[portalpiyungan.com] Aktivis Tionghoa, Zeng Wei Jian menanggapi Aksi Bela Islam II yang akan dilaksanakan tanggal 4 November 2016.

Dalam tulisannya yang dipublikasikan di Teropong Senayan, ia menuliskan bahwa semangat Umat Islam tegakkan aqidah tak bisa dihabisi oleh aparat bersenjata peluru. Ia juga menuliskan, bukan tak mungkin aksi damai tersebut dapat menjatuhkan rezim Jokowi.

“Seratusan ribu demonstran aksi damai bisa menjatuhkan sebuah rezim. Jokowi akan tumbang bila Istana diduduki seratusan ribu jemaah. Polisi akan terdemoralisasi. Tentara tidak akan menembaki rakyatnya sendiri,” tulisnya, Sabtu 29 Oktober 2016.

Ia menceritakan tentang peristiwa Red October di Rusia. Bagaimana dari yang awalnya hanya aksi damai demo buruh, ternyata dapat menggulingkan rezim pemerintah yang berkuasa saat itu bahkan setelah berjatuhan korban dari pihak pendemo.

Zeng Wei Jian menuturkan, di tangan Jokowilah akan ditentukan ke mana arah demo itu nanti. Ia yakin Umat Islam tetap konsekuen bela aqidah mereka.

“Keputusan ada di tangan Jokowi. Hendak dijadikan apa Gerakan 4 November nanti. Saya kira, Umat Islam tidak akan surut langkah dan gentar dalam memperjuangkan aqidah. Hal ini mesti diapresiasi,” tegasnya.

Berikut kutipan lengkap catatan Zeng Wei Jian.

Seorang Ahoker militan bernama Yenni Nofliani mengirim potongan meme. Isinya peringatan Kapolda kepada demonstran anarkis. Instruksi Kapolda; tembak di tempat!.

Yenni ingin nakut-nakuti gerakan “tangkap ahok”. Sebuah teror psikologis. Targetnya mendemoralisasi Gerakan 4 November. 


Ahoker katak dalam tempurung ini mengira Ahok dibeking Polisi, TNI dan Presiden. Dia hendak pugar citra Ahok Maha Kuat. Dia pikir aparat bersenjata peluru bisa menghabisi semangat perjuangan umat tegakan aqidah.


Seratusan ribu demonstran aksi damai bisa menjatuhkan sebuah rezim. Jokowi akan tumbang bila istana diduduki seratusan ribu jemaah. Polisi akan terdemoralisasi. Tentara tidak akan menembaki rakyatnya sendiri.


Dalam sejarah, demonstrasi damai ratusan ribu orang terbukti sanggup menumbangkan sebuah rezim.


Itu terjadi di bulan Oktober 1917 di Petrograd. Dipimpin Vladimir Lenin. Revolusi menumbangkan pemerintah Kerensky itu hanya diwarnai letusan peluru kosong dari kapal perang Aurora.


Ahok’s blasphemy on holly Quran triger kemelut nasional. Polisi ngeyel, berusaha buying time. Publik menuding Presiden Jokowi memberi perlindungan kepada Ahok. Sejumlah ulama dan tokoh seperti Ridwan Saidi sudah terbuka

menyatakan jika perlu Jokowi juga ditumbangkan.

Jokowi sangat mungkin ditumbangkan. Kuncinya di gerakan massa massif. Bloodless revolution is possible. Sikap apatis Jokowi mendorong aksi massa di seantero negeri; Aceh, Medan, Madura, Surabaya, Malang, Bogor, Bekasi. Persis masa persiapan sebelum Revolusi Oktober.


Di bulan September-Oktober 1917, pecah demonstrasi buruh Moscow dan Petrograd, penambang Donbas, buruh logam Ural, oil worker di Baku, pekerja textile di Central Industrial Region dan buruh kereta api. Jumlahnya sekitar sejuta buruh in total.


Bandingkan dengan aksi “Penjarakan Ahok”. Aksi ini diikuti berbagai Ormas Islam. Bukan cuma Front Pembela Islam saja. Penistaan terhadap Alquran jadi keprihatian bersama, lintas organisasi.


Ada 4 ribu pemberontakan petani melawan tuan tanah sebelum Winter Palace (Istana Musim Dingin) yang dijaga 3 ribu prajurit kadet, cossack dan tentara wanita diinsureksi Red Army, buruh dan Bolsevik yang dipimpin Trotsky.


Ketika Pemerintah Kerensky kirim tentara, perlawanan malah makin besar. Jadi, siapa pun di lingkaran Jokowi yang berpikir untuk menembaki demonstran 4 November nanti mesti berpikir 100x. Perlawanan akan semakin masif, Jokowi akan tumbang lebih cepat dan namanya dicatat dalam sejarah dengan tinta darah.


Sebelum Oktober, 1-4 Mei, sekitar 100 ribu buruh dan tentara di Petrograd yang dipimpin Bolseviks, diikuti di kota lain, berdemonstrasi dengan pasang spanduk “down with the war”, “all power to the soviets”. Krisis pemerintah mulai 15 Juli. Surat penangkapan terhadap Lenin terbit tanggal 7 Juli.


Jumlah massa aksi turun ke jalan semakin meningkat pasca Lenin hendak ditangkap. Hal sama bakal terjadi bila pimpinan ulama seperti Habib Rizieq atau MUI dipersekusi.


Tanggal 17 Juli lebih dari 500 ribu massa penuhi jalanan Kota Petrograd. Tentara pro Partai Socialist-Revolutionary Party-Menshevik diinstruksikan menembak. Jatuh korban ratusan jiwa.


Sekali lagi, Korban jiwa tidak bikin buruh dan rakyat surut. Sebaliknya, perlawanan semakin besar. Puncaknya tanggal 25 Oktober (kalender Julian) 10 kapal perang berkekuatan 10 ribu marinir, Partai Bolsevik pimpinan Vladimir Lenin dan Soviet merapat dan mengambil alih Petrograd.


Saat itu, Lenin cuma punya 10 ribu pengikut dan dianggap sebagai pimpinan sayap extrimis dari organisasi bangkrut.


Di hari di bulan Oktober itu, Red Guards rebut fasilitas pemerintah, pusat komunikasi dan instalasi penting lain tanpa perlawanan. Garnisun Petrograd dan unit militer bergabung dalam gerakan insureksi pemerintah sementara. Kereta api dikuasai sehingga transportasi lumpuh.


Ketika Kerensky kabur meninggalkan Petrograd, Lenin menulis proklamasi “To the Citizens of Russia”.


Keputusan ada di tangan Jokowi. Hendak dijadikan apa Gerakan 4 November nanti. Saya kira, Umat Islam tidak akan surut langkah dan gentar dalam memperjuangkan aqidah. Hal ini mesti diapresiasi.

Sumber: portalpiyungan.com/ Sabtu, 29 Oktober 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 11.227 kali, 1 untuk hari ini)