjadi negara konflik seperti di Suriah (Syria), diman Syiah Suriah membantai lebih dari 110 ribu umat Islam saat ini.

Menurut Ustadz Ilham Jaya, MA., mantan Direktur STIBA/(Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab), Makassar, kondisi Suriah saat ini bukan seratus persen kesalahan pemerintahannya yang begitu zalim terhadap rakyatnya, tapi juga masyarakat yang sejak dahulu membiarkan orang-orang seperti Hafiz Al-Asad merubah undang-undang yang melarang anak Presiden untuk menjadi Presiden berikutnya, yang pada akhirnya Bashar Al-Assad dengan bebas menduduki pemerintahan dan membantai rakyatnya (Umat Islam Sunn- Ahlus Sunnah) yang tidak sealiran  dengan paham Al-Assad, Syiah Nushairiyah.

Oleh Karena itu waspadalah terhadap 2 Caleg ini yakni: Jalaluddin Rakhmat dan Ulil Abshar Abdalla untuk nyaleg di daerah Anda, karena telah Jelas bahwa Syi’ah itu Sesat lagi Kafir, dan silahkan baca Tulisan tentang Membahas Syiah di: https://www.nahimunkar.org/membahas-syiah/   serta baca pula Tulisan  tentang Menyibak Sepak Terjang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia di: https://www.nahimunkar.org/menyibak-sepak-terjang-jaringan-islam-liberal-jil-di-indonesia/

Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd/Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat

***

Penjahat-penjahat  yang terbesar

Allah Ta’ala telah memperingatkan dalam Surat Al-An’aam ayat 123:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (١٢٣)

 Dan  demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri akaabiro  mujrimiihaa  agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri  itu.  Dan mereka  tidak  memperdayakan melainkan  dirinya  sendiri,  sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Al-An’aam/ 6: 123).

Dan  demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar  yang  jahat  agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri  itu.  Dan mereka  tidak  memperdayakan melainkan  dirinya  sendiri,  sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Al-An’aam/ 6: 123). (Terjemahan ini menurut Al-Quran dan  Tafsirnya,  Depag  RI 1985/1986, juz 8 halaman 266).

Lafal أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا  akaabiro mujrimiihaa itu terjemah Depag sendiri ada  dua macam.  1,  penjahat-penjahat yang terbesar (dalam  Al-Quran  dan Terjemahnya,  Depag  RI  1971, halaman  208),  dan  2,  pembesar-pembesar  yang  jahat  (dalam Al-Quran dan  Tafsirnya,  Depag  RI 1985/1986, juz 8 halaman 266). Dua makna itu berbeda  pengertiannya. Yang satu pembesar-pembesarnya yang jahat, sedang yang satunya lagi penjahat-penjahatnya yang besar.

Kalau dilihat kenyataan, mungkin 2 tokoh penyesat itu ketika belum jadi orang legislative, mungkin ketika menyebarkan kesesatannya itu berstatus sebagai penjahat-penjahat terbesar. Lantas misalnya kemudian menjadi orang legislative dan terhitung sebagai pembesar, maka boleh jadi dalam menyebarkan kesesatan mereka itu statusnya sebagai pembesar-pembesar yang jahat.

Relakah kita mau mencalonkan mereka agar jadi pembesar-pembesar yang jahat?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 28.172 kali, 1 untuk hari ini)