• Menurut keterangan masyarakat sekitar, para peziarah mendatangi makam Kyai Mlati di Klaten Jawa Tengah kebanyakan untuk memanjatkan doa yang dipercaya akan terkabul. Umumnya peziarah adalah orang-orang yang berharap untuk mendapatkan jabatan, agar lulus ujian, mendapat jodoh dan sebagainya. Namun, sebelum memanjatkan doa, peziarah harus melakukan ritual kejawen.

MASYARAKAT INDONESIA tentu tidak asing dengan praktik ziarah kubur. Bahkan sebagian besar diantaranya cenderung tidak memahami praktik ziarah kubur yang sesuai dengan ketentuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, praktik ziarah kubur yang mereka lakoni berpotensi menjauh dari sunnah, dan menjurus kepada bid’ah bahkan berbau syirkiyah.

Dari sela-sela praktik ziarah kubur yang menjurus kepada bid’ah bahkan berbau syirkiyah ini, muncul fenomena unik, yaitu praktik ziarah kubur ala pejabat, yang tentu saja bernuansa politis. Misalnya, sebagaimana dipraktikkan oleh sejumlah pejabat kita berikut ini.

Baru-baru ini dikabarkan, Gubernur DKI Jakarta melakukan ziarah kubur ke makam mantan Gubernur DKI yang paling populer yaitu Ali Sadikin. Makam Ali Sadikin yang berada di TPU Tanah Kusir itu, diziarahi Fauzi Bowo pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012, sekitar pukul 16:30 wib, berarti masih dalam jam kerja, satu pekan setelah pemilukada DKI Jakarta yang berlangsung hari Rabu tanggal 11 Juli 2012.

Meski saat itu hasil resmi KPUD DKI Jakarta belum diumumkan, namun berdasarkan hasil hitung cepat (quick count), sudah bisa terbaca bahwa pasangan Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli dikalahkan oleh pasangan Jokowi-Ahok. Sehingga pemilukada DKI Jakarta harus berlangsung dua putaran. Apakah hal ini yang melatari dilakoninya ziarah politik ala Fauzi Bowo yang masih berambisi menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta?

Meski masyarakat mengaitkan praktik ziarah kubur yang dilakoni Fauzi Bowo itu dengan peristiwa politik pemilukada DKI Jakarta, namun pengkaitan itu ditolak Fauzi Bowo. Ia beralasan, berziarah sudah merupakan kebiasaan yang selalu dipraktikkannya sejak lama. Terutama, setiap memasuki bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fithri. Dengan tujuan, untuk menghormati dan mengirimkan doa bagi orang-orang yang ia hormati. Dan Ali Sadikin adalah salah satu sosok yang ia hormati.

Sosok bernama Ali Sadikin (kelahiran  Sumedang, 7 Juli 1927) ini pernah menjabat Gubernur DKI pada kisaran tahun 1966 hingga 1977. Jenderal berbintang tiga TNI-AL ini dianggap berhasil membangun Jakarta yang semula merupakan perkampungan super besar menjadi kota metropolitan, akibat kebijakannya yang tidak Islami. Yaitu, menjadikan pajak perjudian dan pelacuran sebagai salah satu sumber utama membangun Jakarta. Di masa Ali Sadikin, dibangun kompleks pelacuran (lokalisasi) Kramat Tunggak. Juga lokalisasi perjudian di kawan Kota (Jakarta Barat).

Hingga kini, kawasan perjudian di kawasan Kota (Jakarta Barat) masih eksis, bahkan melebar ke daerah sekitarnya seperti Mangga Dua, dan berbaur dengan pusat perdagangan. Sedangkan lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak (Jakarta Utara), kini menjadi Islamic Center, setelah resmi ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta (saat itu) Sutiyoso pada 31 Desember 1999.

Bagi Fauzi Bowo, mendiang Ali Sadikin merupakan sosok yang selalu menginspirasinya dan menjadi panutan dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini. Karena itulah ia berziarah ke makam Ali Sadikin. Saat berziarah, Fauzi Bowo tidak sendiri. Ia selain dikawal tiga orang ajudan juga ditemani salah satu cucu Ali Sadikin bernama Vilichea Sadikin. Tak lupa Fauzi Bowo membawa seorang ustadz yang membacakan doa sekitar 10 menit dengan suara lirih, di atas pusara Ali Sadikin.

Di Boyolali, Jawa Tengah, dalam rangka merayakan HUT ke-165 kabupaten Boyolali yang jatuh pada 05 Juni 2012, diisi dengan acara ziarah kubur ke makam Ki Ageng Pandanaran yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, sebelah selatan Boyolali.

Ziarah dalam rangka HUT Boyolali ini konon berlangsung setiap tahun. Untuk tahun 2012, ziarah ke makam Ki Ageng Pandanaran berlangsung 31 Mei 2012, diisi dengan acara tabur bunga dan menyerahkan tali asih serta bantuan pompa air kepada pengurus makam. Sebelumnya, rombongan ziarah politis yang dipimpin Wakil Bupati Boyolali Agus Purmanto ini, telah lebih dulu ziarah Ke Taman Makam Pahlawan Ratna Negara di Sonolayu Boyolali Kota.

Siapa sosok bernama Ki Ageng Pandanaran? Menurut penuturan Samsuni (http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/211-Ki-Ageng-Pandanaran#), nama asli Ki Ageng Pandanaran adalah Pangeran Mangkubumi yang hidup pada abad 16. Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Kepala Pemerintahan Semarang pada tanggal 02 Mei 1547, menggantikan ayahandanya bernama Harya Madya Pandan yang menjabat sebagai Bupati pertama Semarang.

Pangeran Mangkubumi dinilai berhasil menjalankan tugasnya sebagai Kepala Pemerintahan. Seiring keberhasilan itu, sikap Pangeran Mangkubumi berubah menjadi pribadi yang sombong dan kikir. Ia gemar mengumpulkan harta untuk bermewah-mewah, tidak lagi merawat pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah yang ada di kawasannya, juga surut dari aktivitas pengajian dan memberikan ceramah agama Islam kepada rakyatnya.

Perilaku buruk Pangeran Mangkubumi alias Ki Ageng Pandanaran ini akhirnya berhasil disadarkan oleh Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi seorang tukang rumput. Maka ia pun menjadi murid Sunan Kalijaga. Sejak menjadi murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran mempunyai kesaktian yang mumpuni. Misalnya, ucapannya bisa menjadi kenyataan.

Salah satu korban kesaktian Ki Ageng Pandanaran adalah kepala perampok bernama Sambangdalan yang wajahnya berubah menjadi mirip domba karena ditegur dengan bentakan “mengapa kamu nekad seperti kambing domba” ketika sang kepala perampok ini beraksi bersama anak buahnya berusaha merebut tongkat istri Ki Ageng Pandanaran. Sambangdalan akhirnya bertobat dan menjadi murid Ki Ageng Pandanaran, dengan nama julukan Syekh Domba.

Bila pemkab Boyolali merayakan HUT Kabupaten Boyolali dengan ziarah ke makam Ki Ageng Pandanaran yang terletak di Klaten, pemkab Klaten tidak melakukan hal yang sama ketika merayakan HUT Kabupaten Klaten ke-208. Mereka justru berziarah ke makam Kyai Mlati dan makam KRT Mangun Negara (bupati Klaten pertama). Hari Jadi Kabupaten Klaten jatuh pada tanggal 28 Juli.

Makam Kyai Mlati terletak di JL. Anggrek, Sekalekan, Klaten. Sedangkan makam KRT Mangun Negara berada di areal pemakaman Panembahan Agung yang terletak di dukuh Kradenan Desa Jimbung kecamatan Kalikotes. Ziarah berlangsung pada hari Selasa tanggal 10 Juli 2012, dipimpin oleh Wakil Bupati Klaten Hj Sri Hartini.

Bagi warga Klaten, sosok Kyai Mlati dan KRT Mangun Negara diposisikan sebagai founding father Kabupaten Klaten, sedangkan ziarah yang dilakukan pemkab Klaten adalah dalam rangka mengenang jasa-jasa mereka.

Sosok bernama KRT Mangun Negara (bupati Klaten pertama) merupakan keturunan ke-10 dari Panembahan Agung. Sedangkan Panembahan Agung merupakan menantu dari Ki Ageng Pandanaran, yang makamnya diziarahi pejabat pemkab Boyolali setiap tahunnya.

Menurut keterangan Dinas Pariwisata Pemkab. Klaten (http://pristality.wordpress.com/2011/01/02/sejarah-dan-asal-usul-kabupaten-klaten/), sosok Kyai Mlati Sekolekan dikenal sebagai seorang yang berbudi luhur dan sakti. Berkat kesaktian Kyai Mlati, daerah sekitar tempat tinggalnya selalu aman dari perampok. Saat ini makam Kyai Mlati dikeramatkan oleh warga sekitar. Bahkan sebatang pohon yang berada di dekat makam Kyai Mlati, juga dikeramatkan. Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian!

Menurut keterangan masyarakat sekitar, para peziarah mendatangi makam Kyai Mlati kebanyakan untuk memanjatkan doa yang dipercaya akan terkabul. Umumnya peziarah adalah orang-orang yang berharap untuk mendapatkan jabatan, agar lulus ujian, mendapat jodoh dan sebagainya. Namun, sebelum memanjatkan doa, peziarah harus melakukan ritual kejawen.

Kebiasaan berziarah yang menjurus kepada bid’ah bahkan berbau syirkiyah ini, ternyata tidak hanya dilakoni oleh pejabat birokrasi sipil, tetapi juga oleh pejabat di dunia pendidikan tinggi, sebagaimana dilakoni oleh Rektor dan segenap pejabat Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Pada hari Senin tanggal 26 Maret 2012 pagi, para pejabat Unnes itu melakukan ziarah ke makam mantan presidium, rektor, pembantu rektor, sesepuh pendidikan, dan leluhur di lingkungan Unnes. Diawali dengan berziarah ke makam Mochtar, mantan Presidium Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Semarang dan mantan Gubernur Jawa Tengah periode 1960-1966. Makam Mochtar berada di pemakaman umum Bergota Semarang.

Prosesi ziarah berlanjut ke sejumlah makam yang dianggap penting yaitu makam Prof Wuryanto, Hari Mulyono (mantan Rektor IKIP Semarang), Moch Umar, Suhartono, L Sumarto, Prof Hartono Kasmadi (mantan PR I IKIP Semarang), Prof Soegijono, Sunu Waluyo, dan Prof Abdul Malik (mantan PR II IKIP Semarang), Prof Humar Sahman, Sriyadi (mantan PR III IKIP Semarang), Prof Satmoko, Prof Sriningsih Satmoko (sesepuh pendidikan), Kyai Telesik, Kyai-Nyai Sekar, dan Kyai Cagak Luas.

Tiga nama terakhir, Kyai Telesik, Kyai-Nyai Sekar dan Kyai Cagak Luas, dipercaya merupakan sosok yang menjadi semacam founding father bagi Desa Sekaran, tempat Unnes berlokasi saat ini.

Praktik ziarah yang menjurus kepada bid’ah bahkan berbau syirkiyah ini, ternyata juga dilakoni oleh pejabat (politisi muda) yang pernah memimpin organisai kepemudaan berbau Islam, seperti Anas Urbaningrum yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 1997-1999, dan kini masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD).

Sebagaimana pernah diberitakan rimanews.com edisi Wed, 08/02/2012 – 09:20 WIB, dikabarkan Anas Urbaningrum sering berziarah ke makam Habib Husen bin Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus, yang terletak di Luar Batang, Jakarta Utara. Menurut Andi Salafi (pengurus Masjid Luar Batang), di bulan Februari 2012, dalam jangka waktu dua pekan terlihat Anas bolak-balik berziarah ke makam tersebut sebanyak lima kali.

Ada yang menduga, hal itu terkait dengan kasus yang dituduhkan kepadanya (kasus suap Wisma Atlet). Kunjungan Anas Urbaningrum, menurut pengamatan pengurus masjid Luar Batang, biasanya berlangsung di atas pukul 01:00 dinihari, dan selalu ditemani oleh dua atau tiga rekannya. Biasanya, kehadiran Anas dan rekan sekitar 30 menit hingga satu jam saja, dan aktivitas utama yang dilakukan Anas dan rekan adalah berzikir dengan mendapat panduan dari pengurus Luar Batang.

Tahun sebelumnya, persisnya pada hari Rabu tanggal 08 Juni 2011 lalu, Anas Urbaningrum dikabarkan melakukan ziarah kubur ke makam Gus Dur (Abdurrahman Wahid) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (https://www.nahimunkar.org/5576/anas-urbaningrum-dan-ziarah-kubur-politis/).

Begitulah sekelumit contoh praktik ziarah kubur ala pejabat kita yang menjurus kepada bid’ah bahkan syirkiyah ini. Praktik ziarah kubur yang mereka lakoni itu, tentunya akan diikuti orang banyak karena dianggap sebagai teladan yang perlu ditiru. Padahal, belum tentu sesuai dengan anjuran ziarah kubur yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ziara kubur itu untuk mengingat akherat, tetapi yang tampak dalam praktek-praktek itu justru sebaliknya. Tidak takut siksa di akherat kelak. Hingga ziarah kubur yang berbau kemusyrikan dengan mempercayai kuburan sebagai tempat keramat dan bahkan kalau meminta kepada isi kubur maka berarti berbuat dosa besar, kemusyrikan; maka mereka itu hanya menambahi dosa saja. Masih pula bila ditiru oleh orang-orang awam maka tambah lagi dosa mereka hingga masyarakat pun merata dalam dosa. Na’udzubillahi min dzalik. Masih tambah dosa pula bila para da’I yang berusaha untuk mengembalikan agar ziarah kubur itu dilakukan secara syar’I, justru dituduh sebagai melarang ziarah kubur. Ziarah kubur tidak dilarang. Yang dilarang itu yang menyelewengkan ziarah kubur, dari bertujuan untuk mengingat akherat dan mendoakan ampunan bagi mayit yang muslim menjadi tujuan yang macam-macam seperti tersebut. Bukannya mengingat akherat dan dahsyatnya siksa jeka, serta bukannya mendoakan ampunan bagi mayit muslim belaka, namun justru sebaliknya, bertujuan untuk agar naik jabatan dan sebagainya, dan meminta kepada isi kubur. Inilah kemusyrikan, dan wajib diberantas walaupun dilakukan oleh orang gedean sekalipun. Karena justru ketika dilakukan oleh orang-orang gedean itu bahayanya lebih besar, lantaran akan ditiru oleh orang-orang banyak. Maka siapa saja yang menganggap bahwa kritik semacam ini pun tidak boleh dilayangkan karena pelakunya adalah pejabat atau pemimpin, berarti mereka lebih membela kemusyrikan pula walau mengaku memberantas kemusyrikan dan menegakkan tauhid dan mengaku bahwa hanya dia yang tahu manhaj dan manhajnya saja yang benar.

(haji/tede/nahimunkar.com)

(nahimunkar.com

(Dibaca 1.732 kali, 1 untuk hari ini)