.

 

 

  • Ketua MUI Muhyiddin Junaidi  Menyerukan Umat Islam Memilih Calon Non-Muslim

Ada tokoh yang pernah mengaku (dengan bangga ?) bahwa dirinya menandatangani kerjasama dengan lermbaga syiah di Karbala Irak. Orang yang duduk di bidang luar negeri di MUI itu adalah orang yang mengarahkan untuk diadakan seminar di satu kampus di Solo Jawa Tengah dengan menghadirkan duta besar dari Suriah dan Amerika. Sangat mengherankan, karena justru rezim Suriah yang syiah itu membantai umat Islam, kenapa dubesnya agar dihadirkan untuk memberi materi seminar ? Alhamdulillah, Umat Islam Solo mencium kebusukan itu, hingga berhasil digagalkan.

Kemudian an-najah.net mewawancarai Joko Beras dari Solo yang dinilai sebagai pemrakarsa seminar aneh berbau syiah itu. Ternyata Joko Beras mengaku bahwa semua itu atas pengarahan Muhyiddin Junaidi dari MUI Pusat. Lha dalaah… kecekel rahasianya.

Kiprah orang itu di antaranya dapat dibaca di artikel Syi’ah Memusuhi Islam Bersekongkol dengan Para Pengkhianat https://www.nahimunkar.org/syiah-memusuhi-islam-bersekongkol-dengan-para-pengkhianat/

Yang lebih menyedihkan terutama bagi Ummat Islam Indonesia, di saat Ummat Islam (Sunni) dimusuhi oleh syi’ah di pusatnya di dunia yakni Iran, justru oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat berbangga bekerjasama dengan Iran dalam bidang riset/ penelitian (agama). Surat kabar yang mewawancarainya (Republika) pun tampak membeberkan dengan lantangnya.

Sebagian wawancara Republika dengan orang MUI, Muhyiddin Junaidi, sebagai berikut:

MUI telah mencoba melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan organisasi-organisasi Islam di luar negeri.

Beberapa waktu lalu, kami diundang ke Irak dan telah menandatangani kerja sama dengan Pusat Kajian Alquran di Irak yang berpusat di Karbala. Walaupun berbeda mazhab, kita ingin sama-sama sharing untuk meningkatkan metodologi hafalan Alquran. Kami bertemu dengan tokoh di Irak, baik Suni maupun Syiah. Bahkan, mereka sangat mengapresiasi kunjungan kita ke Irak di tengah-tengah situasi kemanan yang menurut berita internasional kurang kondusif.

Kita ingin menjalin kerja sama dengan umat Islam walaupun berbeda aliran/mazhab. Kita sadar bahwa musuh-musuh Islam selalu berupaya melemahkan Islam dengan mengadu domba antara Syiah dan Sunni. Kita tak mau itu terjadi. Syiah itu tak seperti Ahmadiyah karena Syiah adalah mazhab yang diakui dunia Islam.

(Pada bagian lain dikemukakan):

MUI juga akan melakukan riset bersama di Iran tentang peradaban Islam. Mereka bisa melakukan riset mengenai peran MUI dalam merekatkan ukhuwah Islamiyah dan ormas-ormas Islam di Indonesia. (Republika, KH Muhyiddin Junaidi MA, Umat Harus Waspadai Konspirasi Musuh

Minggu, 13 Februari 2011 pukul 11:47:00).

Kini orang itu, Muhyiddin Junaidi, mengeluarkan himbauan kepada umat Islam agar tidak takut dalam memilih caleg nonmuslim-kafir. Aneh, dan sangat ironis. Imbauan komplotan syiah itu memalukan sekali karena diucapkan ketika dunia syiah sedang gempar karena Ulama tertinggi Syiah masuk Islam dan kini tinggal di Jeddah. Lihat berita dan video:    Dunia Syiah Gempar! Dikhabarkan, Ulama Tertinggi Syiah Masuk Islam/ Sunni – See more at: https://www.nahimunkar.org/syiah-memusuhi-islam-bersekongkol-dengan-para-pengkhianat/#sthash.jR3B27H3.dpuf

Komplotan syiah yang lainnya dikhabarkan pula akan mengisi tabligh akbar di Masjid Raya Bintaro, 31 Maret 2014. Info Masalah Tabligh Akbar Pendukung Syiah https://www.nahimunkar.org/info-masalah-tabligh-akbar-pendukung-syiah/

Berita yang memalukan dari MUI itu dapat kita simak sebagai berikut.

***

 

Ketua MUI Muhyiddin Junaidi : Menyerukan Umat Islam Memilih Calon Non-Muslim

JAKARTA (voa-islam.com) Menjelang pemilu 2014, entah habis makan apa atau mungkin mendapatkan ‘wangsit’, bagaimana bisanya, lidah Ketua Dewan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi mengeluarkan himbauan kepada umat Islam agar tidak takut dalam memilih caleg nonmuslim-kafir.

Selanjutnya, Muhyiddin menambahkan, syaratnya yaitu  asal yang bersangkutan memenuhi kriteria kepemimpinan yang baik. Kriteria baik calon legislatif non-muslim itu seperti apa? “Sebaiknya sisi adanya sifat-sifat kenabian lebih ditekankan sebagai pertimbangan masyarakat memilih ketimbang agama caleg,” kata Muhyiddin di Jakarta, Rabu (19/3).

Dibagian lain, Muhyiddin menyebutkan dalil yang terkandung dalam Al-Quran Surat Al-Imron ayat 28 yang kerap menjadi rujukan argumen sebagian besar masyarakat Muslim untuk mengharuskan memilih pemimpin Islam.

Al-Qur’an Surah Al-Imran, ayat 28, itu :

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa) Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali”.

Namun, lanjut dia, ayat tersebut diturunkan dalam konteks di negara berdasarkan ukhuwah Islamiyah atau Daulah Islamiyah. Sedangkan Indonesia tidak. Sehingga kurang relevan untuk diterapkan surah Al-Imran ayat 28 itu.

“Memang ada dalil yang menyebutkan sebaiknya memilih yang seiman dengan kita, tetapi itu dalam konteks Daulah Islamiyah, sedangkan Indonesia ini bukan Daulah Islamiyah. Indonesia berdasarkan Pancasila,” katanya.

Ia meminta agar dalil tersebut tidak disalahtafsirkan ke dalam konteks bernegara di Indonesia. “Dalam konteks Indonesia kita harus lebih dewasa dalam memilih,” katanya.

“Kalau sampai dalil itu diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, maka yang terjadi justru pengkotak-kotakan. Itu tentu tidak diharapkan,” tambahnya.

***

Sebaiknya, Muhyididn tidak perlu mengeluarkan seruan atau himbauan yang menyuruh kaum Muslimin memilih calon legislatif non-muslim. Secara empirik (ilmiah) sudah sangat jelas-jelas dan faktual, partai sekuler, diantaranya seperti PDI, yang  anggota legislatifnya gudangnya orang-orang non-muslim, tidak pernah mau memperjuangkan kepentingan golongan Islam. Seperti UU Perkawinan, UU Sisdiknas dan lainnya, PDIP melakukan ‘walk out’. Bahkan, di era Megawati, lahir UU Anti Teroris, yang sekarang digunakan membunuhi umat Islam, yang diberi lebel ‘teroris’.

Bagaimana mungkin orang-orang kafir akan memperjuangkan kepentingan golongan Muslim? Itu seperti mengharapkan ‘kuda’ bertanduk. Tidak akan pernah terjadi di sepanjang sejarah. Ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Azza Wa jalla itu sudah terbukti secara empirik, dan tidak pernah bohong dan dusta.

Bahkan, Allah Azza Wa Jalla, secara tegas di dalam surat Al-Maaidah, ayat 51, mengatakan, orang-orang beriman dilarang menjadikan orang Yahudi dan Nasrani, sebagai teman!

Apalagi, mengangkat atau memilih sebagia pemimpin. Tidak mungkin kafir musyrik, yaitu  Yahudi dan Nasrani, membela dan melindungi Muslim. Justru yang mereka (lakukan adalah) memerangi dan membunuh Muslim. Seperti yang terjadi sekarang di Palestina, Irak, Suriah, Afghanistan, Kaukasus, dan tempat-tempat  lainnya.

Orang-orang yang meminta pertolongan kepada Yahudi dan Nasrani itu, Allah gambarkan mereka yang hatinya terkena penyakit (nifaq). Memang, mereka yang hatinya berpenyakit, kata Allah, segera mereka itu mendekati Yahudi dan Nasrani. (Qs : Al-Maaidah : 52)

Allah Azza Wa Jalla, hanya membolehkan orang-orang beriman  meminta pertolongan kepada Rasul dan orang-orang Mukmin. (QS : Al-Maaidah : 55). Dengan hanya menggantungkan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang Mukmin, Allah akan menjamin kepada orang-orang beriman mendapatkan kemenangan. (QS : Al-Maidah : 56).

Jadi bukan dengan ngemis dan mendukung orang non-muslim alias kafir, dan menjadikan mereka sebagai ‘wali’ penolong, itu sangat mustahil. Wallahu’alam.

http://www.voa-islam.com/ Jum’at, 20 Jumadil Awwal 1435 H / 21 Maret 2014 07:21 wib

***

Dikhawatirkan, MUI diseret Muhyiddin Junaidi untuk menentang Allah Ta’ala.

Dari ungkapan-ungkapan Muhyiddin Junaidi yang mengamputasi pengamalan Al-Qur’an itu dikhawatirkan, MUI telah diseret ke arah menentang Allah Ta’ala. Dan itu sangat berat urusannya. Karena Allah Ta’la telah mengancam:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)

115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Dengan mengamputasi penggunaan ayat Al-Qur’an seperti yang dimaui Muhyiddin Junaidi, dikhawatirkan terkena ayat ini pula:


أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah ;85).

Syaikh Abu Bakar Al-Jazaairi dalam Aisarut Tafaasir menjelaskan, perbuatan mereka yang melalaikan suatu kewajiban dan melaksanakan yang lainnya dengan mengikuti hawa nafsu mereka itu seperti orang yang beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain. Dari sini maka Allah mengancam mereka denga kehinaan di dunia dan azab di akherat. Dan pada ayat Al-Maaidah 86 Allah khabarkan bahwa mereka dengan perbuatan yang demikian itu adalah membeli kehidupan dunia dengan akherat, maka balasan mereka adalah azab yang tidak ada siapapun yang meringankan azab mereka dan tidak ada yang menolongnya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (٨٦)

86. dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (QS Al-Maaidah:86).

Tentang haramnya memilih pemimpin non muslim dapat disimak di nahimunkar.com: Haram Hukumnya Orang Kafir Jadi Ulil Amri/Pemimpin Muslim – See more at: https://www.nahimunkar.org/haram-hukumnya-orang-kafir-jadi-ulil-amripemimpin-muslim-2/#sthash.sGMPdoZg.dpuf

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.160 kali, 1 untuk hari ini)