• Tangan-tangan tak tampak telah melancarkan pembusukan secara sistematis dan terus menerus hingga menghasilkan ormas-ormas Islam tak lagi bisa dipegang kepemimpinannya oleh ulama yang istiqomah, bahkan semakin jauh lagi… sedang ormas Islam itu sendiri tidak merasa kehilangan, bahkan merasa bangga bahwa ormasnya makin maju, padahal boleh jadi maju ke jurang….

    Ilustrasi. Foto/ggl

(Satu)

Tidak ada goro-goro dalam Muktamar Muhammadiyah 48 di Solo Jawa Tengah, 18-20 November 2022. Ketua Umum dipilih dengan wajar belaka, tanpa ada lempar-lemparan kursi. Padahal waktu ini hanya selisih beberapa hari, ada keormasan mahasiswa Ormas sebelah hanya mengadakan konferensi di Tulungagung Jawa Timu saja sampai bentrok lempar-lemparan kursi saat pidato Jokowi dibacakan, goro-goro masalah kepemimpinan di antara mereka.

Juga tidak ada suara2 sengit soal dana yang dipakai (semoga saja sampai nantinya tidak mencuat goro2 soal dana) di saat Ormas sebelah terungkit di pengadilan ada 100 juta duit hasil suap kasus Rektor Unila Lampung terkena kasus suap lalu ada saksi yang mengaku ada Rp100 juta digunakan untuk Muktamar NU di Lampung.

Waduh, kenapa ini seakan mengangkat Muhammadiyah dan menjatuhkan NU?

Tidak juga. Malah ada tulisan,

Beda Watak antara NU dan Muhammadiyah soal Dana. Di antara isinya: NU Jakarta protes karena dana hibah untuknya kurang besar dibanding yang untuk MUI.

Dari protes soal dana dari pihak NU ini justru memunculkan nasihat agar NU tiru Muhammadiyah yang mandiri soal dana. Kan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

He he… ternyata protes dari NU itu justru mmbuka wadi (aib) NU sendiri soal rakusnya terhadap dana pemberian… hingga menyingkap tabir auratnya sendiri… Kapokmu kapan… Itu belum soal pengakuan kasus dana korupsian yang terungkap di pengadilan ada yang mengalir ke NU (Muktamar NU di Lampung) seperti kasus korupsi rektor Unila Lampung. Ada beritanya di sini: Sidang Suap Rektor Unila Lampung, Wakil Rektor Sebut Ada Rp100 Juta untuk Muktamar NU

Posted on 18 November 2022

by Nahimunkar.org

(Dua)

Meskipun secara sekilas Muhammadiyah tampak lebih unggul dalam beberapa hal seperti tersebut, tapi tak usah tepuk dada. Toh yang membuka Muktamar itu adalah Presiden Jokowi.

Lhah apa persoalannya, disebut begitu?

Ya persoalanlah.

Muhammadiyah kan dari awalnya dikenal sebagai Organisasi IsIam sejak zaman penjajah kafir Belanda, berdiri 1912, dengan upaya keras da’wah memberantas kemusyrikan/ syirik, dan memberantas TBC yakni takhayyul, bid’ah dan Churafat – kepercayaan-kepercayaan yang menyeleweng dan menghancurkan keimanan. Semuanya itu diberantas dengan gigih oleh Muhammadiyah.

Lha kini yang membuka Muktamar itu kan wong yang mengusung/ melakoni ruwatan kemusyrikan (mengandung keprcayaan membuang sial yang disebut sukerto) dengan upacara ruwatan pakai sesaji untuk Raksasa Wayang Bethoro Kolo. Minta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala macam itu adalah satu jenis kemusyrikan besar atau syirik akbar yang dari awal menjadi kerjaan da’wah didirkannya Muhammadiyah 1912 oleh Kyai Ahmad Dahlan di Jogjakarta untuk memberantas kemusyrikan itu.

(lihat ini: Ruwatan dan Kemusyrikan

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan KemusyrikanPemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala’. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.org)

—-

Ustadz, beliau ini kan pernah memimpin ruwatan mobil esemka..ruwatan itu syirik asghar atau syirik akbar ustadz?/ Karyono.

Jawaban: Ruwatan itu dimaksudkan untuk membuang sukerto (sial) disertai sesaji/ sesajen. Kalau sesajennya ada sembelihannya (ayam dan sebagainya) dan itu memang untuk selain Allah, serta minta dihilangkannya sukerto (sial) itu kepada yang disajeni (selain Allah), maka jelas syirik akbar. wallahu a’lam./ Posted on 13 August 2017

by Nahimunkar.org)

Seakan Muhammadiyah kini lupa misi terbesar dari didirikannya Muhammadiyah itu sendiri. Apalagi selama jadi presiden, Jokowi mempropagandakan salam Islam dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Padahal salam agama Islam itu mengandung Tauhid murni, sedang salam-salam agama lain itu mengandung ketuhanan ala mereka bahkan ada yang sangat berbalikan dengan Islam di antaranya salam Hindu mengandung ketuhanan Hindu yang mengutuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dianggap sebagai Tuhan pemecah belah manusia menjadi Mukmin dan kafir. Paling kurang, salam oplosan macam itu telah mencampur adukkan yang haq dengan yang batil, yang hal itu bertentangan dengan ayat 42 surat Al-Baqarah. Bahkan lebih dari itu mengandung misi pemurtadan dan pemusyrikan. (lihat: Awas! Bisa Murtad dan Musyrik! Orang Muslim yang Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Posted on 15 August 2022

by Nahimunkar.org).

(Tiga)

Ada pula hal yang mungkin dianggap bukan persoalan, namun secara Islam sebenarnya adalah persoalan, yaitu kenapa pembukaan Muktamar Muhammadiyah 48 pakai orkestra segala dengan melibatkan para pemusik dengan alat-alat musik serta melibatkan manusia sebegitu banyaknya untuk nyanyi?

Padahal Muhammadiyah dikenal sebagai ormas Islam yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan soal musik, jelas ada haditsnya yang para ulama menegaskan keharaman musik.

Penjelasan yang singkat namun jelas dapat di simak keterngan ulama berikut ini:


Musik Haram Apalagi dalam Ramadhan

Soal:

Apakah musik itu haram di tengah Ramadhan?

Jawab:

Alhamdulillah.

Mendengarkan musik adalah haram, baik itu dalam Ramadhan atau selain Ramadhan, sedangkan di dalam Ramadhan maka lebih keras haramnya, dan lebih besar dosanya, karena sesungguhnya maksud dari puasa bukan sekadar mencegah dari makan dan minum (saja), tetapi maksudnya adalah mewujudkan taqwa kepada Allah Ta’ala, dan memuasakan anggota-anggota badan dan mencegahnya dari maksiat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ) البقرة/183 .

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS Al-Baqarah: 183).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ , الصِّيَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ } رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَالْحَاكِمُ فِي الْمُسْتَدْرَكِ وَقَالَ : هُوَ  صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ

Bukanlah shiyam itu (hanya menahan) dari makan dan minum saja, (tetapi) puasa itu (juga menahan) dari  lagha –perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah— dan rafats –perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh–. (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dan ia berkata, ini shahih berdasarkan syarat Imam Muslim).

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).  Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ  al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ  al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

Wajib atas orang mukmin untuk menggunakan sebaik-baiknya bulan Ramadhan yang diberkahi ini, menghadap kepada Tuhannya pada bulan ini, dan bertaubat kepada Allah Ta’ala, dan mencabut diri dari keharaman-keharaman yang biasa dilakukan sebelum Ramadhan, semoga Allah Ta’ala menerima puasanya, dan memperbaiki keadaannya.

Wallahu a’lam.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawab  juz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com).

فتاوى الإسلام سؤال وجواب – (ج 1 / ص 916)

سؤال رقم 12647- سماع الموسيقى في رمضان

هل الموسيقى حرام أثناء الصيام ؟ .

الحمد لله

سماع الموسيقى حرام ، سواء في رمضان أو غير رمضان ، وهي في رمضان أشد تحريماً ، وأعظم إثماً ، لأنه ليس المقصود من الصيام مجرد الامتناع

عن الطعام والشراب ، بل المقصود تحقيق تقوى الله تعالى ، وصوم الجوارح وامتناعها عن معصية الله .

قال الله تعالى : ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ) البقرة/183 .

وقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( ليس الصيام من الأكل والشرب ، إنما الصيام من اللغو والرفث ..) رواه الحاكم

وقال : هذا حديث صحيح على شرط مسلم اهـ

راجع سؤال ( 37989 ) .

وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .

روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ  الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .

والمراد بـ (الحر) الزنى .

والمعازف هي آلات الموسيقى .

والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :

الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .

الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .

انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) .

والواجب على المؤمن أن ينتهز هذا الشهر المبارك ، ويقبل فيه على ربه ، ويتوب إلى الله تعالى ، ويقلع عن المحرمات التي اعتاد فعلها قبل

رمضان ، لعل الله تعالى أن يتقبل صيامه ، ويصلح أحواله .

والله أعلم .

الكتاب : فتاوى الإسلام سؤال وجواب

بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجد

المصدر : www.islam-qa.com

ثم ملتقى أهل الحديث www.ahlalhdeeth.com

قام بجمعها : أبو يوسف القحطاني عفا الله عنه وعن والديه

وقام بفهرستها : أبو عمر عفا الله عنه وعن والديه.

Posted on 10 September 2008

by Nahimunkar.org, Musik Haram Apalagi dalam Ramadhan

***

(Empat)

Masih ada yang tersisa pula. Sebenarnya yang harus jeli dan hati-hati itu adalah pihak yang di dalam ormas-ormas Islam, bahwa bagaimanapun, diakui atau tidak… ada pembusukan terhadap ormas-ormas Islam. Upaya pembusukan itu dapat ditengok ketika telah sebegitu jauhnya antara apa yang ditempuh sekarang dengan yang dicanangkan sejak awal berdirinya.

Untuk lebih jelasnya, ormas-ormas Islam sejak didirikannya biasanya yang dijadikan pemimpin itu adalah ulama yang benar-benar punya pemahaman mendalam tentang Islam dan soal-soal yang membahayakan bagi Islam. Namun karena ada upaya-upaya pembusukan sesara terus menerus, tahu-tahu ormas-ormas Islam tidak lagi dipimpin ulama, bahkan belum tentu faham tentang Islam dan yang membahayakan bagi Islam. Bahkan bisa2 justru orang yang membahayakan bagi Islam itu sendiri bisa diangkat jadi pemimpin.

Kata-kata itu seakan-akan vulgar dan tak sopan, tapi sejatinya adalah bloko suto apa adanya.

Lihat saja, NU ormas terbesar di Indonesia. Sejak dipimpin Gus Dur (Abdurrahman Wahid) 1984, NU sudah beralih dari kepemiminan Ulama ke orang yang entah aqidahnya seperti apa. Karena yang dikatakan Gus Dur, ‘musuh besar saya adalah Islam Kanan’. Sedang kiprahnya justru membela aliran sangat sesat di antaranya Ahmadiyah yang punya nabi palsu Mirza Ghuam Ahmad, bahkan ketika jadi presiden jelas-jelas Gus Dur membela PKI yang telah dilarang, dengan cara bersikeras ingin mencabut Tap MPRS no 25 tahun 1966 tentang laranag PKI.

(Tanggal 5 Juli 1966: Terbit TAP MPRS No.XXV th.1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme.

TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966

Posted on 24 Oktober 2014

by Nahimunkar.org)

Para penerus Gus Dur pun tidk berbau keulamaan terutama dalam sikapnya, di antaranya justru berbau anti-Arab (yang diduga bermuatan anti Islam, hingga menciptakan apa yang mereka sebut Islam Nusantara).

Adapun Muhammadiyah, sepeninggal Kyai Ahmad Azhar Basyir, sejak dipimpin oleh Amien Rais 1995 telah pindah tangan kepemimpinan dari Ulama ke yang bukan ulama. Bahkan Ketika dilanjutkan oleh Ahmad Syafii Maarif lebih miris lagi karena berani memlintir ayat untuk membela/ menyenang-nyenangkan para missionaris salib yang dikumpulkan di Jogjakarta.

(Ulama Ahli Al-Quran Mungkin Merinding Baca Tingkah Syafii Maarif Waktu Lalu di Acara Katolik dengan ‘Menjual’ Ayat dan Menjelekkan Arab Ini

Posted on 4 June 2022

by Nahimunkar.org

Silakan simak: Ahmad Syafii Maarif “Menjual” Ayat di Acara Katolik dan Menjelekkan Arab Lagi).

Kok ke sana-sana pembahasannya ini?

Ya, mari kita kembali ke Muktamar Muhammadiyah 48 di Solo, yang menghasilkan kepemimpinan terpilih: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terpilih 2022-2027 Haedar Nashir dengan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah terpilih 2022-2027 Abdul Mu’ti.

Mulusnya keterpilihan kembali Haedar Nashir banyak orang yang memuji penyelenggaraan Muktamar ini, karena tanpa ribut2 sama sekali.

Ya, baiklah. Hanya saja, belum kembali ke tangan ulama lagi, kepemimpinan ormas Islam ini. Apakah itu karena keberhasilan upaya pembusukan dari pihak-pihak pembosok?

Wallahu a’lam. Tapi yang namanya bukan ulama, ya kadang kepleset jauh tapi ga’ merasa, atau ga’ mau tahu.

Ha? fitnah itu…

Bukan fitnah. Ya dia dengan konco-konconya itulah yang mengucapkan bela sungkawa ketika matinya pentolan aliran sesat LDII yang berakidah Islam Jamaah yang mati waktu pandemi covid-19.

Padahal, dalam Islam, semestinya matinya pentolan aliran sesat itu disambut dengan gembira. Kok malah dia kirim ucapan bela sungkawa segala.

Mestinya kan sikap pemimpin Ormas Islam itu begini:

Bahagia atas Matinya Tokoh Kesesatan Itu Disyariatkan

Bahagia karena meninggalnya musuh-musuh Islam dan penyebar kesesatan, adalah tindakan yang disyariatkan. Karena meninggalnya mereka, adalah nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas para hamba-Nya. Kita diperintahkan untuk bahagia sebagai ekspresi syukur atas nikmat yang Allah Ta’ala berikan.

Diterangkan di dalam hadis sahih, tentang keteladanan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat orang yang menebar kerusakan di muka bumi meninggal, dengan mengucapkan,

يَسْتَرِيحُ مِنْهُ العِبَادُ وَالبِلاَدُ، وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Orang-orang beriman, negeri, pepohonan, serta binatang-binatang lega dengan kematiannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa lega orang-orang mukmin atas matinya tokoh musuh Islam atau pentolan kesesatan pun ketika didengar oleh musuh-musuh Islam maka akan membangkitkan kemarahan mereka. Namun itu justru akan menambah catatan pahala insyaAllah bagi orang mukmin yang merasa lega atas matinya musuh Islam atau pentolan kesesatan itu.

Mari kita renungkan ayat ini:

Surat At-Taubah Ayat 120

مَا كَانَ لِأَهْلِ ٱلْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ ٱلْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا۟ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا۟ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ ٱلْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٌ صَٰلِحٌ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS At-Taubah Ayat 120)

Jadi tidak usah merasa salah bila bergembira atas matinya musuh Islam atau pentolan penyebar kesesatan apalagi yang banyak pengaruhnya.

***

(Lima)

Nah, dengan terpilihnya kembali sang pemimpin yang telah keplset semacam itu yang terkesan bersimpati kepada aliran sesat, maka berarti upaya tangan-tangan tak tampak dalam pembusukan terhadap ormas Islam telah berhasil. Sudah menjauhkan kepemimpinan dari ulama, dan yang terpilih pun orang yang bersimpati kepada aliran sesat.

Musibah pula adanya. Semoga saja kita sadari kelemahan-kelemahan atas liciknya para pembusuk dan pembosok yang tangan-tangannya canggih namun tidak kentara selama ini.

Allahul Musta’an.

Jakarta, Senin 26 Rabi’uts Tsani 1444H/ 21 November 2022.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)