Yaqut Ketua Ansor NU Pendukung Ahok Diangkat Jadi Menteri Agama

Silakan simak berita ini.

***

 

Risma, Sandi, Hingga Gus Yaqut, Ini Rekam Jejak Menteri Baru


Jokowi menunjuk sejumlah nama baru dalam kabinetnya

Foto: Istimewa

 

Ada enam menteri baru yang diumumkan Presiden Jokowi pada hari ini.

JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Maju, Selasa (22/12) siang. Dalam pengumuman hari ini, ada sejumlah nama baru yang masuk dalam susunan pemerintahan dan ada pula nama-nama lama yang bergeser posisi.

Dari sejumlah nama baru, ada Sandiaga Uno yang menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggantikan Wisnutama, Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial menggantikan Juliari P Batubara yang terjerat kasus korupsi, Wahyu Sakti Trenggono Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan Edhy Prabowo yang juga tersandung korupsi, dan M Luthfi sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Agus Suparmanto 

Kemudian ada juga Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Terawan Agus Putranto dan Yaqut Cholil Qoumas yang ditunjuk sebagai Menteri Agama menggantikan Fachrul Razi.

Lantas seperti apa profil masing-masing nama baru yang masuk dalam pemerintahan Jokowi-Maruf Amin kali ini? Republika mencoba menggali informasi singkat mengenai keenam sosok di atas. 

1. Tri Rismaharini

Siapa yang tak kenal sosok yang satu ini? Perempuan yang tahun ini berusia 59 tahun ini sudah banyak dikenal khalayak luas dengan kinerjanya sebagai Wali Kota Surabaya selama 10 tahun, sejak 2010 lalu. Risma memang menjabat jabatan ini dalam dua periode pemerintahan. 

Lulusan jurusan arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) ini meniti karier profesionalnya sebagai PNS. Karier politiknya melejit hingga akhirnya sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. 

Selama menjabat Wali Kota Surabaya, Risma pernah menyabet penghargaan prestisius seperti Mayor of The Month atau Wali Kota Terbaik Dunia pada 2014 lalu.


2. Sandiaga Salahudin Uno

Nama Sandi, panggilan akrab Sandiaga, semakin mentereng saat dirinya maju dalam Pilpres 2019 lalu bersama Prabowo Subianto. Namun sebelumnya, Sandi sudah lebih dulu sukses menang dalam pemilihan gubernur dan wagub DKI Jakarta pada 2017 bersama Anies Baswedan. 

Pada awal kariernya, Sandi adalah bankir profesional. Sandi bekerja di perbankan sejak tahun 1990, kemudian pindah ke perusahaan multinasional di Singapura pada 1993 sampai 1994. Kemudian pada 1995, Sandi sempat bekerja di Kanada sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air pada 1997. 

Pada 1997, Sandi mendirikan perusahaan penasihat keuangan PT Recapital Edvisors bersama Rosan P Roeslani. Lantas pada 1998, dia bersama Edwin Soeryadjaya mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya. 

Prestasi Sandi dalam mengelola bisnis membuatnya dipercaya sebagai Ketum HIMPI pada 2005 sampai 2008.

 


3. Budi Gunadi Sadikin (BGS)

BGS, panggilan akrab Budi, cukup mengejutkan banyak orang dengan terpilih sebagai Menteri Kesehatan. Kendati tidak memiliki latar belakang spesifik di sektor kesehatan, namun nyatanya ia dipercaya Presiden Jokowi menjabat Menkes. 

Sampat ini, sebelum dilantik sebagai Menkes, BGS masih menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN mendampingi Erick Thohir. BGS juga menjabat Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang masuk dalam Komite Penanganan Covid-19 dan PEN di bawah Kemenko Perekonomian. 

Alumni ITB ini memang punya catatan karir yang cemerlang. Meski lulus dengan latar pendidikan teknik, Budi juga mengambil pendidikan ekonomi di Washington University, AS. Ia sempat bekerja di IBM di Jepang pada 1988 sebelum kembali ke Indonesia. 

Puncak kariernya sebelum masuk ke kementerian, BGS pernah menjabat Dirut Bank Mandiri pada 2013 sampai 2016.


4. Wahyu Sakti Trenggono

Sebelum bergeser ke posisi Menteri Kelautan dan Perikanan, Trenggono telah menjabat Wakil Menteri Pertahanan mendampingi Prabowo Subianto. Trenggono yang merupakan lulusan ITB ini memiliki rekam jejak sebagai Komisaris PT Solusindo Kreasi Pratama, membawahi PT Tower Bersama Infrastruktur. Trenggono bahkan sempat menjabat Ketum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi pada 2005 sampai 2016

Namun jauh sebelumnya, Trenggono memulai karier di PT Astra Motor pada tahun 1986.


5. Muhammad Luthfi

M Luthfi sebenarnya adalah nama lama di lingkungan pemerintahan. Sama seperti Sandiaga, Luthfi meniti karier sebagai pebisnis. Ia pernah menjabat sebagai Ketum HIPMI tahun 2001 sampai 2004. Kemudian dirinya sempat ditunjuk Presiden SBY sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Saat itu, usianya masih 36 tahun. 

Pada 2008, Luthfi juga menyabet predikat Pemimpin Muda Berpengaruh versi The World Economic’s Forum’s Young Global Leaders. Saat ini, Luthfi menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, ditunjuk Presiden Jokowi pada September 2020.

 

 
 

6. Yaqut Cholil Qoumas

Gus Yaqut, panggilan akrab Yaqut, adalah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Rembang. Putra KH Muhammad Cholil Bisri, satu di antara pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), itu sempat mengemban amanah sebagai Ketua Umum GP Ansor. Ia juga sempat masuk dalam jajaran anggota parlemen, DPR RI 2019-2024 dari daerah pemilihan Jawa Tengah.

 

REPUBLIKA.CO.ID, Selasa 22 Dec 2020 16:20 WIB, Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Andri Saubani

 

***

Ansor NU Kemarin Dukung Ahok, Kini Mereka Bantah Sendiri, di Depan Lawan Ahok yang Menang


Posted on 24 Juli 2017

by Nahimunkar.org

  •  


Memang lidah tak bertulang. Jadi yang lihai memain-mainkan lidahnya apalagi demi menjilat pejabat, ya ucapannya sendiri kemarin sebegitunya dalam mendukung Ahok, kini dibantah sendiri mentah-mentah di depan lawan Ahok yang sudah jelas menang.

Itulah kelakuan Banser NU alias Ansor.

Silakan simak beritanya berikut ini.

***

Ibarat Amnesia, Didepan Sandiaga Uno Kini Ansor Bantah Pernah Dukung Ahok


Jakarta — Ketua GP Ansor DKI Jakarta Abdul Azis mengklarifikasi dukungan organisasinya kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dulu di depan wakil gubernur terpilih DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Azis awalnya mengatakan bahwa ada doa GP Ansor DKI Jakarta yang mengiringi Sandiaga Uno hingga terpilih menjadi wakil gubernur seperti ini.

“Kalau sekarang Insya Allah karena beliau sudah terpilih jadi wagub DKI bulan Oktober nanti, ada doa Ansor juga di situ, enggak putus-putus,” ujar Azis di Kantor GP Ansor DKI Jakarta, Minggu (23/7/2017).

Azis mengatakan GP Ansor DKI sejak dulu netral dan tidak mendukung pasangan calon manapun.

“Kalau pun dulu ada isu Ansor dukung Pak Ahok, sebenarnya saya enggak perlu ungkapin. Ya dia mau datang masa kita tolak? Kira kira begitu,” ujar Azis.

“Jadi jangan salah tafsir, Ansor tidak pernah mendukung salah satu kandidat. Itu yang perlu diklarifikasi,” tambah Azis seperti dikutip dari kompas

Apa yang diungkapkan oleh Ansor didepan Sandiaga Saat ini bertolak belakang dari pernyataan Pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas di kantor PW GP Ansor DKI Jakarta, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).

Ketua DPP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat itu menyatakan dukungan penuh terhadap pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017

“Enggak ada alasan saya mencintai Pak Ahok. Pak Ahok Pak Djarot sebagai wasillah sebagai perantara mempertahankan negara ini. Sudah tidak ada pilihan, ini wasilah,” kata Yaqut di kantor PW GP Ansor DKI Jakarta, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017) seperti dikutip dari tribunews

Menurutnya, sudah ada pasangan calon lain yang sangat dekat gerakan Islam radikal.Sehingga mereka merasa perlu menitipkan perjuangan mempertahankan NKRI kepada Basuki-Djarot sebagai bentuk perantara atau wasilah

“Saya pastikan politik kebangsaan Ansor NU tidak akan berikan dukungan pada kelompok berpotensi membesarkan Islam radikal. Ada kader Anser Banser dukung kelompok itu laporkan ke saya, besok saya buat pemecatan,” kata Yaqut.

Sementara itu Ketua DPW GP Ansor DKI Abdul Aziz mengatakan, salah satu media perjuangan untuk mempertahankan kesatuan NKRI. Sehingga mereka memutuskan untuk mendukung pasangan Basuki-Djarot.

“Kami sangat menolak calon gubernur yang didukung Islam radikal dan Islam garis keras,” katanya.
Pada kesempatan itu, Azis menyatakan GP Ansor siap mengawal para pendukung Ahok-Djarot dari kemungkinan intimidasi pada saat pemungutan suara Pilkada DKI putaran kedua pada 19 April ini.

“Ansor dihina dari zaman Gus Dur sudah biasa. Dibilang kafir, munafik sudah biasa. Tapi kalau sudah merusak tatanan NKRI dan demokrasi, pasti akan kami lawan,” kata Azis.[kompas/tribunews/fatur]/kabarsatu.news

(nahimunkar.org)

 

 

 

(Dibaca 409 kali, 1 untuk hari ini)