Yasona Kini Mau Lepaskan Para Koruptor, Kemarin Sudutkan Orang Miskin

Silakan simak dua tulisan berikut ini.

***

Koruptor Justru Lebih Disayang Penguasa, Saat Wabah Corona Merajalela dan Masyarakat Resah

  • Pemerintah melalui menkumham lebih memilih membebaskan para terpidana korupsi yang rawan terpapar virus corona ketimbang meliburkan para buruh.

Inilah beritanya.

***

Corona Meluas, Napi Korupsi Lebih Di Sayang, Ketimbang Buruh Yang Tetap Dipekerjakan

 


 

Surabaya, KPonline – Pekerja/buruh yang selama ini di anggap salah satu elemen paling produktif dalam meningkatkan perekonomian di negara ini, kembali harus mengalami sebuah diskriminasi sosial.

Bagaimana tidak, begitu tidak berpihaknya pemerintah terhadap para pekerja/buruh di negara ini, kembali terlihat saat pemerintah melalui menkumham lebih memilih membebaskan para terpidana korupsi yang rawan terpapar virus corona ketimbang meliburkan para buruh.

Padahal jika memang benar dan tidak ada unsur kepentingan yang lain, pertimbangan rawan terpapar virus corona, seharusnya juga bisa di peruntukkan kepada buruh, karena saat mereka berkumpul di dalam pabrik, intensitas penyebaran virus tersebut bisa saja meluas lebih cepat, namun hal tersebut hingga kini masih juga belum menjadi permasalahan yang di anggap sangat penting bagi pemerintah.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 300an terpidana korupsi bakal menjadi target calon yang akan di bebaskan Yasonna Laoly, dan hal itu bisa segera akan di lakukan setelah pemerintah menyepakati usulan menkumham untuk merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Hal ini tentu membuat para pekerja yang hingga saat ini masih bekerja dan beraktivitas seperti biasa di tengah pandemik virus covid19 ini harus gigit jari, dan mau tidak mau terpaksa menerima nasib pahit yang di alami mereka saat ini.

Resiko paparan virus yang di dapatnya dari pabrik atau dari luar rumah, bisa saja mereka tularkan kepada orang-orang terdekat mereka di lingkungan rumah, yang sudah terlebih dahulu menjalani anjuran pemerintah tentang social distancing atau tagar #dirumahsaja.

“Kami buruh takkan pernah bisa berbuat apa-apa dalam pemerintahan saat ini, suara kami tidak akan pernah mau di dengar oleh mereka (pemerintah), karena saat ini mereka lebih sayang kepada pengusaha dan narapidana ketimbang kami kaum buruh yang terus di suruh bekerja dan berada di pabrik saja.” Ujar Lukman Aries selaku Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Kota Surabaya.

Hingga saat ini, memang seluruh regulasi yang baru di terbitkan oleh Presiden Jokowi, tidak ada satupun yang secara kongkrit menganjurkan para buruh/pekerja untuk di liburkan, padahal jika merujuk Pasal 59 ayat (3) huruf a UU No.6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan bahwa pihak yang di liburkan pertama kali seharusnya adalah tempat sekolah dan juga tempat kerja, dan realitanya memang sekolah libur, tapi tidak begitu halnya dengan pabrik, yang di mana buruh tetap masuk seperti biasa.

(Bobby-Surabaya) Kontributor Surabaya

koranperdjoeangan.com, 3 April 20201

https://www.nahimunkar.org/koruptor-justru-lebih-disayang-penguasa-saat-wabah-corona-merajalela-dan-masyarakat-resah/

 

(nahimunkar.org)

 

***

 

KEJAHATAN ORANG KAYA


 

by M Rizal Fadillah *)

Terinspirasi ucapan Menkumham Yasonna Laoly yang mendapat reaksi dari warga Tanjung Priok. Laoly menyatakan bahwa kemiskinan menjadi penyebab kejahatan.  Sebagai bandingan ia kemukakan daerah Tanjung Priok yang “miskin” tingkat kriminalitasnya lebih tinggi daripada daerah Menteng yang “kaya”. Nah ungkapan sembrono Menteri ini tentu terlalu menjeneralisasi dan menyederhanakan. 

Benarkah di daerah “kaya” tidak padat kriminal ? Tentu padat juga hanya persoalannya berbeda tingkat dan jenis kejahatannya. 
Teori penyebab kejahatan itu banyak dari yang klasik, neo klasik, kartografi, tipologi, mental taster, sosiologis, hingga teori niat, kesempatan, kejahatan (NKK). Faktor kemiskinan dan lingkungan hanya salah satu faktor penyebab saja. 

Korupsi adalah kriminal dan ini banyak dilakukan oleh orang kaya. Wakil Ketua KPK Laode M Syarif pernah menyatakan sebagian besar korupsi dilakukan oleh orang kaya. Kenaikan gaji bukan solusi karena penyakitnya adalah kerakusan atau nafsu untuk menambah kekayaan. Hal ini dibarengi dengan NKK di atas  yakni ada niat ada kesempatan, maka terjadilah kejahatan. 

Dalam Al Qur’an sifat menyimpang karena kaya ini diingatkan “Kallaa innal insaana layathgoo, ar ro-aahu staghnaa” (Ketahuilah manusia selalu melampaui batas, ketika melihat dirinya kaya (berkecukupan)–QS Al Alaq 6-7. Baik kaya ilmu, kekuasaan, atau kekayaan maka ia cenderung berbuat jahat. “Absolute power corrupts absolutely”–Acton.

Statemen Laoly tentu tak absolut benar. Membandingkan Tanjung Priok dengan Menteng tidaklah bijak. Priok yang padat justru terkontrol kejahatan oleh sesama. Berbeda dengan Menteng yang “nafsi nafsi” bertetangga dengan benteng tebal. Tetangga jahat tidak diketahui. Siapa yang dapat menjamin warga Menteng yang kaya kaya tidak berbuat jahat. Bebaskah dari suap, komisi, atau memang korupsi dalam cara berusaha atau jabatan yang disalahgunakan ?

“white collar crime” adalah kejahatan “orang kaya” yang lebih berbahaya daripada kejahatan orang miskin (blue collar crime). Pencuri di kampung atau orang bodoh hanya merugikan ratusan ribu atau juta. Tapi pencuri  orang kota atau pintar bisa menggondol milyar atau trilyun rupiah. Dengan penampilan rapi dan senyum. Bermobil mewah. Akhlak bejat tetap dihormat. Hukum sering berpihak. 

Laoly sang Menteri saja memberi contoh tak bagus. Status Menteri adalah pelayan publik. Apalagi pengayom hukum dan ham. Namun prakteknya ketika oknum PDIP bermasalah hukum, malah Yasona ikut sebagai tim hukum PDIP melawan KPK. Contoh yang sangat buruk. 
Yasonna Laoly seharusnya mundur. 

*) Pemerhati Politik
 

Bandung, 21 Januari 2020

Redaksi ANNAS Indonesia

21 Januari 2020 08:37

(nahimunkar.org)

(Dibaca 215 kali, 1 untuk hari ini)