Produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin (enzim tripsin yang berasal dari babi). Jadi tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

Tapi karena telah terjadi persinggungan dengan bahan yang haram, status kehalalan vaksin jadi bermasalah,” gugat Prof. Jurnalis.

Prof. Jurnalis mengatakan, hampir 99 persen dokter di Indonesia tidak mengetahui halal haramnya obat yang beredar. Karena para dokter memang tidak pernah diajarkan masalah itu.

Itu dokternya, bagaimana dengan para bidan yang menjadi ujung tombak pelaksanaan imunisasi?

 

Inilah ulasannya.

***

Yakin Imunisasi Polio Halal?

Pekan imunisasi nasional (PIN) 2016 tinggal menunggu beberapa hari lagi, tepatnya akan dilaksanakan 8 – 15 Maret 2016 di seluruh Indonesia. Tema yang diusung untuk tahun ini adalah “Dukung Eradikasi Polio Dunia pada akhir 2020”.

Untuk itu Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI, Dr Jane Soepardi di Jakarta baru-baru ini mengatakan bahwa “Dunia sudah berhasil melakukan eradikasi penyakit cacar tahun 1980, dan kini dunia berupaya agar penyakit polio juga hilang di tahun 2020”.

Namun yang jadi maslah adalah apakah vaksin atau obat yang diberikan itu sudah dapat dipastikan kehalalannya?

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam.

Kalau kita mengacu kepada Internasional memang tidak fair, karena persoalan halal dan haram merupakan prinsipil bagi umat Islam. Jangankan untuk memakan, bersinggungan dengan sumber haram seseorang muslim harus membersihkan diri dengan cara khusus. Terlebih sengaja dimasukkan kedalam tubuh.

Bagaimana jika tidak ada obat lain selain yang terbuat dari yang diharamkan?.

Itu permasalahan lain, seandainya memang tidak ada cara lain ya apa boleh buat. Namun, bukankah persoalan halal haram sudah menjadi polemik sejak beberapa tahun lalu. Dan dalam hal ini pemerintah tidak mengambil kebijakan untuk mencari alternatif lain agar vaksin yang diberikan bersumber atau mengolahnya dengan cara yang halal. Dalam artian apakah tidak ada hewan lain yang dapat menggantikan babi, hingga setiap vaksin harus bersinggungan dengan babi?.

Imovax Polio

Terlebih informasi yang terdapat pada salah satu bahan yang digunakan untuk vaksin adalah “Imovax Polio” atau nama lain yang lebih tenar adalah poliomyelitis vaccine. Pada kemasan vaksin ini tertulis dengan jelas bahwa “pada proses pembuatannya obat ini bersinggungan dengan bahan yang bersumber dari babi”.

Sependek pengetahuan saya. Segala sesuatu yang bersumber dari bahan yang haram akan tetap menghasilkan sesuatu yang diharamkan. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa teknologi kita belum mampu membuat vaksin yang halal. Mungkin bukan tidak mampu, namun belum mau.

Semoga informasi ini membuat pemahaman sedikit tentang apa yang dapat kami artikan bahwa “proses pembuatan vaksin bersinggungan dengan babi”.

vaksin halal

Apakah Vaksin tersebut halal?

Tergantung bagaimana tingkat keimanan dan keyakinan kita. Para ulama sudah memberikan sertifikat halal, serta penjelasan tentang sesuatu yang haram jika dilakukan dengan proses yang berulang kali sampai ribuan kali jumlahnya maka hasilnya akan halal. itu juga jika sesuatu itu belum ditemukan pengganti yang lebih halal. Lagi-lagi kembali pada tingkat keyakinan dan keimanan individu.

Dalam pembahasan lain ulama sudah sepakat untuk menghalalkan Tripsin babi, karena selain babi belum ada bahan lain serta masih sulit menemukannya. Sehingga terlepas dari polemik halal dan haramnya vaksin Polio, silahkan masyarakat menentukan sendiri.

By: bataviana.com

***

Kebanyakan Vaksin Haram Mengandung Enzim Babi

Kebanyakan vaksin menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengandung zat haram karena mengandung enzim babi.  Memang bahan utama sebagian besar vaksin seluruh vaksin yang beredar di dunia saat ini, termasuk vaksin meningitis yang diberikan kepada jemaah haji, menggunakan bahan haram dalam pembuatannya. Di antaranya adalah enzim babi, ginjal kera, ginjal babi, hingga janin bayi hasil aborsi.

vaksin polio1

Depkes pernah meminta Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ (MPKS) – penasihat Depkes tentang kaitan agama dan kesehatan– untuk menyelidiki hal tersebut. Kemudian MPKS mengundang PT. Bio Farma dan Aventis untuk memberi penjelasan tentang proses pembuatan vaksin polio yang mereka lakukan. Dari situ terbukti bahwa, tripsin babi memang digunakan dalam pembuatan vaksin polio. “Begitu juga dengan vaksin meningitis yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline untuk para jamaah haji,” ujar Prof. Jurnalis.

Prof. Jurnalis mengatakan dirinya telah menanyakan alasan penggunaan tripsin babi pada perusahaan-perusahaan pembuat vaksin tersebut. “Kata mereka, kita tidak pernah memikirkan itu. Di mana-mana di dunia ya pakai enzim babi. Kalau mau diganti dengan enzim sapi maka butuh penelitian sekitar lima tahun dengan biaya yang besar juga,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta ini.

Tapi setidaknya sejak tahun lalu PT. Bio Farma sedang mengusahakan untuk mengganti bahan babi tersebut. Penelitian ini setidaknya memakan waktu selama tiga tahun. Direktur Pemasaran PT. Bio Farma, Sarumuddin mengatakan, untuk sementara bahan tripsin masih tetap digunakan, termasuk untuk vaksin campak ini. Tapi dirinya menyangkal adanya penggunaan janin bayi hasil aborsi dalam pembuatan vaksin di PT. Bio Farma.

Dalam penjelasannya Prof. Jurnalis mengatakan, tripsin babi sebenarnya bukanlah bahan baku vaksin. Dalam proses pembuatan vaksin, tripsin hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein).

Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. ”Hingga jejaknya pun tidak terlihat lagi,” jelas Prof. Jurnalis. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, status kehalalan vaksin jadi bermasalah.

Contohnya pada pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IPV). Virus polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai medianya. Proses produksi vaksin ini melalui lima tahap. Pertama, penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus. Kedua, penanaman virus. Ketiga, pemanenan virus (menggunakan tripsin). Keempat, pemurnian virus dari tripsin. Kelima, inaktivasi /atenuasi virus.

Penyiapan media (sel vero) untuk pembiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier dengan menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi.

Langkah selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tadi dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain.

Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru, dan ditempatkan pada bioreaktor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah berlipat ganda jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan menggunakan tripsin babi lagi. Berlangsung berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero sesuai banyak yang diinginkan.

Sebenarnya dalam setiap tahap amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih karena tripsin akan menyebabkan gangguan saat sel vero menempel pada mikrokarier. Lewat pencucian atau pemurnian ini, produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin. Jadi tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

“Tapi karena telah terjadi persinggungan dengan bahan yang haram, status kehalalan vaksin jadi bermasalah,” gugat Prof. Jurnalis.

Kenapa Harus Babi?

Obat-obatan dan kosmetika modern dari Barat kerap menggunakan babi, kenapa? Wakil Ketua LP POM MUI, Dr. Anna Priangani Roswiem mengatakan, karena babi mempunyai susunan DNA yang hampir mirip dengan DNA manusia. ”Susunan DNA babi hampir mirip dengan DNA manusia,” jelas Dr. Anna yang juga dosen Biokimia di Institut Pertanian Bogor ini.

Dalam masalah cangkok katup jantung, misalnya. Menurut Dr. Anna katup jantung babi lebih cocok bila dicangkokkan pada manusia, dibanding sapi atau kambing. Karena susunan DNA yang hampir sama, maka tubuh manusia tidak menganggap katup jantung babi tadi sebagai benda asing.

Perbandingan Struktur Insulin Manusia, Babi, dan Sapi

Insulin Manusia : C256H381N65O76S6 MW=5807,7

Insulin Babi : C257H383N65O77S6 MW=5777,6
(hanya 1 asam amino berbeda)
Insulin Sapi : C254H377N65O75S6 MW=5733,6
(ada 3 asam amino berbeda)

(sumber: Jurnal Halal LP POM MUI)

 Bagan Proses Produksi Vaksin Polio Inaktif (IVP)

Selain tripsin babi, ternyata ada unsur haram lainnya dalam produksi vaksin. Yaitu janin bayi hasil aborsi. Menurut laporan LPPOM MUI, beberapa vaksin memang dihasilkan dari calon bayi manusia yang sengaja digugurkan. Seperti vaksin Cacar Air, Hepatitis, dan MMR (Measles Mumps Rubella/campak, gondok, dan ) diperoleh dengan menggunakan fetal cell line (sel janin) yang diaborsi, yakni MRC-5 dan WI 38.

Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian tubuh seperti paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi janin. Vaksin untuk cacar air, hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi, MRC-5, dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line lipoid manusia.

Bio Farma, selaku satu-satunya pemasok resmi vaksin yang ditunjuk pemerintah pada PIN campak kali ini, mengatakan tidak memakai sel janin hasil aborsi dalam pembiakan virusnya. Kata Direktur Pemasarannya, Sarumuddin, virus campak dibiakkan dalam telur ayam yang sangat bersih dari kuman. Tapi diakuinya, ginjal jabang bayi kera sampai saat ini memang masih digunakan sebagai alat bantu dalam pembiakkan virus.

Zat Haram dalam Obat

Sebagian dokter memberitahukan kandungan haram dalam obat. Sayangnya, sebagian besar dokter justru tidak memberitahukannya.

Sentuhan zat haram tak hanya pada vaksin saja, beberapa obat-obatan di pasaran juga mengandung zat yang sama. Fakta bahwa kebanyakan obat batuk yang beredar di pasaran mengandung alkohol. Ada juga obat pengencer darah merk LEVANOX buatan Aventis, biasa digunakan untuk mengobati sakit jantung, terang-terangan menulis “bersumber babi” pada kemasannya.

Sebagian dokter ada yang memberitahukan kandungan bahan haram dalam obat kepada pasiennya, tapi banyak juga yang tak memberitahukan. Celakanya, sebagian besar dokter di Indonesia, tidak mengetahui status kehalalan obat-obat yang digunakan untuk para pasiennya.

Prof. Jurnalis mengatakan, hampir 99 persen dokter di Indonesia tidak mengetahui halal haramnya obat yang beredar. Karena para dokter memang tidak pernah diajarkan masalah itu.

Kata Prof. Jurnalis para dokter mendapatkan informasi tentang obat dari kuliah mereka. Setelah menjadi dokter mereka mendapatkan informasi tentang obat dari buku ISO terbitan ISFI yang terbit tiap tahun, dari buku MMIS edisi Indonesia yang terbit tiap tahun, atau jurnal dan seminar.

Informasi yang diberikan oleh berbagai sumber tadi seputar bahan aktif obat, khasiat obat, indikasi pemakaian obat, kontra indikasi, efek samping, dosis, dan kemasan. Info mengenai kehalalan atau bahan haram yang mungkin terdapat di dalam suatu obat sama sekali tidak ada.

Itu dokternya, bagaimana dengan para bidan yang menjadi ujung tombak pelaksanaan imunisasi?

Mencari Alternatif Vaksin Haram

Tolak vaksin haram, mencari alternatif yang halal. Solusinya, kembali ke alam. Mungkinkah?

Di antara sekian banyak orang tua yang menolak vaksinasi untuk anaknya adalah Tasyrif Amin, ayah delapan orang anak. Bagi pria yang sehari-hari berprofesi sebagai dai ini, “Sedikit pun saya tidak yakin dengan imuniasi.”

Setidaknya ada dua hal yang membuat Ketua Departemen DPP Hidayatullah ini menolak vaksinasi terhadap anak-anaknya. Yaitu kandungan zat kimia yang terkandung dalam vaksin dan jaminan kehalalan. “Bukankah dalam imunisasi itu ada unsur kimianya? Siapa yang dapat menjamin kehalalan imunisasi?,” gugat pria yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan ini.

Sebagai dai, Tasyrif lebih meyakini sunnah yang dicontohkan Nabi Saw. Yaitu, ketika anak lahir, maka sunnahnya ia diperdengarkan adzan, di-tahnik dengan madu atau kurma, diberi ASI (air susu ibu) secara sempurna, diberi nama yang baik, diaqiqah, dan lain-lain.

“Alhamdulillah, kedelapan anak saya, semuanya sehat-sehat. Bisa diadu fisiknya dengan anak-anak yang diberi imunisasi,” tantang pria yang hobi main bulutangkis ini.

Serupa dengan Tasyrif Amin, seorang ayah di Depok, Hanif, mempunyai sikap yang sama. Pilihannya itu ia ambil setelah mendapat masukan dari seorang bidan di daerahnya. Bidan beranak lima itu, memberikan imunisasi pada empat orang anaknya, sementara yang terakhir sama sekali tidak. Ternyata, anak yang tidak diimunisasi, kesehatannya jauh lebih prima dibandingkan yang diimunisasi. Demikian juga pada hal kecerdasan.

”Di situ saya mulai tertarik,” ujar ayah dua orang anak ini. Makanya, anaknya yang terakhir tidak ia beri imunisasi. Hanif dan istri sepakat untuk anak keduanya ini diberi imunisasi yang bersifat alamiah, seperti ASI dan madu. Kebetulan, orang tua Hanif mempunyai keahlian di bidang herbal.

Vaksin Halal

Keinginan para orang tua mencari pengganti vaksin yang dianggap haram, tentu bisa dimaklumi. Terutama pada keluarga yang menganggap penting segala bahan atau zat yang masuk pada tubuh anak harus mengandung unsur halal. Tidak hanya makanan dan minuman, termasuk vaksin.

Tasyif Amin dan Hanif hanya sebagian kecil dari orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan vaksin yang halal. Masih banyak lagi orang tua yang serupa dengan mereka. Misalnya, beberapa orang tua yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Beberapa orang tua itu sudah menegaskan penolakannya pada vaksin yang beredar. Sikapnya tegas, ”Vaksin haram.”

Menurut Asdwin, pada dasarnya istilah darurat menjadi landasan MUI untuk memperbolehkan vaksin polio sudah tidak tepat. Sebab, tambahnya, banyak alternatif yang bisa dijadikan bahan untuk memberikan imunitas pada anak atau ibu hami. ”Allah menyampaikan kepada kita bahwa madu bisa jadi obat, selain itu banyak tumbuhan yang bisa dijadikan obat,” kata ayah dengan tiga orang anak ini.

Menurut Asdwin, yang tengah menulis buku tentang masalah vaksin ini, imunisasi seharusnya bukan membuat tubuh kebal pada satu penyakit saja. Menurutnya, imunisasi adalah semua usaha untuk membuat tubuh kita lebih kebal terhadap segala jenis penyakit. Tapi, dalam sistem kesehatan Barat, kekebalan hanya untuk virus dan bakteri saja. Padahal sistem tubuh manusia bukan hanya kebal terhadap virus dan bakteri saja. Tapi kebal terhadap penyakit-penyakit lain, seperti diabetes, struk, asam urat, darah tinggi dan lainnya.

Asdwin melanjutkan, jadi vaksinasi hanya akurat untuk satu jenis virus atau bakteri saja. Jika virus A maka dilawan dengan vaksin A, kalau virusnya B vaksinnya B juga. “Jadi ketika virus itu bermutasi tubuh kita tidak bisa lagi memproduksi kekebalan baru,” jelasnya.

Mengutip perkataan pakar herbal Dokter Ali Toha Segaf, Asdwin mengatakan, agama Islam itu adalah agama kesehatan. Jadi semua ibadah apakah itu sholat, shaum, itu mendukung kekebalan tubuh manusia.

Kata Asdwin, sebagai muslim, jika ingin mendapatkan kesehatan yang baik dan benar, ternyata sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Yaitu dengan merubah sistem kesehatan tubuh. Jadi kalau sekarang sistem yang dipakai sehari-hari adalah sistem Barat, maka harus diganti dengan sistem kesehatan Islami. Ketika vaksinasi dihentikan, maka penggantinya adalah imunisasi yang islami, halal, dan baik.

Di dalam Islam imunitas didapat dari banyak hal. Pertama, dengan melaksanakan ibadah dengan benar. Shalat dan berpuasa dengan cara yang benar. Kedua, dengan cara pengobatan. Rasululullah S.A.W. menyarankan banyak sekali pengobatan, ada bekam (hijamah), habbatussauda (jintan hitam), madu dan obat alam lainnya.

Meski begitu, Asdwin tidak menyarankan untuk menghentikan vaksin sekarang juga. Menurutnya hal itu tidak bijaksana. “Indonesia ini penghasil tanaman obat dengan varietas terbanyak di dunia, tapi belum semuanya tergali. Marilah kita gali alternatif-alternatif apa yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

Asdwin sendiri mengaku sudah mulai merubah sistem kesehatan keluarganya dengan sistem kesehatan islami. Anak ketiganya tak menjalani imunisasi sama sekali. Dia juga mengganti kebisaan minum susu (formula) dengan meminum madu. Selain itu, ditambah beberapa produk herba. “ Alhamdulillah anak saya yang pertama dulu ada gejala autisnya tapi sekarang berangsur-angsur hilang“.

Rekomendasi MUI kepada pemerintah untuk mengatasi status darurat vaksin polio, menganjurkan setiap ibu untuk menyusui anaknya dengan ASI, terutama colosterum secara memadai (sampai dengan usia dua tahun).

By: dinimon.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.646 kali, 1 untuk hari ini)