JITU (jurnalis Islam Terpadu) meminta para anggotanya untuk mewaspadai agenda yang sedang diusung musuh-musuh Islam dengan membonceng isu ISIS.

Inilah beritanya.

***

Tegaknya khilafah dan syariat Islam adalah cita-cita umat Islam

A. Z. MuttaqinJum’at, 12 Syawwal 1435 H / 8 Agustus 2014 15:15

JAKARTA (Arrahmah.com) – “Tegaknya khilafah ‘alaa minhajin Nubuwwah dan syariat Islam adalah cita-cita umat Islam,” demikian ditegaskan Ketua Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Surya Fachrizal dalam rilisnya kepada media Islam. Hal ini dikemukakan terkait pemberitaan ISIS yang marak dan serentak di media massa nasional.

Lebih jauh, imbuh Surya, JITU meminta para anggotanya untuk mewaspadai agenda yang sedang diusung musuh-musuh Islam dengan membonceng isu ISIS.

“Karena itu, dalam pemberitaannya anggota JITU harus cermat dalam memilih nara sumber,” terangnya.

Serta yang paling penting juga adalah tetap istiqomah melawan aqidah sesat Syiah dengan terus memberitakan apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah.

“Terus memberitakan penderitaan rakyat Suriah atas kebiadaban rezim Syiah Nushairiyyah pimpinan Basyar Asad. Jangan sampai isu ISIS ini menutup pemberitaan perjuangan dan penderitaan rakyat Suriah,” pungkasnya.

Berikut ini selengkapnya rilis resmi JITU yang diterima redaksi Kamis (7/8/2014).

بسم الله الرحمن الرحيم

Rekomendasi JITU dalam menyikapi pemberitaan tentang ISIS

Sehubungan dengan maraknya pemberitaan tentang ISIS, maka Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menyatakan:

1. Tegaknya khilafah ‘alaa minhajin Nubuwwah dan syariat Islam adalah cita-cita umat Islam. Kerena itu, JITU merekomendasikan kepada setiap anggotanya untuk selalu memberitakan hal tersebut agar tidak kabur dan hilang dengan adanya isu ISIS ini.

2. Terkait simbol Islam yang berpotensi untuk dilecehkan atas merebaknya isu ISIS ini, JITU merekomendasikan kepada setiap anggotanya agar berhati-hati dalam pemberitaannya, sehingga pelecehan tersebut tidak disalahpahami pembaca. Simbol-simbol tersebut misalnya bendera dan logo yang pernah digunakan Rasulullaah صلي الله عليه وسلم

3. Merekomendasikan kepada seluruh anggota JITU untuk mewaspadai agenda yang sedang diusung musuh-musuh Islam dengan membonceng isu ISIS. Karena itu, dalam pemberitaannya anggota JITU harus cermat dalam memilih nara sumber.

4. Merekomendasikan kepada seluruh anggota JITU untuk terus memberitakan penderitaan rakyat Suriah atas kebiadaban rezim Syiiah Nushairiyyah pimpinan Basyar Asad. Jangan sampai isu ISIS ini menutup pemberitaan perjuangan dan penderitaan rakyat Suriah.

Jakarta, 11 Syawal 1435 H/7 Agustus 2014

Ttd

Ketua, Surya Fachrizal

Sekjen, M. Pizaro

(azm/arrahmah.com)

***

Isu ISIS ditunggangi untuk Memadamkan Islam

Gejala yang tampaknya dijadikan kesempatan sudah bermunculan praktrek-praktek curang demi memadamkan Islam. Ada mushalla yang biasa digunakan untuk belajar membaca Al-Qur’an bagi anak-anak di sore hari saja, kini pihak sekolah tidak mengizinkannya lagi.

Rupanya isu ISIS ini oleh pihak-pihak anti Islam apalagi yang memiliki kedudukan, sudah dijadikan momen untuk menghapus Islam.

Praktek-praktek semacam itu sudah sejak zaman PKI dulu di Indonesia. Bahkan dilanjut-lanjutkan pula oleh orang-orang anti Islam berikutnya.

Perlu diingat, sebagian masyarakat di wilayah yang pernah kena bencana tsunami pernah jadi korban praktek penghapusan Islam oleh musuh-musuh Islam pula. Caranya, membuat stigmatisasi terhadap siapa saja yang rajin ke masjid atau mushalla, bahkan dilenyapkan nyawanya dengan tuduhan sebagai antek gerakan ini itu, tanpa bukti apa-apa. Akibatnya, masyarakat takut ke masjid, dan lebih nyaman “I’tikaf” di warung-warung kopi setiap hari sambil menikmati tayangan televeisi yang acaranya tidak nggenah. Hingga warung-warung kopi serempak kompak memasang parabola dengan fasilitas televise yang dilengkapi dengan sound system. Seharian penuh orang-orang “beri’tikaf” di depan televise di warung-warung kopi, mereka merasa aman, tidak akan dituduh macam-macam.

Dalam jangka sekian, sebagian masyarakat yang sehari-harinya “I’tikaf” di warung-warung kopi itu sudah tidak kenal shalat lima waktu lagi. Hingga ketika bencana tsunami melanda wilayah itu, mereka baru mengungsi ke masjid-masjid yang qadarullah diselamatkan oleh Allah hingga tidak hancur. Hanya saja, justru para pengungsi di masjid ini menjadikan jengkelnya para aktivis masjid yang adzan, shalat dan mengurusi kemakmuran masjid.

Kenapa?

Orang-orang yang mengungsi di masjid itu “memaksa” para jamaah masjid untuk ngomel, kurang lebihnya: Kalian ini sudah mati rasa! Kalau ada bantuan saja, buru-buru bangkit dari dalam masjid menuju halaman untuk segera meraihnya. Tapi giliran ada adzan panggilan shalat, sudah sampai iqamat dikumandangkan, kalian tidak mau bergerak apalagi bangkit. Dasar manusia mati rasa!

Demikianlah kurang lebihnya, masyarakat korban penghapusan Islam dengan cara stigmatisasi mendompleng isu-isu tertentu, sudah menjadi orang-orang yang jauh dari Islam, sehari-harinya tidak shalat, hingga mengungsi di masjid pun belum tentu mau shalat. Na’udzubillahi min dzalik!

Dan itu (penghapusan Islam dengan cara stigmatisasi terhadap Umat Islam) telah dipraktekkan dengan bengis dan masifnya oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1950-an dengan mendompleng isu DI/TII terhadap umat Islam di kampung-kampung Islami. Umat Islam tidak tahu apa-apa langsung diseret-seret dengan tuduhan macam-macam sambil digebuki bahkan dibunuh bahkan dikubur hidup-hidup. Sebagian orang yang mengerti lakon ganasnya PKI yang mendompleng isu DI/TII itu masih merasakan trauma, mengingat betapa kejamnya PKI dalam memusuhi Umat Islam.

Manusia yang benci terhadap Islam, dari dulu sampai sekarang tetap akan menjahati Umat Islam dengan aneka cara, sebagaimana yang telah Allah firmankan:

{وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ } [البروج: 8]

8. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Al-Buruj/85:8).

Dalam sepak terjangnya, masing-masing golongan sangat berbeda, namun yang jadi sasaran adalah kaum mukminin. Aneka gangguan pun ditimpakan kepada kaum mukminin. Sehingga Allah memberitahukan kepada kaum mukminin bahwa sejak dahulu telah dilancarkan gangguan yang menyakitkan terhadap kaum mukminin. Para pelakunya bahkan bisa jadi merupakan gabungan komplotan kafirin, musyrikin, munafiqin, dan aliran-aliran sesat.

{ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ } [آل عمران: 186]

186. kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar, dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.(QS Ali ‘Imran: 186)

Yang lebih menyedihkan lagi, ketika penghapusan Islam secara licik dan massif ini justru didukung oleh mereka yang tampaknya sebagai tokoh-tokoh Islam, baik karena mencari makan, atau karena memang sejatinya adalah manusia-manusia munafik. Mudah-mudahan saja kalau karena keliru langkah dan tidak merasa bahwa mereka digunakan untuk alat menghapus Islam, maka kembali ke jalan yang benar dan diampuni Allah Ta’ala. Adapun yang sengaja-ngaja, maka Allah telah menyediakan imbalan siksa keras dan dahsyatnya, baik di dunia maupun di akherat kelak. Kecuali bagi mereka yang bertobat sebelum ajalnya tiba.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 571 kali, 1 untuk hari ini)