Yudian Kepala BPIP/ Rektor UIN Jogja Usulkan Ganti Assalamu’alaikum dengan Salam Pancasila Berkiblat ke Daoed Joesoef  Pengusul ‘Agama Tak Usah Diajarkan di Sekolah, tapi Istana agar Merayakan Natal‘?

Silakan simak berita berikut ini dengan sabar.

***


‘Ucapan Assalamualaikum Dapat Pahala, Salam Pancasila tidak’


‘Ucapan Assalamualaikum Dapat Pahala, Salam Pancasila tidak’. Ilustrasi Penceramah

Foto: dok. Republika

 

Ucapan assalamualaikum dalam Islam hukumnya sunnah.

JAKARTA — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Mohammad Siddik menjelaskan ucapan ‘assalamualaikum’ mengandung doa dan orang yang mengucapkan serta menjawabnya jelas mendapat pahala dari Allah SWT. Hal ini berbeda dengan ucapan jenis lain, misalnya salam Pancasila.

“Kalau salam Pancasila itu nggak dapat pahala. Sudah lain kan karena nggak ada artinya. Jadi berbeda sekali dengan assalamualaikum yang itu adalah ajaran agama dan tanda daripada orang Islam,” ujar dia kepada Republika.co.id, Sabtu (22/2).

Siddik menjelaskan, ucapan ‘assalamualaikum’ adalah salam yang dianjurkan dalam agama Islam, yang hukumnya sunnah dan mengandung isi doa. Assalamualaikum berarti ucapan doa untuk diberikan kedamaian.

Si pengucap berdoa semoga orang yang mendengarnya diberi kedamaian dari Allah SWT. Sebab tidak ada yang bisa memberi kedamaian kecuali Allah SWT.

“Jadi itu salam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam dan itu mengandung doa untuk memberi kedamaian, tak hanya kepada satu orang itu (si pendengar) saja, tapi juga kepada semuanya, mencakup sekitarnya, keluarganya, lingkungannya, bahkan hewan peliharaannya. Itu termasuk sunnah dan dapat pahala,” ucapnya.

Sebelumnya Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyampaikan perlunya salam yang disepakati secara nasional. Sekarang ini kata Yudian, jumlah salam mengikuti agama di Indonesia. Menurutnya, salam di tempat umum harus menggunakan salam yang sudah disepakati secara nasional. Yudian pun mengambil contoh sebuah hadits.

“Ada hadits, kalau Anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu maksudnya adaptasi sosial. Itu di zaman agraris. Sekarang zaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson,” ujarnya.

“Kita menemukan kesepakatan tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila.
Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para ulama, kalau kamu ngomong Shalom berarti kamu jadi orang Kristen,” kata Yudian.

Ahad 23 Feb 2020 05:20 WIB

Republika.Co.Id, Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah

 

***

Meninggal, Daoed Joesoef  Pengusul Agama Tak Usah Diajarkan di Sekolah, tapi Istana agar Merayakan Natal

Posted on 25 Januari 2018

by Nahimunkar.com

 


Jenazah Daoed Joesoef di rumah duka. (Foto: dok. Agritama Prasetyanto)/kprnc

18 Tahun Idap Sakit Jantung

Kabar meninggalnya Daoed Joesoef Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 ini didapatkan dari Wakil Ketua Yayasan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Clara Joewono pada Rabu (24/1) dinihari, seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, Rabu (24/1/2018).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Soeharto, Daoed Joesoef meninggal pada usia 91 tahun. Keluarga menuturkan, mendiang Daoed meninggal karena penyakit jantung yang diidapnya selama 18 tahun.

“Sakit jantung, sudah dipasang ring sejak umur 73 tahun,” kata Bambang Pharmasetiawan, menantu dari mendiang Daoed di rumah duka, Jalan Bangka VII Dalam, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018), tulis berita.lewatmana.com

Daoed Joesoef  mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama, tapi Istana agar merayakan natal

Gagasan Daoed yang cukup menggegerkan adalah ketika ia mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama. Pasalnya pengajaran agama bukan menjadi urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi, hak prerogatif keluarga dan tugas dari komunitas agama yang bersangkutan.

Hujatan dan kritikan terhadap Daoed Joesoef pun mengalir deras, salah satunya datang dari mantan Menteri Agama Prof HM Rasjidi. Ia menuturkan bahwa umat Islam tidak akan menyerahkan pendidikan agama kepada mereka yang tidak percaya agama, sama halnya seperti harta yang tidak boleh dipercayakan kepada pendusta.

“Bahkan lebih dari itu, harta benda bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan amanat keyakinan dan iman kita bagi anak-anak kita,” demikian kata Rasjidi dalam buku Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional.

Tudingan yang ditujukan kepada Daoed Joesoef yang dilahirkan di Medan pada 8 Agustus 1926 pun semakin menjadi. Karena di antaranya, Daoed juga pernah mengeluarkan usulan agar Istana turut merayakan Natal.

https://www.nahimunkar.org/meninggal-daoed-joesoef-pengusul-agama-tak-usah-diajarkan-di-sekolah-tapi-istana-agar-merayakan-natal/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 314 kali, 1 untuk hari ini)