• Yahya Renaldy Lihu tewas secara mengenaskan bersama tersangka penipuan bermodus penggandaan uang, Munyaroh (45), terjun ke dalam jurang di Desa Petung, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
  • Sebelumnya, Yahya (polisi) memutuskan mengajak Munyaroh (tersangka penipuan) turun dari mobil agar Munyaroh menunjukkan sebuah tempat. Yahya mengaitkan borgol pada tangan kiri sang polisi ini sendiri dan (lubang borgol yang sebelah) dikaitkan ke tangan kanan sang penipu  Munyaroh.
  • “Tiba-tiba tersangka (penipuan itu) melompat ke jurang, kedalamannya kira-kira 200 meter (versi lain menyebut 50 meter). Pak Yahya ikut terseret jatuh. Kami panik kemudian meminta bantuan warga untuk melakukan evakuasi,” kata polisi.

 

***

Polisi Tewas Terseret Tersangka Pembunuh Masuk Jurang

SoloBlitz – Kamis, 25/07/2013 19:54 WIB

 tragis

Ilustrasi: Afi Nahar

MAGELANG – Kanit Resmob Polda Jawa Tengah, AKP Yahya R Lihu meninggal dunia setelah terseret masuk jurang bersama tersangka pembunuhan dan penggandaan uang, Munjaroh di Desa Ngemplak, Kamis (25/7/2013).

Munjaroh yang diminta menunjukkan tempat penguburan korban Yolanda, tiba-tiba melompat ke jurang. Sementara AKP Yahya, yang mengawal dengan memasukkan tangannya ke lengan tersangka ikut terseret.

Menurut laporan tertulis Kasubdit III Jatanras Polda Jateng Kompol Arman Asmara, AKP Yahya bersama tim yang dipimpin Kompol Arman tiba di Magelang sekitar pukul 03.30 WIB. Mereka kemudian langsung ke Polsek Windusari sekitar pukul 04.00 WIB dan meminta bantuan ditunjukkan salah satu pelaku atas nama Aspani dan tim menangkapnya.

Sekitar pukul 05.00 WIB, tim dari Polda Jateng itu bersama anggota unit Reskrim Polsek Windusari meminta tersangka Munjaroh menunjukkan tempat penguburan korban Yolanda. Sesampainya di lokasi, Munjaroh kemudian menunjuk serumpun pohon pisang di area bibir tebing sebagai tempat di mana ia menguburkan korbannya.

Belum sampai dilakukan penggalian untuk membuktikannya, Munjaroh langsung melompat ke jurang menyeret AKP Yahya yang tengah mengawalnya. Kompol Arman bersama anak buahnya kemudian langsung mencari jalan untuk memberi pertolongan.

AKP Yahya sempat sadar selama dua jam sebelum dibawa ke Puskesmas Windusari dan kemudian dirujuk ke RSU Tidar Magelang. Tim dokter RSU Tidar Magelang lalu menyampaikan bahwa AKP Yahya telah meninggal dunia.

Setelah disemayamkan di kamar jenazah RSU Tidar, korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Semarang. Istri AKP Yahya, Asni, menuturkan AKP Yahya berpulang meninggalkan tiga orang anak. Ia mengaku tidak tahu jika suaminya tengah menjalankan tugas di Magelang.

Antara

Editor : Sika Nurin

***

Yahya Lihu, Polisi yang Tangkapi Mujahidin Tewas Tragis Masuk Jurang

 MAGELANG (voa-islam.com) – Polisi yang turut menangkapi mujahidin dalam kasus bom Bali II mati masuk jurang.

Kanit Resmob Polda Jateng, AKP Yahya Renaldy Lihu tewas secara mengenaskan bersama tersangka penipuan bermodus penggandaan uang, Munyaroh (45) terjun ke dalam jurang di Desa Petung, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

“Kami tersesat saat hendak menuju ke rumah Munyaroh. Saat itu, Munyaroh masih berada di dalam mobil. Pak Yahya kemudian mengobrol dua mata dengan Munyaroh di mobil,” kata seorang anggota polisi, seperti dikutip tribun, Kamis (25/7/2013).

Selanjutnya, Yahya memutuskan mengajak Munyaroh turun dari mobil untuk menunjukkan sebuah tempat. Yahya lalu mengaitkan borgol pada tangan kirinya dan tangan kanan Munyaroh.

…banyak aparat yang turut menzalimi mujahidin lalu mendapatkan musibah tragis…

“Tiba-tiba tersangka melompat ke jurang, kedalamannya kira-kira 200 meter (versi lain menyebut 50 meter). Pak Yahya ikut terseret jatuh. Kami panik kemudian meminta bantuan warga untuk melakukan evakuasi,” kata polisi tersebut.

 

Yahya Lihu Turut Menangkapi Mujahidin

Benar jika dikatakan bahwa daging para ulama termasuk mujahidin itu beracun dan Allah akan menimpakan adzab sebelum datangnya kematian kepada mereka yang menzaliminya.

Salah seorang mantan terpidana kasus bom Bali II, Abdullah menuturkan kisah pedih atas perlakuan Yahya Lihu -aparat kepolisian yang tewas masuk jurang- terhadap dirinya yang saat itu menjadi tersangka.

“Yahya Lihu itu waktu itu kepala operasionalnya, dia jugangeler-ngeler ana sampai ke gunung itu dia komandannya,” ujar Abdullah kepada voa-islam.com, Jum’at (26/7/2013).

Sudah menjadi rahasia umum, para mujahidin yang ditangkap karena tuduhan terorisme pasti mendapat perlakuan kejam tak manusiawi. Termasuk apa yang dialami oleh Abdullah pada tahun 2006.

Ia pun mengungkapkan, bagaimana Yahya Lihu yang saat itu masih bertugas di Resmob Polwiltabes Semarang ikut terlibat memburu mujahidin. Saat kasus bom Bali II, seluruh satuan seolah berlomba untuk menangkapi para mujahidin yang diburu.

“Begitu penangkapan bom Bali II dan kontak senjata di Semarang, keluar pengumuman buron, nah semua kesatuan berlomba ikut memburu bahkan dari TNI sekalipun,” ungkap pria yang pernah divonis zalim 6 tahun penjara itu.

Mendengar kabar Yahya Lihu mati, Abdullah mengatakan bahwa ini merupakan peringatan dari Allah kepada aparat yang selama ini menangkapi para mujahidin.

“Ini merupakan kabar gembira bagi kita dan peringatan bagi mereka,” ujarnya.

Abdullah juga menambahkan, sebelum Yahya Lihu, banyak aparat yang turut menzalimi mujahidin lalu mendapatkan musibah tragis. Di antaranya salah seorang jaksa yang ikut menuntutnya di pengadilan waktu itu terkena stroke.

“Waktu awal tuntutan ibunya kena stroke, lalu pas saya inkrah, dia yang terkena stroke. Jaksa itu pun menyampaikan permohonan maafnya kepada saya melalui TPM,” tutur Abdullah mengingat peristiwa tersebut saat dirinya di LP Permisan, Nusakambangan, Cilacap.

Ia menegaskan dirinya telah mengingatkan para aparat ketika di pengadilan dulu, bahwa akan datangnya adzab Allah atas perlakuan mereka terhadap mujahidin.

“Saya bersumpah dan mengingatkan mereka, adzab Allah akan menimpa mereka sebelum kematiannya,” tegasnya.

Untuk diketahui, fenomena sejumlah aparat baik yang ikut menangkap maupun menjatuhkan vonis yang terkena adzab dari Allah telah berkali-kali terjadi.

Hakim Made Karna Parna (60) yang memvonis mati Amrozi, tewas lebih dahulu pada hari Ahad  (28/10/2007)karena gagal jantung dan paru-paru, sebelum Amrozi dieksekusi.

Demikian pula yang terjadi dengan jaksa Urip Tri Gunawan yang menuntut Amrozi hukuman mati, terlibat korupsi dan dijatuhi vonis berat 20 tahun penjara pada September 2008.

Dari fenomena tersebut, seolah tinggal menunggu waktu saja, bagaimana Allah tampakkan di dunia akhir hayat para aparat yang menzalimi ulama dan mujahidin. [Ahmed Widad] Jum’at, 26 Jul 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.032 kali, 1 untuk hari ini)