Oleh : Dr. Slamet Muliono

(Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban))

Membanjirnya hadiah yang dialami Lalu Muhammad Zohri merupakan fenomena unik bila dibandingkan dengan sepinya hadiah yang diterima oleh Musa dan Rifdah. Keduanya mengharumkan nama bangsa dan negara di kancah internasional. Namun pemuda kelahiran Lombok Utara lebih beruntung daripada yang diterima oleh Musa dan Rifdah. Zohri yang berhasil menjadi juara lari 100 meter di kejuaraan lari cepat internasional di Finlandia 11 Juli 2018, secara bertubi-tubi memperoleh hadiah mulai dari presiden, menteri, bupati, hingga jajaran pimpinan tingkat bawah, sementara Musa dan Wifdah yang juara Hafidz Qur’an, cukup dengan ucapan kekaguman dan tidak ada bentuk penghargaan sebagaimana yang dialami oleh Zohri.

Banjir Hadiah dan Sekedar Ucapan Selamat

Di tengah gegap gempita piala dunia di Rusia, Lalu Muhaamad Zohri, pemuda yang asli Lombok Utara berhasil menjuarai lomba lari cepat (sprint) 100 meter. Dia berhasil menyingkirkan lawan-lawannya dengan mencapai garis finish dengan kecepatan 10.18 detik. Atas prestasi ini, dia memperoleh banjir hadiah dari berbagai pihak. Pertama, renovasi rumah dari presiden. Presiden Jokowi memerintahkan kepada menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk membangun rumah Zohri yang berbilik bambu. Kedua, tawaran menjadi anggota TNI AD dengan jalur khusus. Pihak tentara memberi tawaran kepada pemuda ini untuk menjadi anggota TNI AD tanpa harus mengikuti tes. Ketiga, hadiah uang tunai dari Menpora. Zohri akan menerima hadiah uang tunai senilai 250 juta dari menteri pemuda dan olahraga, yang akan diberikan saat turun di Bandara Jakarta.

Keempat, mengabadikan namanya untuk lapangan atletik. Tawaran ini berasal dari Pemkab Lombok karena Zohri menorehkan sejarah emas yang membanggakan warga Lombok sehingga namanya layak diabadikan. Hal ini dikatakan oleh Bupati Lombok Utama, Najmul Ahyar. Kelima, pemberian fasilitas penerangan dan sertifikat rumah. Atas prestasi itu, pihak PLN akan memasang lampu untuk jalan, sehingga akan membantu masyarakat dalam mengakses listrik. Sementara dari BPN akan memberi sertifikat rumah sendiri kepada keluarga Zohri.

Hal ini berbeda dengan apa yang dialami oleh warga masyarakat lain yang memiliki prestasi yang tidak kalah hebatnya. Salah satu contoh adalah prestasi yang diraih oleh Musa, sang Hafidz cilik. Anak berusia 5,5 tahun ini telah hafal Al-Qur’an dan menjadi juara pertama hafidz Qur’an di tahun 2014. Bahkan prestasi itu semakin melambung di kancah internasional dimana dia berhasil menjadi juara ketiga di Sharm El-Sheikh, Mesir. Dia menjadi salah satu dari 80 peserta yang berasal dari 60 negara. Atas prestasi itu, presiden Jokowi hanya memberi uacapan selamat dan bangga atas prestasi Musa bin Laode itu.

Hal yang sama juga terjadi pada Rifdah Farnidah, 22 tahun, yang berhasil menjuarai lomba MHQ di Yordania dengan meraih juara II. Prestasi Rifdah hanya rame di media sosial dan tidak ada gegap gempita apalagi banjir hadiah. Beruntung dia diundang oleh gubernur DKI, Anies Baswedan ke balai kota. Pada acara itu, Anies mengundang Syaikh Khalid al-Hamoudi, yang kemudian memfasilitasi ibu dan bapak Rifdah, serta dosen pembimbing Al-Qur’annya dan suaminya untuk berangkat haji. Bahkan Syaikh Khalid yang memiliki dua anak perempuan itu mengangkat Rifdah, perempuan kelahiran Smedang Jawa Barat itu, menjadi anak angkatnya.

Ketimpangan Spirit Keagamaan

Fenomena gegap gempita dan banjirnya hadiah bagi Zohri dan sepi senyapnya Musa dan Rifdah menunjukkan ketimpangan pejabat kita dalam merespon prestasi dua anak bangsa yang meraih prestasi yang sama-sama mengharumkan nama bangsa dan negara. Fenomena timpang itu menunjukkan perbedaan dalam memandang prestasi anak bangsa, apa yang diraih Zohri harus lebih diutamakan daripada yang dialami oleh Musa dan Rifdah. Seolah-olah menunjukkan bahwa elite bangsa ini sedang mengejar prestasi dan kagum terhadap prestasi yang bernuansa duniawi daripada prestasi yang bernuansa agama dan ukhrowi.

Apa yang dilakukan Zohri dan Musa-Rifdah sama-sama mengharumkan nama bangsa tetapi yang pertama memperoleh perlakuan yang berbeda dan istimewa. Betapa tidak, mulai dari presiden, menteri, bupati, hingga pejabat dari berebut memberi hadiah bagi pelari cepat itu, sementara elite-elite itu tidak bergerak untuk menyambut Musa dan Rifdah yang sama-sama mengharumkan nama bangsa.

Dengan memberi hadiah dan fasilitas kepada Zohri maka diharapkan akan muncul atlet-atlet baru yang mengukir prestasi sebagaimana yang ditorehkan oleh Zohri. Tetapi tidak demikian bagi Musa dan Rifdah. Seolah dengan hadiah haji atau umroh bagi keduanya sudah cukup. Padahal dari sisi finansial, Musa dan Rifdah juga pantas untuk diberi hadiah sebagaimana yang diterimakan pada Zohri.

Bukankah yang memberi hadiah kepada Musa dan Rifdah akan memperoleh dua kebaikan sekaligus. Kebaikan duniawi, dimana sang pemberi hadiah akan memperoleh kebaikan (disebut-sebut namanya di masyarakat, kalau itu motifnya). Sementara kebaikan lain yang tidak kalah besarnya adalah masyarakat akan mengikuti apa yang dilakukan Musa dan Rifdah dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Bukankah orang yang memudahkan jalan kebaikan, khususnya di jalan Allah, akan memperoleh balasan sebagaimana yang diterima oleh pelakunya.

Mudah-mudahan perlakuan yang berbeda terhadap dua anak bangsa itu hanya menunjukkan ketidaktahuan para pemegang kekuasaan, bukan karena diskriminasi terhadap prestasi anak bangsa.  Apabila karena diskriminasi, jangan salahkan apabila generasi bangsa ini hanya akan mementingkan unsur duniawi dan menyingkirkan jalan ukhrawi.

Surabaya, 17 Juli 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.073 kali, 1 untuk hari ini)