JAKARTA (Panjimas.com) – Penganut sekte sesat Syiah masih saja melakukan kegiatan perayaan sesat Idul Ghadir di sejumlah tempat. Padahal selama ini perayaan sesat Idul Ghadir mendapatkan penolakan dari umat Islam.
Dari informasi yang dihimpun, aliran sesat Syiah secara demonstratif menyebarkan spanduk atau famplet undangan perayaan Idul Ghadir.
Seperti di Bondowoso Jawa Timur misalnya, perayaan sesat Idul Ghadir dilaksanakan di sebuah rumah dengan menggelar bazar pada hari Selasa (14/10/2014).

Idul Ghadir

Sementara itu di Jakarta, perayaan sesat Idul Ghadir akan digelar di Gg Kabel No. 2 RT 09 RW 6, Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur pada hari Selasa (14/10/2014) pukul 19.00 WIB. Dalam perayaan sesat Idul Ghadir itu, diundang pula pentolan sekte sesat Syiah, Mukhsin Labib sebagai pembicara.

Bahkan, redaksi panjimas.com juga mendapatkan informasi bahwa seminar Internasional perayaan sesat Idul Ghadir telah dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi pada hari Ahad (12/10/2014) di Universitas Darma Persada Jl. Taman Malaka Selatan No 1, Raden Inten II, Terusan Casablanca, Jakarta Timur.

Dalam acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh liberal Zuhairi Misrawi, pentolan Syiah Jalaluddin Rahmat bahkan dihadiri pula Dr. Hari Jogja SH. M.Si selaku Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta mewakili Gubernur DKI Jakarta.

“Seminar Internasional Al Ghadir dalam rangka Perayaan Agung Al Ghadir berjalan lancar, sukses, penuh berkah, pada hari Ahad 12 Oktober 2014 di Gedung Graha Wirabakti Universitas Darma Persada Jl. Taman Malaka Selatan No 1, Raden Inten II, Terusan Casablanca, Jakarta Timur.

idul-ghadir-di-jakarta foto panjimasdotcom

idul-ghadir-di-jakarta foto panjimasdotcom

Terimakasih kepada para Keynote Speaker, yang telah hadir menyampaikan sambutan, yaitu;

  1. Dr. Hojjatollah Ebrahimian

(Atase Kebudayaan Kedutaan Republik Islam Iran, mewakili Duta Besar Rep. Islam Iran)

  1. Dr. Hari Jogja SH. M.Si

(Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta, mewakili Gubernur DKI Jakarta)

  1. Dr Muchtar Ali, M.Hum (Plt. Dirjen Bimas Islam, mewakili Menteri Agama)

Terimakasih yg tulus juga kami haturkan kepada para pembicara yang berkenan berbagi hikmah dan ilmu serta berkahnya, yaitu:

  1. KH Saifuddin Amsir (Rais Syuriah PB NU)
  1. Dr. Zuhdi Zaini, MA (Pendiri Muhammadiyah Cabang Iran)
  2. Dr. Mohammad Hosein Safakhah (Iran)
  3. Dr. Zuhairi Misrawi, MA (Ketua Moderate Muslim Society)
  4. KH DR Jalaluddin Rakhmat, M.Sc (Ketua Dewan Syura IJABI, Anggota DPR RI)
  5. Sayyid Ali Hani (Ulama dari Kuwait)

Terimakasih yang sebesar-besarnya juga kepada :

– Pimpinan Universitas Darma Persada

– Kapolres Jakarta Timur beserta jajarannya

– Kapolda Metro Jaya beserta seluruh jajarannya

– Ibu dan Bapak para donatur dan jamaah Ahlulbait atas bantuannya dalam berbagai bentuk.”

Untuk diketahui, sekte sesat Syiah memiliki hari raya terbesar yang melebihi kebesaran ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Nama hari raya tersebut adalah ‘Idul Ghadir, yakni sebuah peyaraan atas anggapan mereka mengenai pengangkatan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sebagai khalifah di kebun Ghadir Khum.

Menurut Ulama Syiah, Idul Ghadir adalah hari ketika Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah pengganti kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang kata mereka Jibril turun menyampaikan wahyu kepada Nabi berkenaan dengan hal ini, bahkan Idul Ghadir menurut mereka adalah Hari Raya terbesar.

Dalil mereka adalah, seorang bertanya kepada Abu Abdillah alaihis salam: Apakah kaum Muslimin memiliki hari raya selain Jum’at, Idul Adha dan Idul Fitri?, Sang Imam menjawab: Ya, Itulah yang paling agung. “Hari raya apakah itu, saya jadikan diriku sebagai tebusanmu, beritahu saya” Abu Abdillah menjawab: Hari ketika Rasulullah saw menyematkan kepada Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) alaihis salam perkataan “Man Kuntu Maulahu Fa ‘Aliyyun Maulahu”

Silakan lihat kitab ulama Syiah, Idul Ghadir A’zhamul A’yad fil Islam/ Idul Ghadir Hari Raya Terbesar dalam Islam, karangan Sayyid Muhammad Husain Asy Syirazi, terbitan Haiah Ilmiah fi Hauzah Ar Rasul Al A’zham Shallallahu Alaihi wa Sallam fil Kuwait, halaman 12. [AW]

Panjimas.com, Selasa, 19 Dzulhijah 1435H / October 14, 2014

***

Dasar syiah tak kuat

Orang syi’ah berpendapat bahwa makna kata maula adalah pemimpin dan khalifah, dan yang benar makna kata maula adalah kekasih atau orang yang dicintai, dengan bukti sabda Nabi seterusnya “Ya Allah tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah mereka yang memusuhinya”, وال من والاه و عاد من عاداه sama dengan من كنت مولاه فعلي مولاه makna keduanya adalah sama, inilah kesimpulan peristiwa Ghadir Khum.

Makna kata مولى menurut Ibnul Atsir ada beberapa makna : Rob, pemilik, penolong, pemberi nikmat, sekutu, pembebas, hamba, anak paman dan ipar. Semuanya adalah makna kata maula tapi mereka bersikeras bahwa maknanya adalah khalifah.

Jika Nabi benar bermaksud mengangkat Ali menjadi khalifah sudah pasti Nabi akan mengangkatnya dengan perkataan yang jelas mengarah pada maksud khalifah, bukan dengan kalimat yang memiliki lebih dari 10 makna. Nabi pasti akan menjelaskannya dengan kalimat yang jelas, miaslnya dengan perkataan Ali adalah khalifah setelah aku wafat, jika Nabi bersabda dengan kalimat yang jelas bermaksud khilafah tentunya tidak akan pernah ada perbedaan pendapat, tapi semua ini memang tidak pernah ada.

Sementara jika kata-kata maula diartikan sebagai pemimpin dan penguasa maka akan sangat janggal, seperti dalam ayat

فاليوم لا يؤخذ منكم فدية ولا من الذين كفروا مأواكم النار هي مولاكم و بئس المصير

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali”. [QS. Al-Hadid Ayat 15]

Neraka disebut maula di sini karena orang kafir tinggal dalam neraka dan kekal di dalamnya (apakah neraka bisa disebut “pemimpin” orang-orang kafir?). Sementara itu Ali adalah kekasih dan teman setia orang mukmin sejak jaman Nabi hingga Nabi wafat, oleh karena itu Allah ber-Firman pada Surat Al Maidah ayat 55 :

إنما و ليكم الله و رسوله و الذين آمنوا

Sesungguhnya kekasih dan penolongmu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang beriman…. [Qs. al Maidah: 55]

Setiap orang mukmin adalah adalah bersaudara, saling mencintai dan tolong menolong. Maka anggapan mereka bahwa arti kata maula adalah pemimpin adalah tidak benar, oleh karena itu seorang ulama mereka Nuri Tubrusi berkata “Nabi tidak menjelaskan secara gamblang mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah setelah Nabi wafat pada hari Ghadir Khum tapi hanya mengisyaratkan dengan menggunakan perkataan yang memiliki makna yang sangat banyak yang memerlukan penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Nabi dengan perkataan itu” [Fashlul Khitob Fi Itsbat Tahrifi Kitabi Robbil Arbab hal 205-206].

Jika memang begitu adanya bagaimana hadits itu bisa dianggap sebagai pengangkatan Ali menjadi khalifah setelah Nabi?

Sumber artikel “Kupas Tuntas Peristiwa Ghadir Khum” : Jaser-leonheart.blogspot.com 

https://www.nahimunkar.org/idul-ghadir-dan-nairuz-hari-raya-syiah-dan-majusi/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 818 kali, 1 untuk hari ini)