Oleh: Azzam Mujahid Izzulhaq

(Founder di AMI Foundation)

(Arrahmah.com) – “Kamu harus pergi…,” kata sahabat saya di Xinjiang suatu hari. Bukan mengusir karena tak senang dikunjungi, tapi memang kondisi yang mengharuskan demikian. Demi keamanan.

“Safety first, bro!”. Kalimat ini selalu diulang oleh rekan-rekan jurnalis AP dan AFP mengingatkan dengan cerewetnya kepada saya.

Betapa tidak, selama di Xinjiang sudah 46 orang asing ‘menghilang’. Jika saya tidak pergi, mungkin bertambah 1 menjadi 47 orang. Itulah sebabnya saya diusir mereka.

Ikhtiar ini baru saja akan dimulai. Terutama setelah berhasil keluar dari Negeri Tirai Bambu ini.

Saya pun membuat rekayasa perjalanan keluar dari Xinjiang. Menghilangkan jejak agar tetap disangka pelancong, bukan pengemban misi kemanusiaan. Tidak langsung dari bandar udara Urumqi Diwopu, melainkan berperjalanan darat terlebih dahulu ke Lanzhou.

Dari Lanzhou ke Xi’an. Xi’an ke Hongkong dan baru masuk tanah air. Itupun sepertinya Jakarta bukan menjadi pilihan kedatangan. Saya memilih Denpasar, agar lebih ‘leluasa’.

Namun, saya terkaget saat ada yang menarik lengan jaket. Saya pun menoleh dan tampak anak berusia 10 tahunan memangil dan berkata:

“Shushu… Qing ba zhe bi qian jiao gei wo zai Makassar. Tolong berikan ini untuk teman-temanku di Makassar”, katanya lirih.

Saya terduduk memeluknya. Saya tanya, “Uang dari mana ini?”

“Uang tabungan aku dan ibuku. Tolong berikan ya, Paman. Paman sudah membantu ibu dan memberiku bekal. Aku dan ibu ingin juga membantu. Kasihan mereka tidak punya rumah lagi (karena banjir),” jawabnya lirih.

Ya, kabar apa yang terjadi di Indonesia cepat tiba ke sini. Radio dan televisi cepat mengabarkan. Termasuk berita bencana alam banjir di Makassar (Sulawesi Selatan), angin puting beliung di Bandung, dan bencana alam tsunami sebelumnya di Banten dan Lampung.

Entah apa karena berbagai perangkat pemancar sinyal telekomunikasi yang digunakan di tanah air juga sudah banyak menggunakan produk China? Pokoknya, segala kabar viral di Indonesia, perasaan cepat sampai didengar dan disebarkan media di sini.

Uang tabungan anak ini untuk membantu korban banjir di Sulawesi Selatan tak seberapa nominalnya. Setelah dihitung hanya 101,6 Yuan saja (kurang lebih setara dengan Rp. 210.000-an) dalam pecahan uang 1 Yuan yang paling banyak. Tapi sangat besar nilainya.

Uang ini bukan hanya menyimpan rasa kepedulian. Lebih dari itu, uang ini menyimpan rasa cinta dan kasih sayang, semangat persaudaraan yang menembus relung nurani setiap insan. Dan, bagi saya ini nilainya lebih besar dari nominal milyaran rupiah sekalipun.

Bagi sebagian orang mungkin hal ini adalah gila. Tidak masuk akal. Orang yang sedang kesulitan kok bisa-bisanya memikirkan dan membantu orang. Ya, ‘gila’ juga gelar yang disematkan oleh para pembenci Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Sang Panutan.

Ini adalah bukti iman. Ini adalah bukti Islam. Pun juga ini adalah bukti Ihsan insya Allah.

Rencana pun berubah. Saya akan ke Makassar, sebelum kemudian insya Allah akan berbagi cerita bersama sahabat-sahabat di ibukota. Menyampaikan amanah bantuan ‘besar’ dari negeri yang sedang berduka: Xinjiang.

(ameera/arrahmah.com)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 296 kali, 1 untuk hari ini)