• Di Jawa tempo dulu, nenek-nenek dan ibu-ibu ketika menjenguk bayi yang baru lahir,  mereka melontarkan ucapan yang aneh-aneh. Misalnya: Aduh… ayunya… bagusnya… bayi ini…, kayak kemaluan kerbau…
  • Mungkin dulu kala ketika masih bayi termasuk yang diserupakan dengan kemaluan kerbau, kemudian kini ada yang jadi pejabat tinggi, aqidahnya loyo.
  • Ketika aqidahnya loyo, maka sering ikut perayaan-perayaan aneka kekafiran dan kemusyrikan. Kelak bila meninggal, apakah akan mampu menjawab pertanyaan Malaikat di dalam kubur ketika diajukan pertanyaan: Apa agamamu?
  • Bahkan ketika ditanya di dalam kubur: Siapa Tuhanmu, belum tentu mampu menjawab. Karena di perayaan-perayaan kekafiran dan kemusyrikan yang sering dia ikuti ketika hidup di dunia, Tuhan yang disebut-sebut bukanlah Allah Ta’ala yang tiada sekutu sama sekali bagi-Nya.
  • Bayi yang didoakan oleh orang tuanya sejak dalam kandungan, ketika lahir, dan ketika dalam asuhan serta pendidikan hingga dewasanya, insya Allah jadi anak yang shalih.

Hati siapa yang merasa enak bila anaknya yang baru lahir dikatai dengan ucapan yang tidak mengenakkan. Tetapi dalam pergaulan hidup ini kadang perkataan orang tampaknya ada yang sekenanya saja. Seolah tidak mempertimbangkan orang lain yang jadi pihak penderita perkataannya. Ada kemungkinan, orang yang menengoki bayi lahir itu mengucapkan perkataan yang tulus dari hatinya dengan ikut bergembira, tapi mungkin juga ada yang sebenarnya memendam rasa hasud dan dengki. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakan cucunya yang baru lahir, Hasan dan Husein,  agar keduanya terlindungi dari segala syetan, binatang buas, dan setiap mata yang dengki.

Belasan tahun lalu, satu keluarga di Jakarta ketambahan warga baru yakni anaknya yang kesekian lahir. Alhamdulillah puji syukur pun diucapkan untuk Allah yang Maha sayang kepada hamba-Nya, yang memberikan titipan amanah berupa anak untuk dididik agar jadi anak shalih dan maslahat bagi orang tua serta Ummat Islam pada umumnya.

Bayi yang baru lahir ini tidak seperti yang lainnya. Keluarga ini merasakan, banyak orang yang menengoki bayinya. Dari sanak saudara, tetangga dan lainnya.

Dalam Islam, setiap menengoki bayi, sebenarnya sudah ada doanya yang dicontohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat dari Ibnu Abbas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ : « أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ ». سنن أبى داود – (ج 13 / ص 473) قال الشيخ الألباني : صحيح

Dulu Rasulullah mendo`akan perlindungan untuk Hasan dan Husain  radhiyallahu ‘anhuma yang baru lahir, “Aku memohonkan perlindungan atas kalian berdua dengan Kalimat-kalimat Allah yang
sempurna dari segala syaitan dan binatang berbisa, serta dari setiap pandangan mata orang yang dengki.”
(HR Abu Dawud, kata Syaikh Al-Albani: shahih).

Kata ganti (dhomir) kuma (kalian berdua – karena bayinya dua laki-laki) itu tinggal diganti, bila satu laki-laki diganti ka, jadi u’iidzuka. Dan bila perempuan satu maka ki, yaitu u’iidzuki.

Dalam kenyataan, orang-orang yang menjenguk bayi jarang yang mendoakan demikian. Biasanya ada perkataan-perkataan yang terlontar sebagai rasa ikut gembira atau keakraban. Misalnya:

Aduuh… bayinya cakep banget, putih ya… kuning yaa. Mulus yaa. Matanya begini mulutnya begitu dan sebagainya.

Dengan adanya ungkapan yang menyanjung-nyanjung bayi, ataupun ada di balik itu memendam rasa dengki, maka perlu kita sadari, tuntunan Rasulullah adalah tuntunan terbaik. Oleh karena itu doa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu penting diucapkan sebagai doa untuk bayi, agar Allah lindungi. Baik dari segala gangguan syetan, bahaya binatang berbisa, maupun segala bahaya mata yang dengki, yang dikenal dengan penyakit ‘ain.

Di Jawa masa lalu, sebelum adanya pengajian-pengajian yang sesuai sunnah, maka ucapan orang-orang yang menengoki bayi macam-macam. Bahkan rata-rata jorok dan aneh… masa’ rata-rata orang Jawa dulu di suatu desa yang 100 persen penduduknya Muslim, kalau mereka menengoki bayi, ucapan mereka adalah; aduuuh ayune/ baguse bayi iki kaya trk kebo

(aduh ayunya / bagusnya bayi ini seperti kemaluan kerbau…).

Coba kita bayangkan… Anak orang dikatain seperti kerbau. Penyerupaan dengan kerbau itu  saja sudah sengak (tidak enak) sekali rasanya. Apalagi ini malah sang bayi dikatain seperti kemaluan kerbau…. Bayangin…

Mungkin dulu kala masih bayi diserupakan kemaluan kerbau, kemudian kini ada yang jadi pejabat tinggi aqidahnya loyo

Itulah adat Jawa… di suatu tempat tempo dulu. Dan katanya kalau tidak mengikuti adat itu maka dianggap tidak njawani… dalam arti kurang baik, menurut sebagian mereka. Kenapa tidak sekalian dikatakan seperti monyet saja ya? Kenapa mereka pilih kebo alias kerbau? Padahal di Jawa itu sendiri kebo itu jadi lambang bodoh. Sehingga ada nyanyian Jawa untuk anak-anak sekolah rakyat zaman dulu (kini SD), yang intinya jangan sampai malas belajar. Kalau malas maka akan jadi orang yang “longa-longo kayak kebo” (artinya plonga-plongo tidak tahu apa-apa seperti kerbau).

Entah ada kaitan atau tidak dengan ucapan ‘Aduh bagusnya bayi ini, seperti kemaluan kerbau” itu tadi, tetapi dalam kenyataan kini, ada yang sampai jadi orang sangat tinggi kedudukannya pun ketika dikatain kayak kerbau dia hanya tengok kanan kiri… sambil monga-mangu, gendulak gendulik apa sido (jadi) apa ora… rupanya kemungkinan dari kecil sudah dikudang-kudang bahwa dirinya cakep, seperti kemaluan kerbau…

Jadi “doa” ala Jawa kala itu, kini baru terijabahi… mungkin.

Lebih dari itu, ada yang sudah sampai berkedudukan sangat tinggi, tetap saja tidak tahu mana yang haq dan mana yang batil. Mana kebenaran yang harus dipegangi dan dibela, dan mana kesesatan yang harus dibenci dan dijauhi pun tidak tahu. Bahkan lebih buruk lagi, membenci dan menjauhi kebenaran, sambil membela dan menyukai kesesatan. Padahal di tangannyalah kendali untuk dilarangnya kesesatan. Sehingga akibatnya, bukannya di negeri yang dia pimpin itu kesesatan dia larang, tapi justru dia bela, dan pembelaannya itu dia banggakan lagi kepada utusan-utusan luar negeri. Astaghfirullahal ‘adhiem.

Sebaliknya, suatu ketika orang yang mungkin ketika lahir dikudang-kudang bahwa dirinya cakep seperti kemaluan kerbau ini ketika jadi petinggi yang dikenal berfaham pluralism agama, suatu ketika dia mendengarkan khutbah Jum’at tempat yang dia jadi penguasanya, dia dengarkan QS 3: 19 yang menegaskan agama yang diterima oleh Allah itu hanyalah Islam. Maka ghirah sesatiyah orang ini meradang, hingga diperintahkanlah ta’mir masjid untuk mencoret khatib itu dari jadwal yang telah tercantum setahun di antara para khatib. Karena khutbahnya jelas bertentangan dengan pluralism agama alias kemusyrikan baru yang dia bela.

Di balik itu, kalau yang namanya perayaan-perayaan kemusyrikan, maka hayo saja. Diundang natalan… hayo… dia nongol paling depan. Diundang waisakan… hayo… dia juga di paling depan. Diundang cap go meh-an… hayo… dia juga nongol di barisan terdepan. Diundang untuk diberi gelar dari agama kekafiran… hayoo…

Sebenarnya agamanya apa?

Meskipun demikian, siapapun dirinya, selagi masih belum sakaratul maut, maka masih ada kesempatan mendandani diri dan bertaubat. Tinggal dirinya mau atau tidak, itu persoalannya.

Bila seorang muslim bertaubat dari dosa-dosa besarnya sebelum sakaratul maut dengan taubatan nashuha, taubat yang murni, benar-benar, maka insya Allah terhitung sebagai mukmin yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini:

عَنِ الْبَرَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى قَوْلِ اللَّهِ (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ) قَالَ « فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Al-Bara’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah: (Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;).(QS Ibrahim: 27) beliau (Nabi) bersabda: di dalam kubur ketika dikatakan kepadanya (orang mukmin) siapa Tuhanmu, dan apa agamamu, dan siapa nabimu. (HR At-Tirmidzi, ia berkata, ini hadits hasan shahih, berkata Syaikh Al-Albani: shahih).

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan tentang orang-orang beriman yang Allah teguhkan itu, di kubur nanti, saat menghadapi pertanyaan dua malaikat (maka Allah meneguhkannya) dengan (memudahkannya untuk) menjawabnya dengan jawaban yang benar, ketika dilontarkan kepada mayat: Siapakah Rabbmu? Apakah agamamu? Dan siapakah nabimu?

Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk menjawab dengan benar, dengan menjawab, “Allah Rabbku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku.” (Tafsir As-Sa’di dalam QS Ibrahim: 27).

ونسأل الله أن يثبتنا وإياك بالقول الثابت، وأن يجعل قبورنا روضة من رياض الجنة ولا يجعلها حفرة من حفر النار.

Kami mohon kepada Allah agar meneguhkan kami dan kamu dengan ucapan yang teguh itu, dan hendaknya menjadikan kubur kami taman dari taman-taman surga dan janganlah Allah menjadikannya lubang dari lubang-lubang neraka. Amien.

Bagaimana bila seseorang ketika di dunia sering ikut perayaan-perayaan aneka kekafiran dan kemusyrikan akan mampu menjawab pertanyaan Malaikat di kubur ketika diajukan pertanyaan: Apa agamamu?

Bahkan ketika ditanya: Siapa Tuhanmu, belum tentu mampu menjawab. Karena di perayaan-perayaan kekafiran dan kemusyrikan, Tuhan yang disebut-sebut bukanlah Allah Ta’ala yang tiada sekutu sama sekali bagi-Nya.

***

Kisah bayi yang dikatain “kasar amat”

Kembali kepada pembicaraan para penengok bayi lahir, sebuah keluarga di Jakarta yang lahir anaknya kesekian itu tadi ada kisahnya, kenapa kali ini banyak yang menengoki bayinya. Sehingga, ucapan-ucapannya pun lebih banyak ragamnya. Sebelum cerita tentang di antara ucapan yang ganjil dari para penengok bayi, perlu sedikit dikisahkan, kenapa banyak yang menengoki bayi yang satu ini.

Ternyata ada kisahnya tersendiri. Sang ibu bayi ini ketika sedang hamil mengalami cobaan yang jarang diderita umum. Dia dituduh memelihara tuyul alias syetan untuk mencari kekayaan. Dan kala itu sedang ramai-ramainya muslimah berjilbab didera aneka fitnah. Sehingga ibu berjilbab yang lagi hamil ini setiap ada keperluan ke pasar atau ke mana senantiasa jadi sorotan tajam mata orang orang.

Kenapa difitnah begitu?

Awalnya ibu berjilbab ini membantah keras seorang tamu yang dibawa berkunjung oleh tetangganya ke rumah ibu hamil ini.  Ternyata tamu itu adalah dukun alias kahin. Omongan dukun memang tidak boleh dipercaya, menurut Islam, maka dibantahlah oleh sang ibu hamil ini. Tahu-tahu hari-hari berikutnya telah tersebar fitnah dahsyat bahwa si ibu hamil yang berjilbab ini memelihara tuyul. Dari situlah masyarakat senantiasa memandang sinis penuh kebencian terhadap sang ibu hamil ini. Dan rupanya mereka menunggu-nunggu, nanti kalau bayinya lahir seperti apa.

Bisa dibayangkan, betapa menderitanya sang ibu hamil yang disebarkan fitnah keji atasnya itu. Orang sekampung bahkan sepasar tahu semua, dan menyorotkan pandangan mata yang tidak mengenakkan padanya. Mungkin di mata manusia, si ibu hamil berjilbab ini lebih buruk dibanding maling, yang setiap gelagatnya harus diwaspadai.

Derita kehamilan seolah kecil sekali dibanding derita tersebarnya fitnah yang sama sekali tidak diketemukan jalan keluarnya ini, kecuali sabar dan pasrah kepada Allah ta’ala. Para manusia pun telah menunggu-nunggu, kapan bayinya lahir, dan seperti apa.

Begitu bayinya lahir, benarlah. Seakan terjadi perubahan drastic. Yaitu tidak seperti anak-anak yang lahir sebelumnya dari rahim sang ibu ini. Kali ini lebih banyak orang yang hadir untuk melihat sang bayi.

Setiap rombongan ibu-ibu yang hadir dan berdiri membungkuk mendekatkan wajah ke bayi yang sedang dipangkuan sang ibu, seakan mereka kaget sekali. Ucapan-ucapan pun menjadi tak beraturan, seakan antara yang mereka bayangkan sebelumnya dengan kenyataan yang mereka hadapi berbeda. Karena bayi yang sedang mereka hadapi itu putih bersih mulus, montok, cakep dan menyenangkan. Tiba-tiba di antara mereka ada yang spontan berkata: “wow… bayinya kasar amat yaa…”

 Terhadap ucapan yang seperti itu, sang ibu yang asli Betawi/ Jakarta ini senyum-senyum saja, tidak ada rasa tak suka terhadap ucapan itu. Sementara itu, sang ayah asal Jawa (bukan Betawi) yang saat itu ada di ruang sebelah namun mendengar dengan jelas perkataan itu, kaget sekali dan penuh tanda tanya bahkan tersinggung berat dan sedih. Kenapa bayinya yang baru lahir dari rahim isterinya dikatain “kasar amat”?

Bagi sang ayah, ada penderitaan baru. Selama ini ikut menderita karena isterinya dituduh memelihara tuyul, kini ditambah dengan bayinya dikatai “kasar amat”.

Waktu pun berjalan. Kemudian bayi itu sudah sekolah sampai tamat SD. Lantas dia disekolahkan ke luar kota ke pesantren di Jawa Tengah. Suatu ketika dia nangis-nangis, lapor kepada ibunya lewat telepon bahwa dirinya dikatai oleh temannya dengan perkataan yang sangat tidak patut, dan senantiasa diulang setiap ketemu. Maka ibunya pun menasihati, agar sabar, dan itu hanya ujian hidup. Nanti kalau sabar, insya Allah akan diangkat derajatnya oleh Allah Ta’ala.

Tiga tahun kemudian, sang ibu diberi tahu bahwa di saat liburan nanti akan ada teman-teman dari abang “si bayi” yang diceritakan ini yang akan berlibur ke Jakarta. Jadi menginap di rumah. Maka ibunya pun mempersilakan.

Ketika liburan tiba, “si bayi” yang sudah gede itu tidak bareng abangnya, pulang ke Jakarta dari pesantren di Jawa Tengah. “Si bayi” duluan pulang, karena sang abang masih harus menyelesaikan urusan ini dan itu untuk rombongan beberapa orang ke Jakarta dari Jawa Tengah.

Terjadilah apa yang terjadi. Ternyata di antara kawanan yang ikut abang itu adalah seseorang yang tiga tahun lalu selalu ngata-ngatain “si bayi” dengan perkataan yang tidak patut hingga menjadikannya sangat sedih dan menderita itu. Betapa kagetnya. Selama ini mungkin dia (tukang ngatain) tidak tahu atau lupa bahwa sang abang yang diikuti untuk ke Jakarta itu adalah abang kandung “si bayi”. Sehingga betapa tidak enaknya perasaan dia yang pernah mengata-ngatai sampai sebegitunya itu. Semalaman dia gelisah di rumah “ si bayi”. Seolah dia kalau bisa harus lari dari rumah itu. Tetapi ke mana? Dia ke Jakarta saja baru sekali, dan itu atas izin ibunya, dan hanya bisa dititipkan kepada abang “si bayi” itu. Sehingga kegelisahan yang hebat diderita olehnya, berkaitan dengan ketegaannya telah mengata-ngatain “si bayi” itu, dan dia harus mengalami bermalam di rumah “si bayi” dengan tidak mungkin lari sendiri ke luar atau ke tempat lain.

Melihat gelagat yang sangat tidak enak itu, “si bayi” tenang-tenang saja dan bersikap baik-baik saja.

Diam-diam sang ayah memantau “si bayi” yang ketika baru lahir dikatai sebagai “kasar amat” itu. Ternyata anak ini justru memiliki sifat lembut dan sayang sama teman-temannya. Hingga suka memberikan hadiah kepada adiknya, temannya, dan atau anak-anak kecil bila dia pulang ke Jakarta. Sifat kelembutan yang memang diajarkan betul dalam islam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tampaknya ada pada anak ini mewarisi kakeknya.

Dari situlah sang ayah dan ibu senang dan sayang kepada “si bayi” itu. Dan mungkin sang ayah diberi hiburan oleh Allah sebagai ganti sedihnya selama ini akibat anaknya dikatain “kasar amat” itu sehingga ketika kenyataan anaknya berhati lembut (insya Allah) maka terasa ni’mat rasanya, karunia itu. Dan bersamaan dengan terhiburnya hati lantaran dalam kenyataan, “si bayi”  yang dikatai “kasar amat” itu memiliki hati yang lembut, saat itu pula sang ayah yang berasal dari Jawa ini baru mendapatkan penjelasan dari sang isteri.

Penjelasan apa?

Yaitu penjelasan ketika omong-omong tentang ucapan orang: wow… bayinya kasar amat….

 Sang isteri menjelaskan, maksud dari lafal “kasar amat” yang diucapkan oleh ibu-ibu Betawi yang sudah tua itu, maksudnya adalah pujian, yaitu gede banget atau montok banget. Jadi bukan kasar dalam arti keras dan tidak halus.

Wow, pantesan, kamu dulu senyum-senyum…. Wahai isteriku.  Kenapa tidak bilang begitu dari dulu?

Lha Mas ga tanya… ya mana orang tahu…. bahwa Mas ga tahu…

Sang suami tidak melanjutkan dengan jawaban. Diam saja. Karena memang selama ini merasa tidak ada yang perlu ditanyakan. Lafal kasar itu baginya tidak ada makna-makna lainnya lagi. Seakan itu qath’I kalau bahasa usuhul fiqihnya dia anggap. Tidak mungkin mengandung makna lain lagi. Kasar ya kasar. Lagi pula, sejak kecil sudah dengar omongan macam-macam dari orang yang menengoki bayi-bayi di Jawa tempo dulu, para bayi dikatain seperti kemaluan kerbau. Tetapi tidak ada yang mempersoalkannya. Jadi dianggapnya ya sah-sah saja, walau menyakitkan hati. Akibatnya ya ada derita yang dirasa sendiri itu tadi yakni sakit hati karena anaknya dikatain “kasar amat” oleh orang, ya diam saja, hanya dirasakan sendiri sakit hatinya.

Dalam kisah ini, “si bayi” dilingkupi oleh derita-derita.

  1. Sang ibu ketika sedang hamil menderita karena dituduh memelihara tuyul,
  2. Sang ayah  sejak bayi itu lahir, sang ayah  menderita karena bayinya disebut “kasar amat”. Hati sang ayah tersinggung, sedih  dan menderita. Namun dia tidak membicarakannya, karena pengalaman masa lalunya di Jawa tempo dulu, bayi-bayi ketika lahir dikatain seperti kemaluan kerbau, ternyata orang tuanya tidak mempersoalkannya. Jadi ketika di Jakarta ada orang yang mengatain bayinya, walau dia rasakan sakit karena merasa tersinggung atas perkataan itu, ya diam saja.  Belakangan baru ketahuan, ternyata bukan dikatain, tetapi disanjung. Lafal “kasar” itu bahasa setempat tempo dulu atau masyarakat tertentu, yang maksudnya gede, besar, montok.
  3. “Sang bayi” ketika sekolah dikatain oleh temannya dengan perkataan yang sampai kelewat batas, selalu diulang-ulang hingga dia menangis, dan lapor kepada ibunya.  Bahkan belum lama ini pun “si bayi” ini menderita pukulan kata-kata yang cukup memilukan hatinya namun tidak perlu diungkap di sini. Dan itu kalau disabari dan penuh ketaatan dan keikhlasan karena Allah, maka insya Allah ada kebaikan di balik itu. Seorang anak berhati lembut, ketika disinggung dengan perkataan yang sangat menyakitkannya, dapat dibayangkan, betapa sakit hatinya. Gejolak antara hatinya yang teriris-iris, dengan sikap mudanya yang mungkin ingin bergolak, berkecamuk dalam dirinya. Hanya Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia. Semoga saja Allah meneguhkan hatinya dalam keimanan yang teguh, dan mengangkat derajatnya, menjadi anak shalih yang berbakti kepada Allah ta’ala dan juga kepada kedua ibu bapaknya. Amien.

Jakarta, Muharram 1434H/ Desember 2012.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.304 kali, 1 untuk hari ini)