√. Memberi peluang untuk merusak Islam

√. Dengan adanya promosi nikah mut’ah lewat tesis seperti itu pun disetujui, maka berarti perguruan tinggi Islam di Indonesia ini disamping memberi peluang lajunya kesesatan yang menjerumuskan Ummat Islam dan merusak aqidah Ummat, masih pula tidak melek akan bahaya sakit kelamin sampai HIV dan AIDS yang mengancam tersebar di masyarakat akibat pelacuran dengan nama nikah mut’ah. Di negerinya yang gudang nikah mut’ah, Iran, menurut data yang lalu, 1,2 juta manusia terkena narkoba, di antaranya 77 persen mengidap HIV dan IAIDS karena perzinaan yakni nikah mut’ah.

Dari 4134 disertasi dan tesis produk perguruan tinggi Islam: UIN IAIN dan STAIN (ada juga dari lainnya) sejak 1957 sampai 2008 yang dimuat di situs ern.pendis.depag.go.id, belakangan ada sejumlah karya tulis yang berbau syiah. Bahkan ada yang terang-terangan mempromosikan nikah mut’ah yang telah diharamkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebuah karya tulis, dari judulnya saja sudah berupa kalimat  yang jelas-jelas menentang ajaran Rasulullah. Tesis itu berjudul NIKAH MUT’AH SEBUAH ALTERNATIF SOLUSI PERZINAAN Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 13 Desember 2006, karya Munawar, S.H.I.

Bagaimana tidak menentang. Lha wong dalam hadits shahih, nikah mut’ah itu telah diharamkan sampai hari qiyamat.

و حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ ابْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَقَالَ أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَانَ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang melakukan nikah mut’ah seraya bersabda: \”Ketahuilah, bahwa (nikah mut’ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut’ah, janganlah mengambilnya kembali.\” (HR Muslim nomor 2509).

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِمَا أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Malik bin Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah bahwa ia mendengar Az Zuhri berkata; Telah mengabarkan kepadaku Al Hasan bin Muhammad bin Ali dan saudaranya Abdullah bin Muhammad dari bapak keduanya bahwasanya; Ali radliallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu Abbas, \”Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang nikat Mut’ah dan memakan daging himar yang jinak pada zaman Khaibar.\” (HR Al-Bukhari nomor 4723 kitab nikah, HR Muslim, nomor 3581).

Dalam Islam, kalau sudah ada ketentuan dari Allah Ta’ala ataupun Rasul-Nya, maka tidak ada pilihan-pilihan lain lagi.

 وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ   وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (٣٦)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab/ 33: 36).

Bagaimana tidak dinilai sebagai memberi peluang untuk menyebarkan kesesatan, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari qiyamat, tetapi tesis di perguruan tinggi Islam negeri justru mempromosikan nikah mut’ah sebagai alternative solusi?

Astaghfirullaahal’adhiem…

Disertasi dan tesis yang berbau syiah itu paling banyak (11 karya tulis) dari IAIN/UIN Jogjakarta dan disusul  IAIN/ UIN Alaudin Makassar (5 karya tulis). Kemudian dari IAIN-IAIN lainnya.

Dikhabarkan, Jalaluddin Rakhmat pilih UIN Makassar untuk menjalani proses meraih doctor dalam ilmu agama Islam. Maka diprotes oleh tokoh-tokoh Islam Makassar dalam menempuh gelar doctor agama Islam itu lantaran tulisan-tulisan Jalal terbukti menghujat sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat nahimunkar.com, http://nahimunkar.com/11398/beberapa-tulisan-jalaluddin-rakhmat-mengkafirkan-sahabat-nabi-saw/ )

Ada juga tesis yang judulnya hampir sama di IAIN/ UIN yang sama, hanya saja tahunnya beda, 2001 dan 2004. Yaitu:

  1. Mutimmah Faidah Konsep ketuhanan Ali bin Abi Talib dalam kitab Nahj al Balaghah Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 2001

1734 Mu’min Konsep Pemikiran Ali bin Abi Talib dalam Kitab Nahj al-Balaghah Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 2004

Ada pula yang tesisnya berbau syiah (karena membahas konsep pemikir syiah) kemudian dilanjutkan dengan disertasi yang judulnya mirip pula. Yaitu:

  1. Drs. Basman KONSEP ALI SHARIATI TENTANG MANUSIA DAN KRITIKNYA TERHADAP HUMANISME BARAT MODERN Tesis Filsafat Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta – Tahun 1999

2803 Drs. Basman, M.Ag. HUMANISME ISLAM: Studi terhadap Pemikiran Ali Syari’ati (1933-1977) Disertasi Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 22 Februari 2008

Inilah data sejumlah disertasi dan tesis yang berbau syiah.

***

  1. Drs. Abustani Ilyas Nikah Mutah dalam Islam (Studi kritis Dalil-Dalil Syiah dan Sunni) Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 23 September 1996.
  2. Drs. Muhdi Al Hadar Konsep Ishmat Dalam Pandangan Syiah Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 26 Mei 1997.
  3. M. Syarif. Nur. S.Ag. M.Ag Studi kritis terhadap pandangan Ijtihad Sunni dan Syiah dalam Fiqh Islam Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 13 Desember 2001

2321 Wahyuni Shifaturahmah, S.Th.I. EPISTEMOLOGI HADIS : SUNNY DAN SYIAH Tesis Kajian Al-Qur’an dan Hadis IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 06 Agustus 2006

  1. Drs. Basman KONSEP ALI SHARIATI TENTANG MANUSIA DAN KRITIKNYA TERHADAP HUMANISME BARAT MODERN Tesis Filsafat Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta – Tahun 1999

1585 Muhammad Anwar Firdaosi, S.Ag. ANALISIS TIPOLOGI PEMIKIRAN KARL MARX DALAM PANDANGAN ALI SYARI`ATI Tesis Filsafat Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 01 Nopember 2004

1912 Syamsul Arifin, S.Ag. AKAR-AKAR IDEOLOGI REVOLUSI ISLAM IRAN ( Studi atas Pemikiran Sosial Politik Keagamaan Ali Syari`ati) Tesis Filsafat Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 05 Agustus 2005

2218 Anjar Nugroho, S.Ag. ISLAM DAN REVOLUSI: STUDI PEMIKIRAN ALI SYARI’ATI DAN PENGARUHNYA TERHADAP REVOLUSI IRAN Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 13 April 2006

2803 Drs. Basman, M.Ag. HUMANISME ISLAM: Studi terhadap Pemikiran Ali Syari’ati (1933-1977) Disertasi Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 22 Februari 2008

2148 Eneng Lina Herlina Hubungan Nikah Mut’ah dengan Pembentukan Keluarga Sakinah. Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Gunung Djati Bandung – Tahun 2005

  1. Drs. Badwan MUT’AH DALAM PERS-PEKTIF FILSAFAT SOSIAL ISLAM Tesis Filsafat Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta – Tahun 1998
  2. Muhammad Faisal Hamdani, S.Ag. NIKAH MUT’AH (Analisis Perbandingan Hukum Antara Sunni dan Syi’ah) Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 01 Agustus 2001
    1557 Drs.Abd Marojudo, M.Pd.I Kontreversi Nikah Mut’ah antara Snni dan Syi,ah ( Suatu analisis perbandingan ) Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 23 September 2004

1870 Titin samsuddin, S.Ag Nikah Mut’ah dalam perspektif syi’ah sebuah kajian metodologis Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 04 Juli 2005

2408 Munawar, S.H.I. NIKAH MUT’AH SEBUAH ALTERNATIF SOLUSI PERZINAAN Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 13 Desember 2006

  1. Mutimmah Faidah Konsep ketuhanan Ali bin Abi Talib dalam kitab Nahj al Balaghah Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 2001

1734 Mu’min Konsep Pemikiran Ali bin Abi Talib dalam Kitab Nahj al-Balaghah Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 2004

  1. Ainur Rofiq Al-Amin Studi makna mawla pada frare man kuntu mawlah fa ‘ali mawlah dalam hadith al-Ghadir : Pendekatan hermeneutika Tesis Kajian Hadis IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 2001

2620. Akhmad Satori, S.IP. SISTEM PEMERINTAHAN IRAN MODERN (Studi Pemikiran Politik Imam Khomeini) Tesis Hukum Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 24 Agustus 2007.

***

Memberi peluang untuk merusak Islam

Dengan adanya promosi nikah mut’ah lewat tesis seperti itu pun disetujui, maka berarti perguruan tinggi Islam di Indonesia ini disamping memberi peluang lajunya kesesatan yang menjerumuskan Ummat Islam dan merusak aqidah Ummat, masih pula tidak melek akan bahaya sakit kelamin sampai HIV dan AIDS yang mengancam tersebar di masyarakat akibat pelacuran dengan nama nikah mut’ah. Di negerinya yang gudang nikah mut’ah, Iran, menurut data yang lalu, 1,2 juta manusia terkena narkoba, di antaranya 77 persen mengidap HIV dan IAIDS karena perzinaan yakni nikah mut’ah.

Perguruan tinggi Islam di Indonesia justru menambah khawatirnya masyarakat, baik dari segi ancaman aqidah syiah, maupun ancaman sepilis yang berbentuk pemahaman yakni sekulerisme, pluralism agama, dan liberalisme, maupun penyakit kelamin akibat diberinya jalan untuk promosi nikah mut’ah, bahkan lewat tesis segala.

Itu belum ditambah dengan jumlah besar mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran. Bila mereka beramai-ramai kembali ke Indonesia lalu sama-sama bergabung dalam merusak aqidah masyarakat dan juga menyebarkan bahaya lainnya seperti penyakit kelamin yang disebarkan oleh nikah mut’ah, betapa mengerikannya.

Sempurnalah sudah dalam menggunakan perguruan tinggi Islam di Indonesia yang asalnya untuk hadiah kepada Ummat Islam, namun belakangan justru untuk menjauhkan Ummat Islam dari Islam. Tambah lebih meyakinkan lagi bahwa buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN itu memang jelas sudah.

Waspadalah wahai Ummat Islam. Musuh-musuh yang nyata telah siap memangsa aqidah Ummat dan jiwa-jiwanya!

#################

Diresmikan, Sekolah Tinggi Filsafat Sadra (Filosof Syi’ah) di Jakarta

  • Dinilai dekat dengan aliran sesat Syi’ah
  • Beberapa pengajarnya lulusan Iran
  • Untuk mengajarkan tentang idiologi adanya Al Qur’an versi Syi’ah?

Mengaku sempat terseok-seok selama dua tahun akibat kendala perizinan, akhirnya Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STIF) Sadra resmi berdiri tahun ini.

Lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Hikmat Al Mustafa Jakarta ini diresmikan oleh Prof. M. Zein, selaku pewakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Dalam pernyataannya, M. Zein sempat memberikan apresiasi terhadap sekolah filsafat ini. Ia bahka berharap STFI Sadra dapat menjadi kebanggaan umat Islam dalam mempelajari filsafat, al-Qur’an dan Hadits.

“Rasulullah bersabda ambillah hikmah dar imanapun asalnya,” ujarnya saat launching di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis, (12/07/2012) kemarin.

Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar dan Perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein. Juga dihadiri Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab dan Direktur Mizan Dr Haidar Bagir,  dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Sementara itu Profesor Ahmad Fazeli, Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa turut berterimakasih kepada Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan izin sekolah filsafat ini. Ia berharap smoga STFI Sadra memberikan sumbangan pemikir bagi perkembangan negeri ini.

Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Ahmad Jubaili, Ketua Tim Perumus Kurikulum dikutip radio Iran, IRIB, mengatakan, kuliah yang disusun dirancang secara integral, saling terkait. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.

Mulla Shadra mempunyai nama lengkap Shadr al Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya Qawami al Syiraz, seorang filsuf terbesar mazhab Syiah Imamiyah.

Sekolah ini dikembangkan dengan model boarding (berasrama) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuknya, lembaga ini dinilai dekat dengan Syiah.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.*

Rep: Pizaro/Red: Cholis Akbar – Jum’at, 13 Juli 2012

Hidayatullah.com— Berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama, Dinilai “Berbau” Syiah.

***

Beberapa pengajarnya lulusan Iran

Menandai peluncuran, STFI Sadra membuka dua program studi yakni Filsafat Islam dan Ilmu Qur’an dan Tafsir. Pada angkatan pertama sekolah yang berlokasi di Jalan Pejaten Raya ini menampung 80 mahasiswa baik jalur beasiswa maupun berbayar.

Beberapa pengajar dalam sekolah tinggi filsafat ini adalah lulusan Iran. Di antaranya, Dr. Khalid Walid, alumnus dari Qom dengan desertasinya “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”. Walid juga Wakil Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustofa Jakarta. Pengajar lain juga ada Abdullah Beik, MA, lulusan Qom tahun 1991.

Sementara masuk dalam kepengurusan STFI Sadra, antara lain; Dr Umar Shahab, MA (Ketua Prodi Filsafat Agama STFI Sadra), Dr. Haidar, MA (Ketua Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir), Dr. Kholid Walid, MA (Wakil Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustofa Jakarta), Abdullah Beik, MA (Dosen STFI Sadra Jakarta, tulis arrahmah.com.

***

Untuk mengajarkan tentang idiologi adanya Al Qur’an versi Syi’ah?

STIF Sadra ini ada Dr. Haidar, MA yang jadi Ketua Prodi –program studi– Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Beberapa waktu lalu orang itu pernah polemic di Republika, mengenai Syi’ah dan kaitannya dengan Al-Qur’an.

Untuk mengungkap ideology Haidar Baqir dilihat dari tulisannya, maka berikut ini kami tampilkan tanggapan Dr Arifin Baderi alumni Jami’ah Islamiyah Madinah.

Inilah tanggapan beliau terhadap tulisan Haidar Baqir.

***

Trimakasih Kepada Bapak Haidar Bagir, Atas Pegakuanya.

Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat.

Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa idiologi Si’ah yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila anda mencermati dengan seksama, niscaya anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syi’ah Imamiyyah.

Berikut saya ketengahkan ke hadapan anda empat pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.

Pengakuan Pertama :

Data Syi’ah Imamiyah tentang idiologi adanya Al Qur’an versi Syi’ah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syi’ah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya untuk menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih untuk mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh syi’ah Imamiyah. Karena itu, tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan bahwa idiologi tentang adanya Al Qur’an versi Syi’ah Imamiyyah adalah benar-benar nyata, dan bukan tuduhan semata.

Adapun klaim bapak Haidar bahwa idiologi ini adalah idiologi sebagian oknum Syi’ah maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Ali Khamenei, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syi’ah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkan hal ini. Dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 149 ia menyatakan: “Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabimenahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Al Qur’an. Alasannya beliau khawatir Al Qur’an akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.”

Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syi’ah Imamiyah maka itu belum cukup kuat untuk mengingkari adanya mushaf Fatimah dalam idiologi Syi’ah. Yang demikian itu karena tokoh Syi’ah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Al Qur’an yang ada, hingga kelak Imam Mahdi yang mereka yakini bangkit.

Al Kulaini dalam kitanya Al Kaafi 2/619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Abu Ja’far :  Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada pada Al Qur’an kita ini. Sebagaimana kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda, maka apakah kami berdosa? Beliau menjawab: Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.”

Adapun tokoh-tokoh sunni yang oleh bapak Haidar diklaim telah berpendapat tentang adanya perubahan pada Al Qur’an, adalah klaim sepihak yang kosong dari bukti. Karena pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang oleh Allah Azza wa Jalla dianulir/dihapuskan secara bacaan namun hukumnya masih tetap berlaku. Sebagaimana ulama’-ulama’ sunni juga menegaskan bahwa dalam Al Qur’an terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada.  Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.

Namun tentu syari’at nasekh (anulir) suatu ayat menurut sunni menyelisihi idiologi perubahan Al Qur’an dalam doktrin Syi’ah Imamiyah. Nasekh menurut sunni hanya terjadi semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi nasekh.

Ditambah lagi menurut syariat sunni, hingga hari qiyamat tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup shallallahu ‘alaihi wa sallam mansukh (dianulir).

Sedangkan menurut sekte Syi’ah Imamiyyah Al Qur’an mengalami perubahan sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syi’ah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.

Pengakuan Kedua :

Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan syi’ah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, syi’ah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah minoritas.

Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syi’ah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagirlah yang telah menggunakan data syadz (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas syi’ah, sedangkan meyoritas syi’ah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.

Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar Umar dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.

Adapun beberapa tokoh syi’ah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?

Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut syi’ah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan Baba Suja’uddin. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.

(Pintu Gerbang Kuburan Abu Lu’lu’ah Al Majusi)

Pengakuan Ketiga:

Kebesaran jiwa ulama’-ulama’ sunni dan juga seluruh umat sunni untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut.

Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran syi’ah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara taqrib telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syi’ah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga syi’ah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.

Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran sunnilah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran syi’ah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang sunni di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai sunni adalah bukti nyata akan hal tersebut.

Pengakuan Keempat :

Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syi’ah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa idiologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?

Terlebih sejatinya idiologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah idiologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syi’ah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Al Hasan.

Adapun Al Husain beserta anak cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorangpun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.

Secara defacto seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Al Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan khilafah (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah.

Bahkan Al Husain bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa imamah, hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syi’ah Imamiyyah setelah Al Hasan berstatus The Kings Without A Kingdom.

Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh sunni dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak idiologi Syi’ah Imamiyyah.

Dr. Muhammad Arifin, Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).

(nahimunkar.com) 14 July 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Indonesia,Syi’ah | Posted by:nahimunkar.com

(Dibaca 3.950 kali, 1 untuk hari ini)