Firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [Q.S. Al-Jinn: 18]

Jika suatu rumah ibadah kaum Muslimin, belum diwakafkan lillahi ta’ala, maka ia masih milik pemiliknya dari manusia. Bukan Allah. Berdasarkan ayat di ataslah, maka para ulama mengatakan bahwa syarat syar’i masjid disebut masjid adalah: ia telah diwakafkan lillahi ta’ala.

Adapun jika belum diwakafkan, maka ia disebut ‘mushalla’. Sekalipun di tradisi kita, biasanya mushalla itu adalah tempat beribadah (terutama shalat) yang lebih kecil, sedangkan masjid lebih besar, terutama masjid jami’.

Oleh karena itu, difatwakan oleh sejumlah ahlil ilm dalam fatwa syabakah:

والفرق بين هذه وبين المسجد أن المسجد وقفت أرضه للمسجد، وتلك المصليات لم توقف أرضها

“Perbedaan antara ini (mushalla) dengan masjid: bahwasanya masjid telah diwakafkan tanahnya untuk masjid, dan mushalla-mushalla itu, belum diwakafkan tanahnya.” [http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php…]

Dikatakan oleh Syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitab “Fiqh Masjid” (terjemahan PIS), bahwa:

“Masjid menurut definisi umum para ahli fiqh adalah sebidang tanah yang terbebas dari kepemilikan seseorang dan dikhususkan untuk shalat dan beribadah.” [hal. 10]

Dilanjutkan, “Para ulama sepakat bahwasanya sebidang tanah tidak bisa dinamakan masjid sebelum tanah itu diwakafkan oleh pemiliknya dalam bentuk wakaf yang benar dan untuk selama-lamanya, yang tidak disertai persyaratan dan tidak terdapat khiyar (hak memilih untuk meneruskan atau membatalkan wakaf) di dalamnya.” [hal. 11]

Dan dikatakan di website Islam QA:

المسجد يخرج عن ملك صاحبه ، لأنه وقف ، فلا يجوز له أن يبيعه

“Masjid, telah keluar dari kepemilikan pemiliknya (yaitu manusia), karena dia wakaf (yakni: diwakafkan), maka tidak boleh menjualnya.” [https://islamqa.info/ar/170800]

Dan dikatakan oleh Lajnah Daimah:

المسجد : البقعة المخصصة للصلوات المفروضة بصفة دائمة ، والموقوفة لذلك

“Masjid adalah teritori yang dikhususkan untuk shalat 5 waktu secara konstan dan telah diwakafkan untuk itu (untuk shalat).”

Masjid dengan istilah keumuman ulama Islam, memiliki hukum tersendiri yang tidak dikiaskan dengan mushalla atau tempat shalat yang tidak/belum diwakafkan, di antaranya:

[1] Berdoa ketika masuk/keluar masjid
[2] Tahiyyatul masjid (tidak ada tahiyyatul mushalla)
[3] Mengumumkan barang hilang
[4] Jual beli
[5] Berkumpul berbincang tentang dunia semata
[6] I’tikaf (syarat sah i’tikaf adalah di masjid)

Karena masjid itu disebut milik Allah. Berarti: rumah Allah, sekalipun ia disebut di tradisi kita sebagai mushalla kampung yang tak seberapa besar. Secara syar’i, hukum-hukum masjid berlaku padanya. Ada syariat berdoa keluar masuk masjid padanya. Ada syariat tahiyyatul masjid padanya. Ada larangan mengumumkan barang hilang, jual beli dan bincang duniawi di dalamnya. Dan sah i’tikaf di dalamnya.

Kalau belum diwakafkan, berarti milik siapa? Dan rumah siapa?

[Yang Disebut Masjid itu Jika Ia Milik Allah]

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 2.016 kali, 1 untuk hari ini)