Assalmu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh.

Sebagai seorang yang suka memperhatikan para penceramah agama atau dai, saya sebenarnya risih dengan munculnya dai-dai yang bagi saya belum tentu sesuai dengan palaksanaan dakwah yang dituntunkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskpun tujuannya baik, menyampaikan agama Allah, tapi kalau dibumbui dengan perkataan-perataan model lawakan, cerita dusta agar mendapatkan ketawanya orang, itu sangat tercela bahkan dikecam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan wailun lahu, wailun lahu, wailun lahu. Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya.

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيْثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ .

Celakalah bagi seseorang yang bercerita dengan suatu cerita, agar orang lain tertawa maka ia berdusta, maka kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (Hadits Shahîh, diriwayatkan Imam at-Tirmdzi dalam Sunan-nya (2315) dan Imam at-Tibrizi dalam Miskatul- Mashabih, Bab: Hifzul-Lisan).

Lebih prihatin lagi ketika atas nama dakwah itu kata-kata yang meluncur malahan jorok, bahkan yang mengatakan pun perempuan pula. Kadang saya mengelus dada. Padahal teladan utama kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menjaga lisan, tidak pernah berkata jorok. Orang mukmin pun bukan yang perkataannya jorok, apalagi perempuan pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ


“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.”

(Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadits ini hasan shahih, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash Shahihah no 876)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 

إِنَّ الله عزّ وجلّ لاَ يُحِبُ الفُحْشَ وَلَا التَفَحُش

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak suka dengan perbuatan keji dan kata-kata yang kotor (kasar).”

(Hadits Riwayat Ahmad nomor 24735)

Seyogyannya, siapapun yang mengajak ke jalan Allah Ta’ala sangat berhati-hati dalam menjaga akhlaq, menjaga lisan dan segala perbuatan. Lebih-lbih dalam menjaga rasa malu dan iman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«الْحَيَاءُ وَالْإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ»

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian ‘shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir, no. 1603)

 

Rambu-rambu yang tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hendaknya dipegangi benar-benar oleh setiap mukmin, lebih-lebih para da’i. Agar segala aturan yang kita jalani itu sesuai dengan yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula yang kita da’wahkan kepada umat. Sehingga antara lisan, perbuatan, sikap dan niat itu semua sesuai dengan tuntunan yang benar, agar mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ini sekadar untuk menggugah diri kita umat Islam, terutama para da’i, yang dalam hal ini diharapkan tidak keberatan mereka bertiga saya sebutkan, hanya sebagai contoh nyata yang lagi dikenal di kalangan Umat.

 

Hendaklah mereka bertiga itu bertobat benar-benar dari hal-hal yang terkena ancaman-ancaman dalam hadits2 tersebut. Dan kembali ke jalan yang benar, dengan benar-benar menjaga lisan mereka sebaik-baiknya. Bukan menjadi pelawak2 agama yang pelawak itu sendiri sangat dikecam dalam hadits tersebut.

Sekali lagi, bertaubatlah kalian, sebelum menyesal. Jangan sampai terhitung sebagai orang-orang yang menjadikan agama sebagai mainan.

 

Demikianlah.

 

Bila ada hal yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.

Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah meridhoi hamba-hambanya yang senantiasa mematuhi aturan-aturaNya dengan sebaik-baiknya. Lebih-lebih yang mau menasihati siapapun di kala jarang orang mau menyampaikan nasihat walau sebenarnya sangat perlu disampaikan, hingga nasihat itu seakan tampak janggal, padahal sejatinya untuk penyelamatan ke semuanya.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatuh

 

Jakarta, Senin 7 Nov 2022/ 12 Rabi’uts Tsani 1444H.

 

Hartono Ahmad Jaiz

Ilustrasi. Foto/ytb

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy/photos/pcb.450689107212374/450688853879066

(nahimunkar.org)