Ilustrasi hi-in fb


Dosa zina itu tidak sama. Allah berfirman:

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء: 32]

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan). (Al-Isra’: 32)

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } [الفرقان: 68 – 70]

Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak), dan tidak pula berzina; dan sesiapa melakukan yang demikian, akan mendapat balasan dosanya; (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali siapa saja yang bertaubat. (Al-Furqan: 68-70)

{ الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ} [النور: 2]

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum ugama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (An-Nur:2)

Para ulama berkata, “Ini adalah hukuman bagi penzina perempuan dan lelaki yang masih bujang (belum menikah). Jika sudah menikah walaupun sekali, maka hukuman bagi keduanya adalah direjam dengan batu sampai mati. Begitu juga yang dinaskan dalam hadits dari Nabi ﷺ, yaitu  jika hukuman “qishash” ini belum dilaksanakan di dunia dan mereka mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa zina itu nescaya mereka akan diazab di neraka dengan cambuk api.

Dalam kitab Zabur tertulis, “Sesungguhnya para penzina itu akan digantung pada kemaluan mereka di neraka dan akan disiksa dengan cemeti besi. Maka jika mereka menjerit melolong kerana pedihnya pukulan, malaikat Zabaniyah berkata, “Dimana suara ini ketika kamu bergelak ketawa, bersuka ria dan tidak merasa diawasi oleh Allah serta tidak malu kepadanya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah beriman seorang penzina itu ketika berzina. Tidaklah beriman seorang pencuri itu ketika mencuri. Tidaklah beriman seorang yang meneguk arak itu ketika meneguknya. Dan tidaklah beriman orang yang merampas harta yang tinggi nilainya itu ketika merampasnya.” 1

Baginda juga bersabda,

“Apabila seorang hamba berzina akan keluarlah iman darinya. Keimanan itu seperti payung yang ada di atasnya. Kemudian jika ia berhenti dari perbuatan itu maka imannya akan kembali kepadanya.” 2

Baginda juga bersabda, “Barangsiapa berzina atau meminum arak nescaya Allah mencabut keimanan dari dirinya sebagaimana manusia melepaskan baju dari kepalanya.” 3

Juga, “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak akan dilihat serta disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih, seorang tua yang berzina, raja yang berdusta dan orang miskin yang sombong”. 4

Abdullah bin Ma’sud berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah ta’ala? Beliau menjawab, ‘Yaitu  kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu.’ ‘Sungguh itu sangatlah besar. Lalu apa lagi?’, tanyaku kembali. Beliau menjawab. Yaitu  kamu membunuh anakmu kerana takut jika kelak ia makan bersamamu. Lalu apa lagi, tanyaku lagi, Beliau menjawab, Yaitu  kamu berzina dengan kekasih (maksudnya isteri) tetanggamu. Maka Allah menurunkan pembenaran dari sabda beliau itu dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, nescaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali siapa saja yang bertaubat: (Al-Furqan: 68 – 70) 5

Perhatikan, bagaimana Allah telah menyertakan penyebutan zina dengan isteri tetangga dengan menyekutukan Allah dan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya kecuali dengn alasan yang dibenarkan syarak. Hadis ini tercantum dalam Bukhari dan Muslim.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis tidur Nabi ﷺ. yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub. Dalam hadis itu disebutkan bahawa beliau didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Beliau berkata. “Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat semisal `tannur’ bahagian atasnya sempit sedangkan bahagian bawahnya luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut-ribut. Kami menengoknya, ternyata di situ banyak lai-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada di bawahnya mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya. “Wahai Jibril, siapakah mereka?” Jibril menjawab, “Mereka adalah para pezina perempuan dan laki-laki. Itulah azab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat” Semoga Allah melimpahkan ampunan dan kesejahteraan batin bagi kita semua.

Tentang tafsir bahawa Jahannam itu ia memiliki tujuh pintu (Al-Hijr : 44) Atha’ berkata, ‘Pintu yang paling hebat panas dan sengatannya Dan yang paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang berzina setelah mereka tahu keharamannya.” 7

Makhul ad-Dimasyqiy berkata, “Para penghuni neraka mencium bau busuk berkata, `Kami belum pernah mencium bau yang lebih busuk dari bau ini’ Dijelaskan kepada mereka, `Itulah bau kemaluan para pezina” 8

Ibnu Zaid, salah seorang imam dalam bidang tafsir berkata, “Sesungguhnya bau kemaluan para pezina itu benar-benar menyiksa par penghuni neraka.”

Di antara sepuluh ayat yang diperintahkan oleh Allah kepada Musa, “Janganlah kamu mencuri dan jangan pula berzina sehingga Aku menutup wajahKu darimu!” Jika ini merupakan kitab (kalimat) untuk Nabi Allah, Musa, lalu bagaimana dengan yang lainnya?!

Nabi ﷺ. telah bersabda bahawa Iblis menghantar para tenteranya ke serata muka bumi, dan berkata “Siapa di antara kamu yang menyesatkan seorang muslim akan aku pakaikan sebuah mahkota di kepalanya. Siapa yang paling besar fitnahnya paling dekatlah kedudukannya di sisiku. Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si fulan sampai ia ingin menceraikan isterinya.” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab pasti nanti ia menikah lagi dengan yang lain.” Tentera yang lain menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si fulan sampai aku berhasil menanamkan permusuhan antara ia dan saudaranya,” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab suatu masa dia pasti berdamai lagi.” Tentera yang lain menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si fulan sampai dia berzina. “ Iblis berkata, “Wah, bagus sekali itu.” Lalu Iblis mendekatkan tenteranya itu kepadanya dan meletakkan mahkota di atas kepalanya. 10

Kita berlindung kepada Allah dari keburukan syaitan dan tentara-tentaranya.

Dari Anas, Rasulullah ﷺ. bersabda, “Sesungguhnya iman itu “sirbal” kain panjang yang dipakaikan oleh Allah kepada sesiapa yang Dia kehendaki. Apabila seorang hamba berzina maka Allah mencabut “sirbal” itu darinya. Jika bertaubat, Dia akan mengembalikannya.” 11

Diriwayatkan bahawa Nabi ﷺ. bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Islam, takutlah kamu dari (melakukan) zina. Sungguh padanya ada enam ancaman: tiga di dunia dan tiga di akhirat. Yang di dunia adalah hillangnya seri wajah, pendeknya umur, dan kefakiran yang berpanjangan. Adapun yang di akhirat adalah kemurkaan Allah tabaraka wa ta’ala, buruknya hisab, dan azab neraka” 12

Baginda juga bersabda:

“Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berhenti minum arak, nescaya Allah ta’ala akan memberinya minum air sungai Ghuthah, Yaitu  sungai di neraka yang bersumber dari kemaluan para pelacur (wanita-wanita penzina)” 13

Begitulah, di neraka kelak akan mengalir dari kemaluan mereka nanah dan darah busuk lalu itu semua akan diberi minum kepada orang yang mati dalam keadaan `mushirr’, yaitu  terus menerus dan tidak berhenti dari minum arak.

Rasulullah ﷺ. bersabda. “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah dari pada `setitis air’ yang dituangkan oleh seorang lelaki ke kemaluan yang tidak dihalalkan baginya”. 14

Rasulullah ﷺ juga bersabda. “Di Jahannam ada sebuah lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta. Ular-ular ini akan mematuk orang yang meninggalkan solat dan bisanya akan memasuki dalam tubuhnya selama 70 tahun. Lalu berguguranlah daging-dagingnya. Di sana juga ada lembah yang namanya Jubb al-Huzn. Ia dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkingnya sebesar baghal (peranakan kuda dan keldai). Ia memiliki 70 sengat. Masing-masingnya memiliki kantung bisa. Ia akan menyegat penzina dan memasukkan isi kantung bisanya ke dalam tubuh pezina itu. Ia akan merasakan pedih sakitnya selama 1000 tahun. Lalu berguguranlah deging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk. 15

Zina yang paling besar dosanya adalah berzina dengan ibu, saudara kandung, ibu tiri, dan semua wanita yang termasuk mahram. Hakim telah menyatakan kesahihan hadis yang berbunyi, “Barangsiapa berzina dengan wanita yang masih mahramnya maka bunuhlah dia.” 16

Sahabat Bara’ meriwayatkan bahawa bapa saudaranya (saudara ibu) telah diutus oleh Rasulullah ﷺ. untuk menemui seseorang yang telah berzina dengan ibu tirinya. Dia diperintahkan untuk membunuhnya dan menjadikan hartanya sebagai ghanimah. 17

Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemberi agar mengampuni semua dosa-dosa kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.


Rujukan:

1. Sahih.Diriwayatkan oleh Ahmad (2/276), Al-Bukhari (2475,6772,6810), Muslim(57), Abu Awanah (1/19.20), Abu Daud (4689), At-tirmidzi (2625), An-Nasa’I (8/313), dan Ibnu Majah (3936) dan Abu Hurairah

2. Sahih. Diriwayatkan Oleh Abu Daud (4690), Al-Hakimi (1/22), dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (4979) dari Abu Hurairah. Dan disahihkan oleh Asy-Syaikh dalam Ash-Sahih (509) dan Sahih Al-Jami’ (586).

3. Dha’if. Diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/22), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (4981), dan Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa (hal:154). Dan didhaifkan oleh Asy-Syaikh dalam Adh-Dhai’ifah (1274). Sedangkan hadits dari Abu Hurairah.

4. Sahih. Diriwayatkan oeleh Muslim (107), An-Nasa’i (5/86), dan Ibnu Mandah (620) dari Abu Hurairah.

5. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan lafaz ini (1/380-431), An-Nasa’i dalam At-Tafsir (388) dan As-Sunan (7/90) dan Ibnu Hibban (4414) dengan isnad sahih dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4477), (6811), (7520). Muslim (86), At-Tirmizi (3183), An-Nasa’i (7/90), At-Tafsir (389) Ibnu Hibban (4415), dan Ahmad (1/434) tanpa menyebut ayat ini.

6. Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1386,7047), Ibnu Hibban (655), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (6984,6986,6990), dan Ahmad (5/819) dalam hadits panjang dari Samurah.

7. As-Suyuthi berkata dalam Ad-Durr (4/186) diriwayatkan oleh Abu Nu’am dan Atha Al-Khurasan, kekuatan dari jalur periwayatannya diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa (hal. 157) dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi (hal: 157) dari jalur yang lain.

8. Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa (hal: 155, 156) dan Makhul dan dia memarfu’kannya sedangkan isnadnya mu’dhal

9. Diriwayatkan oleh Al-Kharaithi dalam Masawi’ul Akhlaq (475) dari Ali dengan lafaz yang panjang.

10. Diriwayatkan oleh Abu-Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (8/128) dari jalur Ibrahim bin Al-Asy’ats (berkata) telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Iyadh dan Atha bin Saib dan Abu Abdurrahman As-Sulami dari Abu Musa secara marfu’ sedangkan isnadnya dhaif. Dan diriwayatkan oleh Muslim dan Abd bin Humaid (1033) dan Ahmad (3/314) dari Jabir dengan lafaz selain ini.

11. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (4981) dan Ibnu Jauzi dalam Dzammul Hawaa (hal:154) dan di dhaifkan oleh Asy-Syaikh dalam Adh-Dhaifah (1274) dan Dhaif Al-Jami’ (1421)

12. Hadits wahin (lemah) diriwayatkan oleh Ibnu Adi (6 317), Al-Kharaithi dalam Al-Masawi’ (1476) Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (1/84) dan Abu Nuaim (4 111. Dan dari jalur tersebut Ibnu Jauzi dalam Al-Maudhuat (3/107) dan dalam Dzammul Hawa (155) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syuab (5091) dari jalur Maslamah bin Al-A-Khasyin dan Al-Amasy dari Khuzaifah bin Yaman secara marfu’ sedangkan Maslamah itu dhaif sekali dan munkarul hadits matruk.

13. Dhaif. Diriwayatkan oleh Ahmad (4,399) Ibnu Hibban (5346) dan Al-Hakim (4/146) dari jalur Al-Fudhail bin Maisarah dari Abu Hariz bahawa Abu Burdah bercerita kepadanya dari Abu Musa kemudian ia menyebutkan dengan lafal tsalatsatun la yadkhulunal jannah ah-hadits Al-Hakim berkata “Isnadnya sahih dan disepakat oleh Adz-Dzahab”. Namun tidak seperti perkataan keduanya kerana Abu Hariz yang mempunyai nama Abdullah bin Al-Husain Al-Azd masih ada bertentangan tentangnya. Sejumlah ulama mendhaifkannya sedang sebahagian yang lain menghasankan hadits-haditsnya. Al-Hafizh berkata Shaduq Yukhthiu – (jujur namun sering salah; maksudnya dia dhaif bila meriwayatkan sendirian. Ibnu Adly berkata, “Kebanyakan apa yang diriwayatkannya tidak dikuti oleh seorang pun” Lihat kembali Dhaif Al-Jami’ (2597).

14. Mursal Dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa (hal: 154) dari jalur Ibnu Abi Dunya. Dia berkata: Ammar bin Nasr bercerita kepada kami dia berkata Baqiyan bercerita kepada kami dari Abu Bakr bin Abi Maryam dan Al-Haitsam in Malik Atn-Tnai secara marfu’. Dan sanadnya mursal kerana Al-Haitsam adalah seorang tabi’in sedangkan Abu Bakr dha’if.Lihat Adh-Dha’ifah (1580)

15. Dhaif. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/191) dan Al-Haitsam dalam Al-Majma’ (10/392) menisbatkannya kepada Ath-Thabrani dan Ahmad berkata. “Di dalamya terdapat sekelompok perawi yang dinilai ulama sebagai tsiqat’. “Saya katakan: `Isnadnya dhaif’. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mubaraka di dalam Zawad Az-Zuhd(336) dan dari jalur ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Washf An-Nar(37) secara mauquf dan Syafi bin Man Al-Ashbuni dan dalam sanadnya terdapat kedhaifan. Huwallahu Alam.

16 Dhaif. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (9350) dan Al-Kabir (11565), Al-Hakim (4/356) dan Al-Baihaqi (8/237) dari jalur Ibrahim bin Ismail bin Abu Habibah bahawa Dawud bin Al-Hushain bercerita kepadaku dan Ikrimah dari Ibnu Abbas secara marfu’ Dan Al-Hakim berkata “Isnadnya sahih” Sedangkan Adz-Zahabi berkata “Tidak!” Lalu kukatakan, “Ibrahim itu dha’if sedangkan Dawud masih diperselisihkan. Yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Al-Madini. “Riwayatnya dari Ikrimah adalah dha’if”. Dan hadis ini dari Ikrimah maka hadis ini pun dha’if. Huwallahu A’lam.

17 Sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/292,297). Abu Daud (4456), An-Nasa’i (6/109), At-Tirmidzi (1373). Ibnu Majah (2607), Ad-Darimi (2245), Ibnu Hibban (1516) Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (3404, 3405, 3406) Al-Hakim (2/191), Al-Baihaqi (8/208) dan Al-Kharaithi (566).

Sumber : darulkautsar.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 275 kali, 1 untuk hari ini)