Ilustrasi: di Aceh, kampanye Jokowi sepi, kursi sudah ditata rapi, akhirnya batal. “Pak Jokowi tidak jadi hadiri acara pertemuan dengann seluruh relawan dan timses pemenangan Aceh di gedung pertemuan Stadiun Harapan Bangsa Lhong Raya karena peserta tidak banyak dan ruang acara banyak kursi kosong.” cuit @yayihaidar, Sabtu (15/12/18) sore.


Elektabilitas Jokowi digambarkan berguguran bahkan berloncatan. Setidaknya tergambar dalam opini Hersubeno Arief di akhir tulisannya baru-baru ini, sebagai berikut:

Rabu (3/4) di medsos beredar pernyataan sikap M Jumhur Hidayat yang memutuskan meninggalkan Jokowi. Mantan aktivis mahasiswa ITB dan pernah menjadi Ketua BNP2TKI secara tegas menyatakan kecewa terhadap Jokowi.

Langkah Jumhur merupakan bagian gelombang besar migrasi pendukung Jokowi. Sebagai Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) dan Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gespermindo) ada gerbong panjang di belakang Jumhur.

Pilihan Jokowi atas Ma’ruf Amin juga banyak menimbulkan resistensi di kalangan pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok. Diduga mereka banyak yang memutuskan Golput.

Hari ini di medsos beredar video Ma’ruf Amin sedang berbincang dengan sejumlah orang, salah satunya Yusuf Mansyur. Ma’ruf menyebut Ahok sumber konflik bangsa, karena itu harus dihabisi!

Video yang diambil pada hari Raya Idul Fitri tahun lalu itu dipastikan akan membuat pendukung Ahok tambah marah dan kecewa kepada Jokowi. Ahok saat ini tengah menjalani semacam pengasingan di luar negeri bersama istri barunya, sampai pilpres berakhir.

Fakta itu menjelaskan mengapa semua upaya yang dilakukan Jokowi untuk mendongkrak elektabilitasnya sia-sia. Elektabilitasnya hanya di bawah 50 persen, dengan trend terus menurun. Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih tidak lagi menghendaki Jokowi.

Didukung oleh parpol besar, birokrasi pemerintah, aparat intelijen, pengerahan anggota kepolisian sampai tingkat Polsek, penyebaran Bansos, dan CSR BUMN besar-besaran, media dikooptasi, para ulama dibungkam, lawan politik dikriminalisasi, modal besar, kampanye yang sangat massif, dan publikasi besar-besaran lembaga survei, semua itu tetap tak menolong Jokowi.

Jika “berkelahi” tak juga bisa dimenangkan, maka hanya satu opsi yang tersisa bagi Jokowi dan pendukungnya: Lari! End (Hersubeno Arief,
Jokowi Ngapain Saja, Kok Bisa Sampai Kalah?, hersubenoarief.com).

***

Bila ditengok ke gejala sepinya kampanye Jokowi -Ma’ruf di mana-mana, maka semakin rontoknya elektabilitas Capres 01 (Jokowi-Ma’ruf) ini sudah tergambar di depan mata. Coba kita tengok sejenak berikut ini.

***

Kampanye Jokowi di Aceh Sepi Peserta

Posted on 17 Desember 2018 – by Nahimunkar.com

***

Gara-Gara Ini, Presiden Jokowi Batal Hadiri Temu Relawan di Aceh

Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya sudah dipenuhi dengan ratusan kursi. Ditata rapi. Dilapisi kain berwarna putih. Terlihat elegan. Berkelas.

Namun hanya gara-gara fakta ini, Presiden Jokowi batal hadir dalam acara pertemuan dengan seluruh relawan dan timses pasangan Jokowi-KMA.

“Pak Jokowi tidak jadi hadiri acara pertemuan dengann seluruh relawan dan timses pemenangan Aceh di gedung pertemuan Stadiun Harapan Bangsa Lhong Raya karena peserta tidak banyak dan ruang acara banyak kursi kosong.” cuit @yayihaidar, Sabtu (15/12/18) sore.

Presiden Jokowi, lanjut @yayihaidar, digantikan oleh Jenderal Moeldoko.

“Akhirnyan diwakili oleh Pak Moeldoko. @Ny_AzizAlSaggaf @Surgabidadari3” tutupnya.

Dalam foto-foto yang diunggah memang terlihat banyak kursi kosong. Warga Aceh yang menghubungi Tarbawia menuturkan, hanya sekitar 200 an yang hadir dari target awal sekitar 500-1000 hadirin. [Tarbawia]

(nahimunkar.org)

***

Batal, Tabligh Akbar di Sumut Bersama Ma’ruf Amin Sepi, Ditargetkan 4000 Ibu-Ibu, tapi yang Hadir Hanya Puluhan Orang

Posted on 10 Maret 2019 – by Nahimunkar.com

Suasana sepi terlihat di lokasi tempat dilaksanakannya kegiatan tablig Akbar yang harusnya dihadiri oleh Ma’ruf Amin, Sabtu (9/3/2019) (Tribun Medan)

Itu saja yang hadir hanya dari orang sekitar lokasi, dan serombongan angkutan dari NU. Akhirnya mereka bubar pukul 11.30, setelah mereka nyanyi-nyanyi kasidah sekadarnya.

Kejadian di lapangan berdikari Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deliserdang, Sumut itu terpantau sepi Sabtu, (9/3/2019). Ma’ruf Amin tidak jadi hadir,

“Kita juga tidak dapat memastikan mengapa (KH Ma’ruf Amin, cawapres Jokowi) tidak bisa hadir,” kata Ketua Umum DPP Genius, Bobby S Hendrawan yang pada akhirnya memberikan keterangan resmi kepada wartawan, sebagaimana dikutip aceh.tribunnews.com.

(nahimunkar.org)

***

Deklarasi untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jombang sepi

Posted on 21 Januari 2019 – by Nahimunkar.com

Suasana deklarasi DPC Projo Kabupaten Jombang untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin yang digelar di GOR Merdeka Jombang, Ahad malam (20/1 2019).. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Walau mengerahkan para tukang becak dan pedagang kaki lima, tapi tampak sepi. Deklarasi pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin ini digelar di Gedung Olahraga Merdeka Jombang, pada Ahad (20/1) malam.

Beredar di medsos di antaranya sebagai berikut:

LAPOR BOSS ACARA …!!!
DEKLARASI PROJO JOMBANG
Sepiiii dari Masyarakat !!”

Mungkin Dihadiri Ratusan atau Jutaan Masyarakat Tapi Bagi Mereka Yg Memiliki Indera ke 6 Yang bisa melihatnya
Hehehee ???

Via FB Arya Bima Nusantara ke RELAWAN PRABOWO SANDI (PAS)

***

Kyai Ma’ruf Amin dari NU namun kurang laku di kota asal NU

Belum terdengar sebab musababnya, namun dilihat dari segi kota Jombang Jawa Timur itu merupakan cikal bakal Ulama pendiri NU (Nahdlatul Ulama), sedang Ma’ruf Amin cawapres Jokowi itu dari PBNU (tadinya), maka sepinya peminat acara deklarsi pemenangannya itu cukup ironis.

Berarti Kyai Ma’ruf Amin secara gampangnya, ‘tidak laku’ di kalangan NU (tempat asal NU). Atau setidaknya, kurang lakulah.

(nahimunkar.org)

***

Acara yang Dibuka Jokowi Sepi Pengunjung, Kursi Disingkirkan

Posted on 17 Desember 2018 – by Nahimunkar.com

Anggota Paspampres menyingkirkan kursi kosong di acara Digital Startup Connect 2018 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Jakarta, 7 Desember 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi membuka Digital Startup Connect 2018 di Balai Kartini, Jakarta, Jumat, 7 Desember 2018. Namun acara ini sepi pengunjung.

Menurut jadwal yang ada, acara mulai pukul 09.00 WIB. Hingga pukul 08.50, berdasarkan pantauan Tempo, jumlah kursi yang terisi baru setengahnya.

Sekitar 30 menit sebelum kedatangan Jokowi, panitia telah meminta agar para pengunjung yang sudah hadir segera menempati kursi. Bahkan mereka meminta para penjaga stand pameran agar mengisi kursi yang kosong.

Selain itu, sejumlah personel Pasukan Pengamanan Presiden bersama panitia menyingkirkan kursi-kursi yang kosong. Langkah ini membuat perbandingan jumlah kursi yang terisi dan kosong tidak berbeda jauh.

Jokowi tiba tepat pukul 09.00. Ia datang bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Sesampainya di lokasi, Jokowi menyempatkan diri untuk meninjau stand pameran yang ada.

Digital Startup Connect 2018 merupakan acara yang membahas ekosistem startup di Indonesia. Panitia mengklaim acara ini akan bakal dihadiri dua ribu anak muda.

“Kami harap acara ini bisa memotivasi generasi milenial untuk terus berkarya mendukung Indonesia menjadi kekuatan ekonomi digital terbersar di Asia Tenggara,” kata CEO Plug and Play Indonesia Wesley Harjono dalam sambutannya.

Berdasarkan keterangan tertulis dari panitia, sejumlah tokoh akan mengisi materi. Mereka diantaranya pendiri Young on Top, Billy Boen; President Director Plug and Play Indonesia, Wesley Harjono; CEO TopKarir Indonesia, Bayu Janitra; Executive Director Grab Indonesia, Ongki Kurniawan; dan lainnya.

Sumber : nasional.tempo.co

(nahimunkar.org)

***

Acara Jokowi Banyak yang Sepi, Kenapa ya

Posted on 17 Desember 2018 – by Nahimunkar.com

ilustras Deklarasi Jokowi – Ma’ruf Sepi ~ Banyak Kursi Kosong Dalam Acara Projo Riau./ foto ytb

Berikut ini ulasannya. Silakan simak baik-baik.

***

Sandiaga Uno, Sang Predator

Sandiaga membuat Jokowi yang sering bergaya bak milenial, mati gaya. Tampilannya terkesan dipaksakan. Berbeda dengan Sandi yang lebih natural dan original. Seorang Habib terkenal di Jakarta menggambarkan dalam satu kalimat. “Prabowo-Sandi adalah politik apa adanya. Jokowi-Ma’ruf, politik ada apanya.” Banyak polesannya.

Oleh : Hersubeno Arief

Presiden Jokowi mulai semakin terbuka soal penurunan elektabilitasnya. “Saya sampaikan apa adanya. Survei terakhir yang dilakukan, (di Riau) kita baru 42%. Di sana 54%. Hati-hati,” kata Jokowi saat bertemu Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma’ruf Riau, di Pekanbaru, Sabtu (15/12/)

Ini bukan pertamakalinya Jokowi mengakui elektabilitasnya mulai masuk lampu merah. Bulan lalu di Palembang Jokowi menyebut elektabilitasnya di Sumatera Selatan hanya sebesar 37%. Namun dia tidak menyebut berapa persen perolehan lawannya.

Elektabilitasnya bahkan juga kalah di Banten, kampung halaman Ma’ruf Amin. “Banten masih rawan,” kata Dewan Pengarah Bravo-5 Luhut Panjaitan. Bravo-5 adalah salah satu sayap kampanye Jokowi-Ma’ruf berisi sejumlah jenderal purnawirawan.

Di seluruh Sumatera yang menyumbang 21% dari total suara pemilih nasional, Jokowi juga sudah kalah. Benar secara nasional Jokowi-Ma’ruf masih unggul. Namun jaraknya dengan Prabowo-Sandi makin tipis. Tinggal hitungan jari.

Jokowi-Ma’ruf masih unggul karena ditopang oleh dua daerah yang menjadi basis kemenangannya, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dua provinsi dengan pemilih terbanyak kedua dan ketiga di bawah Jabar. Dengan trend elektabilitas yang terus menurun, sementara Prabowo-Sandi terus naik, situasinya memang sangat mengkhawatirkan.

Fenomena menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf juga sangat terasa di lapangan. Beberapa acara dan kampanye yang dihadiri Jokowi sepi peserta. Dia sudah mulai kehilangan pesonanya. Jika terlihat ramai, karena adanya pengerahan massa oleh sejumlah dinas pemerintah, aparat kecamatan sampai kelurahan.

Di media sosial beredar foto-foto dan video kosongnya ruang pertemuan relawan dengan Jokowi. Peristiwa terbaru terjadi di Banda Aceh. Jokowi membatalkan pertemuannya dengan relawan di Stadion Sepakbola Harapan Bangsa Lhong Raya, karena sepi peserta. Padahal Jokowi sebelumnya meresmikan ground breaking ruas jalan tol Banda Aceh-Sigli.

Terus menurunnya elektabilitas ini membuat tim sukses Jokowi mulai saling menyalahkan. Erick Thohir Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menyebut stagnannya —bukan turun—elektabilitas inkumben, karena Ma’ruf Amin belum banyak turun ke lapangan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Luhut Panjaitan.”Ya belum turun. Tapi nanti, begitu beliau turun, saya kira banyak pengaruhnya.”

Dalam satu bulan terakhir Ma’ruf tidak nampak keluar rumah, apalagi berkampanye. Spekulasi yang berkembang Ma’ruf sakit berat setelah jatuh di kamar mandi dalam sebuah kunjungan ke Lampung. Namun Ma’ruf membantahnya. Dia hanya terkilir.

Karena faktor usia dan keterbatasan fisik, alih-alih mendongkrak elektabilitas Jokowi, Ma’ruf menjadi titik lemah petahana. Jokowi terkesan bekerja sendirian. Situasinya jauh berbeda dengan Sandiaga Uno yang menjadi pasangan Prabowo.

Muncul sebagai kandidat yang tidak diunggulkan, bahkan cenderung diremehkan, Sandi bermetamorfosa menjadi antitesa Jokowi. Sandi menjadi predator yang menggerus elektabilitas Jokowi. Dia memperkuat positioning Prabowo yang sangat kuat pada sisi ketegasan, dan tekadnya membawa bangsa Indonesia berdaulat, bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sandi membuat Jokowi yang sering bergaya bak milenial, mati gaya. Tampilannya terkesan dipaksakan. Berbeda dengan Sandi yang lebih natural dan original. Seorang Habib terkenal di Jakarta menggambarkan dalam satu kalimat. “Prabowo-Sandi adalah politik apa adanya. Jokowi-Ma’ruf, politik ada apanya.” Banyak polesannya.

Erick Thohir mengakui Sandi menjadi faktor naiknya elektabilitas Prabowo. “Kalau Pak Prabowo menyumbang 20% suara, Sandi setidaknya menyumbang 10%,” ujar Erick.

Sumber : hersubenoarief.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 862 kali, 1 untuk hari ini)